Adie Prasetyo

Because History Must be Written

TAFSIR ALQURAN MAHMUD YUNUS


Mahmud Yunus adalah tokoh yang melampaui zamannya. Pikiran dan gagasannya menerobos tradisi keilmuan dan menjulang ke langit masa depan. Yunus juga dikenal sebagai pribadi yang santun, kerja keras, taat kepada orang tua, serta menghargai guru, teman dan kolega. Itulah sekelumit kesan yang timbul di pikiranku saat membaca lembar demi lembar sejarah seorang pemikir dan pegiat pendidikan Mahmud Yunus.

Dilahirkan di Sungkayang Batusangkar, Sumetera Barat pada 10 Februari 1899, sejak kecil Yunus sudah memperlihatkan tanda-tanda kecerdasan. Ayahnya bernama Yunus bin Incek dan ibunya bernama Hafsoh bini M. Tahir. Kemudian jika dilacak genealogi keluarganya, buyut Yunus dari pihak ibu adalah seorang ulama besar di Sungkayang Batu Sangkar, bernama Muhammad Ali dengan gelar Angku Kolo.

Hampir sama dengan anak-anak keluarga lainnya, Yunus memulai pendidikannya dengan belajar Alquran dan bahasa Arab, yang langsung ia peroleh dari kakeknya. Di samping mendapat pendidikan agama, Yunus juga pernah mencecapi pendidikan sekuler, yakni di Sekolah Desa pada tahun 1908. Tahun pertama Sekolah Desa ia selesaikan hanya dalam masa 4 (empat) bulan, karena ia memperoleh penghargaan untuk dinaikkan ke kelas berikutnya. Bahkan, di kelas tiga ia tetap bertahan dengan nilai tertinggi di antara teman-teman sekelasnya. Pendidikan di Sekolah Desa hanya dijalaninya selama kurang dari tiga tahun. Sebab, pada waktu belajar di kelas empat, Yunus menunjukkan ketidakpuasannya terhadap mata pelajaran di sekolah tersebut. Karena merasa masih haus pengetahuan, Yunus lantas pindah belajar di madrasah milik H. M Thaib Umar di Tanjung Pauh Sunggayang. Madrasah ini bernama Madras School. Di sekolah ini, ia mempelajari ilmu Nahwu, ilmu Sharaf, Berhitung dan Bahasa Arab. Ia belajar di Madrasah ini dari jam 09.00 hingga jam 12.00. Sementara pada malam harinya, ia tetap mengajar di surau kakeknya.

Pada tahun 1911, karena keinginan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama secara lebih mendalam dengan H. M. Thaib Umar, Yunus pindah dari surau kakeknya untuk kemudian menggunakan waktu sepenuhnya belajar ilmu Fiqh dengan sang engku. Ia belajar tekun dengan ulama pembaharu ini. Hingga akhirnya, Yunus pun berhasil menguasai ilmu-ilmu agama dengan baik. Karena prestasinya, bahkan ia dipercayakan oleh engkunya untuk mengajarkan kitab-kitab yang cukup berat untuk ukuran seusianya. Pada tahun 1917, Syekh H.M. Thaib Umar sakit. Karena itu, Yunus secara langsung ditugasi untuk menggantikan gurunya memimpin Madras School.

Saat bersamaan, dalam rentang waktu 1917-1923, di Minangkabau tengah tumbuh gerakan pembaruan Islam yang dibawa oleh para alumni Timur Tengah. Umumnya, pembaruan Islam ini terwujud dalam dua bentuk, yakni purifikasi dan modernisasi. Para alumni Timur Tengah lebih condong dalam gerakan purifikasi, yaitu gerakan yang bertujuan untuk mengembalikan Islam ke zaman awal Islam dan menyingkirkan segala tambahan yang datang dari zaman setelahnya. Posisi Yunus, dalam hal ini terlibat dalam gerakan modernisasi. Ia mulai terlibat di gerakan pembaruan saat berlangsung rapat besar ulama Minangkabau tahun 1919 di Padang Panjang. Pada pertemuan besar itu, Yunus diminta untuk mewakili gurunya. Pertemuan itu secara langsung maupun tidak telah mempengaruhi pola pemikiran Yunus, terutama berkat pandangan-pandangan yang dikemukakan sejumlah tokoh pembaru seperti Abdullah Ahmad serta Abdul Karim Amrullah.

Berawal dari pertemuan itu, Yunus mulai terinspirasi mendirikan perkumpulan untuk mewadahi keinginan dan cita-cita kaum intelek muda di Sumatera. Akhirnya, pada tahun 1920, Yunus bersama sahabat-sahabatnya membentuk perkumpulan pelajar Islam di Sungayang bernama Sumatera Thawalib. Salah satu kegiatan kelompok ini adalah menerbitkan majalah al-Basyir, dengan Yunus sebagai pemimpin redaksinya.

Interaksi yang kian intens dengan jaringan pembaru ini telah ”memprovokasi” Yunus untuk menimba pengetahuan lebih jauh. Ia ingin belajar di Timur Tengah. Singkat cerita, pada tahun 1924 Yunus memantapkan niatnya belajar ke Mesir bersama rombongan jemaah Haji. Di Mesir, Yunus kembali memperlihatkan prestasi yang istimewa. Ia mencoba untuk menguji kemampuan dalam ilmu-ilmu agama dengan mengikuti ujian akhir untuk memperoleh Syahadah (ijazah) ‘Alimiyyah. Yaitu ujian akhir bagi siswa-siswa yang telah belajar sekurang-kurangnya 12 tahun (Ibtidaiyyah 4 tahun, Tsanawiyah 4 tahun, dan ‘Aliyah 4 tahun). Ada 12 mata pelajaran yang diuji untuk mendapatkan syahadah ini. Karena semua ilmu tersebut telah dikuasanya selama belajar di Tanah Air, Yunus melampaui ujian ini tanpa halangan. Ujian ini pun dapat diikutinya dengan baik dan berhasil lulus serta mendapatkan ijazah (syahadah) ’Alimiyyah pada tahun yang sama tanpa melalui proses pendidikan. Dengan bekal ijazah ini, Yunus lebih termotivasi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia kemudian memasuki Darul ‘Ulum ‘Ulya Mesir. Pada tahun 1925, ia berhasil memasuki lembaga pendidikan yang merupakan Madrasah ‘Ulya (setingkat perguruan tinggi) agama yang juga mempelajari pengetahuan umum. Di sekolah ini, ia memilih jurusan Tadris (Keguruan). Perkuliahan di Darul ‘Ulum ‘Ulya mulai dari tingkat I sampai tingkat IV dilaluinya dengan baik. Bahkan, pada tingkat terakhir ia memperoleh nilai tertinggi pada mata kuliah Insya` (mengarang). Pada waktu ini, Yunus tercatat sebagai satu-satunya mahasiswa asing yang berhasil menyelesaikan hingga ke tingkat IV di Darul ‘Ulum.

Setelah menjalani masa pendidikan dan menimba berbagai pengalaman di Mesir, ia pun kembali ke Tanah Air pada tahun 1931. Gerakan pembaruan di Minangkabau saat itu makin berkembang. Dengan kondisi semacam ini, Yunus muda kembali mendirikan dua lembaga pendidikan Islam, tahun 1931, yakni al-Jami’ah Islamiyah di Sungayang dan Normal Islam di Padang. Di kedua lembaga inilah ia menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang didapatnya di Dar al-Ulum, Kairo. Karena kekurangan tenaga pengajar, al-Jami’ah Islamiyah terpaksa ditutup tahun 1933. Sedangkan Normal Islam hanya menerima tamatan madrasah 7 tahun dan dimaksudkan untuk mendidik calon guru. Ilmu yang diajarkan dalam lembaga ini berupa ilmu agama, bahasa Arab, pengetahuan umum, ilmu mengajar, ilmu jiwa dan ilmu kesehatan.

Dua penekanan dalam pembaruan Yunus di lembaga pendidikannya yakni pengenalan pengetahuan umum dan pembaruan pengajaran bahasa Arab. Pengajaran pengetahuan umum di sekolahnya sebenarnya tidaklah baru. Tahun 1909 Abdullah Ahmad sudah mengajarkan berhitung, bahasa Eropa di Adabiyah School. Sementara Mahmud menambahkan beberapa pelajaran umum semisal ilmu alam, hitung dagang, dan tata buku.

Pada bidang pengajaran bahasa Arab, pembaruan Yunus tak hanya menekankan penguasaan bahasa Arab. Namun juga menunjukkan bagaimana secara didaktis-metodis modern para siswa menguasai bahasa tersebut dengan cepat dan mudah. Ia memimpin Normal Islam selama 11 tahun, mulai 1931-1938 dan 1942 dan 1946. Pada tahun 30-an, dia juga aktif di organisasi Islam antara lain menjadi salah satu anggota Minangkabau Raad. Lantas tahun 1943 dipilih menjadi Penasehat Residen mewakili Majelis Islam Tinggi. Demikian pula di kementerian agama yakni dengan menjabat selaku Kepala Penghubung Pendidikan Agama.

Di masa-masa selanjutnya, Yunus menekuni profesi sebagai guru. Selain di dua lembaga yang ia dirikan sendiri, Yunus juga mengajar di Kuliyah Mu’alimin Islamiyah Noramal Islam Padang (1932-1946), Akademi Pramong Praja di Bukit Tinggi (1948-1949), Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta (1957-1980), menjadi Dekan dan Guru Besar pada fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1960-1963), serta Rektor IAIN Imam Bonjol Padang (1966-1071). Atas jasa-jasanya dibidang pendidikan ini, pada 15 Oktober 1977, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menganugerahi Mahmud Yunus Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Tarbiyah. Awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. Sepanjang hidupnya, Mahmud menulis tak kurang dari 43 buku. Pada tahun 1982, Mahmud Yunus meninggal dunia.

Karya-Karya Yunus
Mahmud Yunus, di masa hidupnya dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Aktifitasnya dalam melahirkan karya tulis tak kalah penting dari aktifitasnya di lapangan pendidikan. Popularitas Yunus lebih banyak dikenal lewat karangan-karangannya, karena buku-bukunya tersebar di setiap jenjang pendidikan, khususnya di Indonesia. Buku-buku Yunus menjangkau hampir setiap tingkat kecerdasan. Pada perjalanan hidupnya, ia telah menghasilkan buku sebanyak 82 buah. Dari jumlah itu, Yunus membahas berbagai bidang ilmu, yang sebagian besar adalah bidang-bidang ilmu agama Islam, seperti bidang Fiqh, bahasa Arab, Tafsir, Pendidikan Islam, Akhlak, Tauhid, Ushul Fiqh, Sejarah dan lain-lain. Di antara bidang-bidang ilmu yang disebutkan, Yunus lebih banyak memberi perhatian pada bidang pendidikan Islam, bahasa Arab (keduanya lebih banyak memfokus pada segi metodik), bidang Fiqh, Tafsir dan Akhlak yang lebih memfokus pada materi sajian. Sesuai dengan kemampuan bahasa yang ia miliki, buku-bukunya tidak hanya ditulis dalam bahasa Indonesia, akan tetapi juga dalam bahasa Arab.

Ia memulai mengarang sejak tahun 1920, dalam usia 21 tahun. Karirnya sebagai pengarang tetap ditekuninya pada masa-masa selanjutnya. Yunus senantiasa mengisi waktu-waktunya untuk menulis, dalam situasi apapun. Pada waktu perang kemerdekaan, ketika mengikuti perang gerilya, ia tetap menyempatkan diri untuk mengarang. Buku “Marilah Sembahyang” (4 jilid). Hingga pada saat menjalani masa pensiun, Yunus masih tetap menulis. Bahkan, pada tahun-tahun terakhir dari kehidupannya (1982), Yunus masih aktif menulis.

Adapun, karya-karya Yunus yang terkenal antara lain; Tafsir al-Quran tamat 30 juz (1938), Terjemahan Tafsir al-Quran tanpa tafsir, Marilah sembahyang, Pelajaran Sholat untuk-untuk anak-anak SD, Puasa dan Zakat untuk anak-anak SD, Haji ke Mekkah, cara mengerjakan haji, untuk anak-anak SD, Keimanan dan Akhlaq, untuk anak-anak SD, Beberapa kisah pendek, untuk anak-anak SD, Riwayat Rasul dua puluh lima, bersama Rasyidin/Zubir Usman, Lagu-lagu baru/Not angka-angka, bersama Kasim St. M. Syah, Beriman dan Berbudi Perkerti, untuk anak-anak SD, Pemimpin Pelajaran Agama, 3 jilid, untuk murid-murid SMP, Hukum Warisan dalam Islam untuk tingkat Aliyah, Perbandingan Agama, untuk tingkat Aliyah, Kumpulan Do’a, untuk tingkat Aliyah, Do’a-do’a Rasulullah, untuk tingkat tsanawiyah, Marilah ke Al-Qur’an, untuk tingkat tsanawiyah/PGA bersama H. Ilyas M. Ali, Moral Pembangunan dalam Alam, untuk tingkat Aliyah, Akhlaq (bahasa Indonesia),. untuk tingkat Aliyah, Pelajaran Sembahyang, untuk tingkat Aliyah, mahasiswa/umum, Hukum perkawinan dalam Islam, 4 Madzhab, Soal Jawab HUkum Islam, 4 Madzhab, Ilmu Mustalahul Hadist, bersama H. Mahmud Aziz, Sejarah Islam di Minangkabau, dalam penyelidikan baru, Kesimpulan isi Alquran, untuk Muballigh-Muballigh / umum, Allah dan Makhluq-Nya, Ilmu Tauhid menurut Alquran, Pengetahuan Umum Ilmu Mendidik, bersama St. M. Said, Pokok-pokok Pendidikan/Pengajaran, Fak. Tarbiyah / PGAA, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Fak. Tarbiyah / PGAA, Metodik Khusus bahasa Arab, Fak. Tarbiyah / PGAA, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Sejarah PEndidikan Islam (umum), Pendidikan-Pendidikan Umum di Negara-negara Islam/Pendidikan Barat, Ilmu Jiwa kanak-kanak, kuliah untuk kursus-kursus, Pedoman Dakwah Islamiyah, kuliah untuk dakwah, Dasar-dasar Negara Islam,Manasik Haji, untuk orang dewasa, Juz Amma dan terjemahnya, dan lain-lain.

Sistematika Tafsir Yunus
Kekhasan sistematika Tafsir Mahmud Yunus adalah susunannya diawali dengan pendahuluan tentang usaha yang ditempuh ketika ia menterjemahkan dan menerbitkan Alquran tersebut. Setelah penduhulan, kemudian dijelaskan ayat Alquran dan terjemahannya, yang diawali dengan surat al-Fatihah, al-Baqoroh hingga pada akhir surat an-Naas (30 Juz). Untuk mengetahui isi Alquran ini dengan mudah, kita dapat membuka dan melihat pada halaman belakang yaitu pada Daftar Surat dan isi Tafsir Alquran yang biasa dikaji beserta nomor urut halaman. Setelah daftar isi dan surat-surat, kemudian juga terdapat daftar isi juz-juz Alquran yang tujuannya memudahkan pembaca dalam pencarian sebuah ayat. Di belakang halaman juga terdapat beberapa kesimpulan isi Alquran, yang berhubungan dengan keimanan, hukum-hukum, petunjuk atau pengajaran, akhlaq, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Di samping itu kitab tafsir ini terdapat daftar kesimpulan isi Alqur’an.

Di dalam menafsirkan Alquran, Yunus bersumber pada ilmu-ilmu yang ia pelajari saat belajar di Timur Tengah, disertai sedikit pengembangan yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Sumber-sumber yang dimaksud itu ialah; a). Tafsir Alquran dengan Alquran, karena ayat-ayat itu tafsir-menafsirkan dan jelas-menjelaskan antara satu dengan yang lain, b). Yafsir dengan hadist yang shahih, seperti hadist Bukahri dan Muslim. Sekali-kali tidak boleh dengan hadist yang Maudlu’ dan Dlo’if, c). Tafsir dengan perkataan sahabat, tapi khusus dengan menerangakan sebab-sebab turunnya ayat, bukan menurut pendapat dan pikirannya, d). Tafsir dengan perkataan tabi’in, bila mereka ijma’ atas semua tafsir. Hal ini menurut pendapat bahwa ijma’ itu hujjah, e). Tafsir dengan umum bahasa arab bagi Ahli Ilmu Lugha, f). Tafsir dengan Ijtihad bagi Mujtahid, g). Tafsir dengan tafsir Aqli bagi Mu’tazilah. Selain dari pada itu, ada lagi tafsir Akil menurut Syi’ah dan tafsir Shufi bagi ahli Tasawwuf.

Lebih lanjut, tafsir Alquran Yunus ini menunjuk pada metode tahlili, suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran dan seluruh aspeknya. Dalam tafsir Yunus, aspek kosa kata dan penjelasan arti global tidak selalu dijelaskan. Kedua aspek tersebut dijelaskan ketika dianggap perlu atau kadang pula suatu ayat, suatu lafadz dijelaskan arti kosa katanya. Sedangakan lafadz yang lain dijelaskan arti kosa katanya, dan lafadz yang lain dijelaskan arti globalnya karena mengandung suatu istilah, bahkan dijelaskan secara terperinci dengan memperlihatkan penggunaan istilah itu pada ayat-ayat yang lain.

Membaca dan mempelajari tafsir Alquran Yunus kita akan mendapatkan keistimewaan-keistimewaan dari tokoh pembaharu ini. Adapun keistimewaannya adalah; a).Terjemahan Alquran disusun baru, sesuai dengan perkembangan bahasa Indonesia, serta mudah dipahami oleh pembaca. Bahkan mahasiswa-mahasiswa dapat memperluas bahasa Arabnya. b).Teks Alquran terjemahannya disusun sejajar. Dengan demikian mudah mengetahui nomor-nomor ayat Alquran dalam teks bahasa Arab dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. c). Keterangan-keterangan ayat ditaruh dan diletakkan di dalam ayat yang bersangkutan, sehingga mudah mempelajarinya tanpa memeriksa ke halaman-halaman yang lain, seperti cetakan yang lama. d).Keterangan-keterangan ayat ditambah dan diperluas, setengahnya berupa masalah-masalah ilmiah yang harus dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa.

Banyak hal yang dapat dipelajari dari kisah hidup beserta pikiran dan buku-buku Yunus. Kecerdasan, ketekunan dan kerja keras Yunus menginspirasi generasi masa kini, bahwa dalam kondisi apapun kita wajib menorehkan prestasi-prestasi. Perjuangan dan cinta kasihnya kepada orang tua dan sesama, juga memberi teladan bahwa hidup akan lebih bermakna jika mendapat dukungan moral dari yang terkasih. Prestasinya menulis sedemikian banyak buku, membuat kita iri, dan mungkin kemudian termotivasi. Dan, pikiran-pikiran Yunus yang menembus langit masa depan memberi pesan pada kita semua bahwa ”Indonesia punya masa lalu, dan juga punya masa depan.” (*)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: