Adie Prasetyo

Because History Must be Written

EDWARD SAID: MENAFSIR ULANG HUBUNGAN BARAT DAN TIMUR

Posted by Ndaru Nusantara pada 6 Juni 2010

Gelombang zaman berjalan begitu cepat. Terkadang, kita tak sanggup melawan arus deras gelombang itu, bahkan untuk mengikutinya sekalipun. Zaman selalu berisi derap langkah manusia dengan beragam pikiran dan mimpi. Sebuah kehidupan yang selalu meninggalkan jejak langkah, baik yang tersirat dan tersurat, ataupun yang tersembunyi. Jejak langkah yang selalu meninggalkan kesan, pesan dan perjuangan. Sebab, dari situlah kita akan mewarisi berjuta-juta inspirasi. Tentu, agar selalu tersirat dan tersurat, jejak langkah kehidupan seseorang harus ditulis. Namun, menulis episode kehidupan seseorang, yang di dalamnya berisi asal-usul diri, pemikiran, perjuangan serta mimpi-mimpi, merupakan pekerjaan besar yang penuh tanggung jawab. Apalagi, jika seseorang tersebut adalah tokoh besar, ilmuwan tersohor, ataupun aktifis ternama. Maka, yang diperlukan dalam hal ini tentu bukan hanya menulis, tapi juga berusaha menghidupkan kembali alam pemikirannya, mengobarkan kembali semangat perjuangannya, serta meneruskan mimpi-mimpinya. Salah seorang ilmuan-aktifis yang patut ditulis adalah Edward W. Said. Seorang yang mengalami kehidupan penuh liku, tanya dan keterasingan. Selanjutnya

Edward Said dan Keterasingannya
Edward William Said, demikian nama lengkapnya, dilahirkan di Jeruslaem, 1 Nopember 1935 dan meninggal pada 23 September 2003. Ibunya bernama Hilda, seorang Palestina kelahiran Nazareth. Sedang Ayahnya, Wadie Said adalah orang Amerika Serikat kelahiran Jerusalem.

Said memulai pendidikan formalnya di GPS (Gezira Preparatory School) di Lebanon. Sedangkan pendidikan rohaninya ia dapatkan di Gereja All Saints’ Cathedral. Pada masa kecil dan remajanya, Said dikenal sebagai anak yang biasa-biasa saja. Tapi dia suka membaca, menyukai puisi, dan gemar menonton film. Selepas lulus dari GPS, Said melanjutkan sekolah di Cairo School for American Children (CSAC). Kemudian, pada 1951 Said meninggalkan Mesir untuk melanjutkan pendidikan di sekolah tinggi Victoria College. Di sekolah ini, Said mulai rajin menulis dan pergi ke perpustakaan. Tulisan pertamanya, On Lighting a Match (1952) mendapat pujian dari dosennya.

Setelah lulus dari CSAC, Said melanjutkan pendidikannya di Princenton University (1953). Di kampus inilah karakter Said mulai terbentuk. Kegiatan membaca, menulis dan berpidato dijadikan benteng untuk melindungi dirinya dari pengaruh buruk lingkungan sosial Princenton. Sebab, saat itu sebagian besar mahasiswa Princenton lebih suka berkumpul membuat club-club dan berhura-hura (Out of Place, hal: 438). Said menulis kolom pertamanya di koran mahasiswa Princenton tentang pencaplokan Terusan Suez dalam perspektif Arab. Bermula dari tulisan yang sangat berani itu, Said semakin leluasa mempelajari relasi antara sastra, politik, agama dan kekuasaan.

Ketekunan Said dalam mempelajari kebudayaan dan politik itu, bukan hanya karena jurusan sastra yang ia ambil. Melainkan, juga karena didasarkan atas pengalaman pribadinya dalam melihat konflik, ketidakadilan, penindasan dan imperalisme-kolonialisme. Ketidakadilan yang tak hanya melintas dalam bidang ekonomi-politik, tapi juga menukik di ruang budaya dan pengetahuan. Said sadar, bahwa ada ketimpangan ketika negara penjajah menulis tentang daerah jajahannya. Negeri tertindas akan mengalami ketidakadilan dan kekacauan sejarah. Dari mutiara keringat dan refleksi kritis itu, Said berhasil menemukan satu bidang ilmu yakni Orientalism. Pemikiran tentang orientalisme ia tuangkan di dalam bukunya berjudul Orientalism (1978). Buku tersebut berusaha melacak berbagai tahapan hubungan dari invansi Napoleon atas Mesir, melalui periode kolonial utama dan kebangkitan ilmu pengetahuan dari orang-orang Asia modern di Eropa abad 19. Kemudian, dijelaskan pula hegemoni imperialisme Inggris dan Perancis di Asia setelah Perang Dunia II dan pemunculan dominasi Amerika Serikat di mana-mana. Tema utama dari buku ini dipengaruhi oleh pemikiran Antonio Gramsci, tentang afiliasi antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan.

Pengalaman-pengalaman hidup Said yang menakjubkan itu dapat kita baca melalui bukunya, Out of Place (1999). Buku ini merupakan memoar pribadi, yang ditulis saat ia menderita penyakit leukemia. Kendati tidak menceritakan secara keseluruhan rekam jejak hidupnya, buku ini cukup memberikan informasi kepada kita tentang asal-usul, kehidupan pribadi, pendidikan, perkembangan intelektual, serta percikan-percikan pemikirannya. Dalam buku setebal 488 lembar ini, Said mengawali tulisannya dengan sebuah refleksi atas tragedi dan keterasingan dirinya terhadap asal-usul nama, bahasa, lingkungan, dan tempat tinggal keluarganya yang selalu berpindah-pindah. Buku ini menjadi saksi betapa tragedi dan keterasingan sangat akrab dengan nafas hidup Said. Berbagai penghinaan, penindasan dan kondisi mencekam akibat perang, menjadi ingatan yang menembus alam bawah sadarnya. Said harus menggerakkan ingatan masa kecil hingga dewasanya untuk menuliskan karya ini.

Hampir sepanjang hidupnya, Said mengaku selalu memikirkan perasaan jengah terhadap banyaknya identitas dirinya yang nyaris selalu ’bertentangan.’ Said terjepit di antara dua alternatif dan pilihan yang selalu membayangi hidupnya. Yaitu antara Arab, Inggris, Amerika, Muslim, Protestan, Barat, dan Timur. Dari pengalaman pribadinya itulah, ’penyakit’ tersebut justru membantu untuk mengungkap kontradiksi-kontradiksi, yaitu antara Barat dan Timur, tentang agama, penjajahan, kemanusiaan, dan kemerdekaan.

Selain itu, Said juga menulis hampir tanpa henti di media Barat dan Arab mengenai perampasan hak-hak rakyat Palestina oleh Israel. Sekurang-kurangnya dua buku penting telah ia tulis mengenai pokok soal ini, yakni The Question of Palestine dan The Politics of Dispossession. Buku The Question of Palestine (1979) yang merupakan buku keduanya, menyajikan riwayat perjuangan dari penduduk asil Arabm sebagian besar penduduk Muslim Palestina dan gerakan Zionis (di Israel), yang sumber dan metode pengikatannya dengan realitas ”Oriental” Palestina sebagian besar adalah produk Barat. Di dalam buku ini Said berusaha menggambarkan apa yang telah disembunyikan di bawah permukaan pandangan Barat terhadap orang-orang Asia dalam kasus ini, perjuangan nasional orang-orang Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri. Kemudian di dalam bukunya yang ketiga, Covering Islam (1981), Said berusaha membongkar hubungan Barat (khususnya Amerika) terhadap Islam sejak awal 1970-an. Di samping itu, Said juga menulis puluhan kolom dan artikel di koran dan majalah. Pandangannya tentang masalah Palestina kerap kali tidak cocok dengan para pemimpin Palestina sendiri, termasuk Yasser Arafat. Ketika Perjanjian Oslo ditandatangani pada tahun 1993, Said putus hubungan dengan Arafat dan mengkritik pemimpin PLO ini dengan tajam. Perjanjian itu dianggapnya telah mengingkari hak para pengungsi Palestina untuk kembali.

Karya dan Pemikiran Said
Said adalah penulis yang produktif. Ia dikenal sebagai ahli sastra bandingan (comparative literature) di Colombia University. Sebagian besar buku-bukunya berkaitan dengan masalah Timur Tengah, semisal Orientalism (1978), The Question of Palestine (1979), Covering Islam: How the Media and the Experts Determine How We See the Rest of the World (1981), The Politics of Dispossession (1994), dan Peace and Its Discontents: Essays on Palestine in the Middle East Peace Process (1995). Sedang buku-buku Said lainnya adalah The World, the Text, and the Critic (1983), Nationalism, Colonialism, and Literature: Yeats and Decolonization (1988), Musical Elaborations (1991), dan Culture and Imperialism (1993), dan memoar pribadinya yaitu Out of Place (1999).

Baru beberapa bukunya yang telah diindonesiakan. Pada 1984, sekitar 6 tahun sejak kemunculan Orientalism, penerbit Pustaka di Bandung meluncurkan versi Indonesia dari buku tersebut, hasil terjemahan Asep Hikmat. Hingga kini, buku terjemahan itu telah beberapa kali dicetak ulang. Buku-buku karya Said yang telah diIndonesiakan antara lain Kebudayaan dan Kekuasaan (Mizan, 1995), Covering Islam (Jendela, 2002) dan Out of Place (Jendela, 2002). Ada juga versi Indonesia dari kumpulan ceramah Said di Radio BBC yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (1998) berjudul Peran Intelektual.

Magnum Opus Edward Said
Untuk membaca pikiran dan gagasan Said, kita dapat memahaminya melalui buku Orientalism (1978). Konon, buku ini menjadi master piece Edward Said yang pernah mengundang perdebatan di kalangan akademisi dan intelektual pada era 1970-an. Dalam buku ini, Said berusaha memaparkan analisis terhadap karya-karya sastra negara-negara orientalis seperti Inggris, Perancis, dan Amerika yang cenderung memojokkan (hegemonik) terhadap negara lain (Timur-Islam).

Lalu, apa sebenarnya orientalisme itu? Dalam Oxford: Concise Dictionary of Politics (1996), dijelaskan bahwa orientalisme adalah:
“from orient and oriental as description of the East, etymologically from ‘[the sun]’ rising. Brought into recent political vocabulary through Orientalism, a study of history, literature and art in Europe by Edward Said. Said argues that he imperialist Europe constructed the Orient as the ‘other’ in order that it might define itself. Orientalism thus becomes an ideology that allows West to centre itself in relation to the East, to create its own myth that legitimazed its occupation of countries that were labelled Oriental. This was done, according to Said, by creating a consensus about the ‘other’, the Oriental nations, that encompassed not only the Western world but also the elites of those nations. Western education, literature, and art became dominant because of the economic and political dominance of the imperialist countries. Power, the lack thereof, therefore, lies at the heart of the Orientalist discourse and allows the cretion of the consensus that is critical to the maintenance of dominance. Said, emphesizes that orientalist discourses are not a thing of the past, and that they imbue the political vocabulary that we us today in our understandings of the nations of the Third world.”

(Orientalisme berasal dari kata orient dan oriental sebagai penjelasan tentang Timur. Secara etimologi, berarti “matahari terbit.’ Kemudian masuk dalam kosa kata politik melalui orientalisme, yakni sebuah kajian tentang sejarah, sastra dan seni di Eropa yang dipelopori oleh Edward Said. Ia berpendapat bahwa penjajah Eropa memandang Timur sebagai ‘yang lain,’ dalam menjelaskan dirinya. Orientalisme kemudian menjadi ideologi yang menjadikan Barat sebagai pusat dalam relasinya dengan Timur. Hal ini dilakukan untuk menciptakan mitosnya sendiri guna mengesahkan pendudukan negara-negara yang disebut ‘oriental.’ Menurut Said, hal ini berlangsung dengan terciptanya kesepakatan tentang yang ‘lain,’ yakni negara-negara oriental, yang tidak hanya meliputi dunia Barat tetapi juga para pemimpin negara-negara tersebut. Pendidikan, sastra dan seni Barat menjadi dominan karena dominasi ekonomi dan politik oleh negara-negara imperialis. Kekuasaan kemudian berkelindan dalam bahasan utama wacana orientalis yang meneguhkan konsensus terpenting dalam mempertahankan dominasi. Said menjabarkan wacana orientalis bukanlah tentang masa lalu. Ia memperkaya kosa kata politik yang kita gunakan saat ini dalam pengertian kita tentang negara dunia Ketiga).

Menurut Said, sejak zaman klasik, dunia Timur memang sudah menjadi tempat yang penuh romansa, pemandangan yang eksotik, kekayaan alam yang subur, dan tradisi yang mistik. Hal inilah yang kemudian mengundang hasrat orang-orang Barat untuk mempelajari dunia Timur. Dalam perkembangannya, kajian tentang ketimuran ini lalu berubah menjadi kolonialisasi dan hegemonisasi. Kesuksesan agenda kolonialisasi ini terletak pada berjalannya seluruh pengalaman sosial, kebudayaan, dan individu pada sirkulasi serta pola kekuasaan yang berlaku. Hegemoni menaturalisasi apa yang secara historis dinamakan ideologi kelas dan membawanya pada bentuk-bentuk yang bersifat common sense. Hasilnya, kekuasaan dapat dijalankan tidak sebagai kekuasaan konvensional, tapi sebagai sebuah otoritas.

Dalam pandangan Said, seperti yang dikutip Mulyadi J. Amalik (2001), Timur bukanlah kenyataan alam yang asli. Seperti (istilah) Barat, Timur tidak ada dan tidak hadir begitu saja. Dari observasinya, ia mengatakan bahwa sejarah dikonstruksi oleh tangan manusia berdasarkan hal-hal yang telah diperbuatnya. Jika asumsi ini diterapkan dalam dalam geografi, kita bisa mengatakan bahwa Barat-Timur tersebut sengaja diciptakan manusia.

Begitu besarnya perhatian Barat—lewat hegemoni kulturalnya—terhadap Timur, sampai-sampai menurut hasil penelitian Said, telah ditemukan tidak kurang dari 60.000 buku tentang Timur Dekat yang ditulis oleh pihak Barat dalam kurun waktu antara tahun 1800-1950. Kenyataan ini sama sekali tidak diimbangi oleh pihak Islam (Timur) untuk juga mengkaji peradaban dan warisan kultural Barat yang sekarang tak tersentuh. Menurut Said, hal demikian disebabkan karena dunia Timur masih menempatkan teks sebagai penglima kehidupan (The World, the Text, and the Critic, 1983). Orang-orang Timur, lanjut Said, masih berpusing-pusing dengan teks dengan segala macam persoalannya dibandingkan kerja untuk menafsirkan teks agar selaras dengan zaman.

Padahal, jika ditelusuri dalam rentang sejarah peradaban Islam, menurut catatan Hassan Hanafi, dunia Islam pernah mengalami masa kejayaan disbanding dunia Barat yang saat itu masih berada dalam ‘dunia kegelapan.’ Sejarah telah mencatat era kecemerlangan dunia Timur khususnya peradaban Islam, bahkan peradaban keilmuan Barat berhutang budi dengan peradaban keilmuan Islam. Namun, ketika bangsa Barat mulai bangkit dari keterbelakangan mereka (renaissance), dunia Islam mulai keropos dan kemudian terus terpuruk disebabkan pemimpin-pemimpin Islam yang lemah, setelah peradaban islam dihancur-ludeskan oleh pasukan Tartar (bangsa Mongol). Maka Barat semakin menunjukkan kejayaannya dan terus berkembang hingga abad ini. Dari sini muncul tokoh-tokoh oreantalis (pengkaji peradaban ketimuran) yang dengan seiring perjalanan waktu telah berubah menjadi suatu kajian yang bukan hanya mempelajari keilmuan peradaban timur tapi semua yang terkait dengan ketimuran termasuk bagaimana cara menguasai dunia timur (Islam) dan penjajahan.

Singkatnya, Said memandang orientalisme itu selalu terkait dengan tiga fenomena. Pertama, orientalis adalah orang yang mengajarkan, menulis, dan meneliti Timur, baik orang yang bersangkutan ahli antropologi, sosiologi, sejarah, maupun filologi, baik dari segi umum maupun khusus, dengan mengklaim bahwa dirinya memiliki pengetahuan dan memahami kebutuhan-kebutuhan Timur. Kedua, orientalisme ialah gaya berpikir yang mendasarkan pembedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara Timur (the orient) dan (hampir selalu) Barat (the occident). Dan ketiga, orientalisme dapat didiskusikan dan dianalisis sebagai institusi yang berbadan hukum untuk menghadapi Timur, berkepentingan membuat pernyataan tentang Timur, membenarkan pandangan-pandangan tentang Timur, mendeskripsikannya, memposisikannya, dan kemudian menguasainya. Dengan kalimat lain, orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi, merestrukturisasi, dan menguasai Timur.

Pisau analisis tersebut dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena kolonialisme di berbagai negara, khususnya di Indonesia. Jika kajian orientalisme ditarik ke dalam konteks Indonesia, akan ditemukan bahwa ia pernah dijadikan sebagai instrumen penjajahan Belanda melalui tangan C. Snouck Hurgronje (1857-1939). Hurgronje tercatat melakukan penelitian atau lebih tepatnya penyelidikan di Aceh selama lima tahun (1898-1903) untuk “menundukkan” Aceh dan umat Islam Indonesia secara keseluruhan.
Kemudian dalam hubungannya dengan Islam, kebencian sejumlah orientalis terhadap Islam tercermin dalam diri Montgomery Watt. Watt sebagai orientalis yang meski tidak secara kentara, menggambarkan Muhammad secara negatif. Kita bisa mengetahuinya dari tulisannya yang berjudul Muhammad Prophet and Statesman. Dalam tulisannya, ia berusaha menegaskan bahwa Alquran merupakan karya atau minimal ada intervensi Muhammad dengan menampilkan sosok istimewa agama Islam sebagai manusia yang dapat membaca. Bagian lain bukunya berupa kisah Muhammad yang ditampilkan sebagai pusat Islam, Watt menyebutnya tidak sebagai Islam tetapi ’Muhammadisme.’

Kendati telah tiada, buku-buku Said menjadi pena emas yang selalu dijadikan rujukan banyak orang. Ia akan selalu dicatat oleh zaman karena berhasil menemukan satu bidang ilmu atau teori (orientalisme), sekaligus memperjuangkan kemanusiaan yang beradab. Di atas segalanya, melalui karya-karyanya, Said bermaksud merekomendasikan kepada kita semua, baik Barat maupun Timur untuk membangun hubungan yang baik demi kedamaian dunia. Dan, globalisasi telah memberi ruang yang lebar bagi proyek pembangunan dunia yang berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, bukan pada tendensi saling menyerang dan saling menjatuhkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: