Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Pemimpin Muda

Posted by Ndaru Nusantara pada 2 Juni 2010

Tulisan ini dimuat di Harian Pelita. Waktu dan tanggalnya tapi saya lupa. Dilatarbelakangi oleh perjuangan gagasan kepemimpinan kaum muda, saya melihat ada geliat yang kuat dari kaum muda untuk tampil dalam panggung politik nasional. Namun, kaum muda seperti apa yang sesungguhnya diperlukan bangsa ini? Artikel ini berusaha menjawabnya. Next

________

Geliat politik menuju pemilihan Presiden [Pilpres] 2009 semakin memanas. Sejumlah tokoh sudah mendeklarasikan kesediaanya menjadi calon presiden [capres]. Berbeda dengan pilpres 2004, calon presiden mulai nampak didominasi oleh tokoh-tokoh muda berwajah baru. Sebut saja Fadjroel Rachman, Soetrisno Bachir, Rizal Mallarangeng, Ray rangkuti, serta sejumlah nama lainnya.

Semangat dan geliat politik ini patut diapresiasi. Sebab, menurut beberapa penelitian kini publik mulai jenuh dengan tampilnya wajah-wajah lama dalam bursa pencalonan capres. Tokoh semacam Gus Dur, Amien Rais, Megawati, SBY, Wiranto, Jusuf Kalla, Sutiyoso, bahkan Prabowo merupakan wajah-wajah lama yang dianggap “gagal” membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Dalam situasi demikian, menghadirkan pemimpin muda dalam kancah politik nasional menjadi sangat penting untuk mengembalikan proyek-proyek keindonesiaan yang gagal dipimpin oleh kaum tua.

Berbekal landasan epistemologis yang kuat, kaum muda ingin membuktikan eksistensinya di tengah kemacetan [stagnasi] ekonomi-politik bangsa ini. Sebab, sejarah telah mengajarkan bahwa kaum muda selalu menjadi pionir perubahan bangsa. Kemerdekaan yang selama ini kita nikmati adalah jerih payah kaum muda. Sejarah lahirnya gerakan Budi Utomo, Sumpah Pemuda 1928, masa Orde Lama, pergantian Orde Lama ke Orde Baru hingga reformasi 1998, juga ditorehkan oleh kaum muda. Maka, memunculkan kembali kaum muda sebagai pemimpin negeri ini sudah menjadi semacam kewajiban sejarah.

Di lain hal, saat ini gagasan kepemimpinan kaum muda juga mendapat apresiasi dari kalangan luas. Riset Pusdeham (Agustus-September 2007) melaporkan 70% responden memerlukan pemimpin baru yang segar dan tegas untuk mengatasi problem bangsa kita. Hal tersebut kemudian diperkuat oleh riset Kompas pada 17/9/2007 tentang Capres 2009. Hasil tertingginya adalah keinginan masyarakat agar presiden tersebut merupakan tokoh baru 46%, berasal dari sipil 50%, ekonomi kelas menengah 47%. Lalu, polling MetroTV pada tanggal 4/11/2007 juga menguatkan hal yang sama. Sebanyak 55% dari 264 voters mengatakan bahwa layak bagi kaum muda untuk jadi presiden.

Namun yang menjadi pertanyaan, kaum muda seperti apakah yang layak memimpin negeri ini? Apakah munculnya tokoh seperti Fadjroel Rachman, Soetrisno Bachir, Rizal Mallarangeng, Yusril Ihza Mahendra, Ratna Sarumpaet, dan sejumlah tokoh lain dapat merepresentasikan gagasan kepemimpinan kaum muda?

Sebelum menyebut nama, ada baiknya kita mendiskusikan terlebih dahulu bagaimana gagasan awal, visi dan misi kepemimpinan kaum muda. Hal ini penting, agar kita tidak terjebak pada ketokohan [figur] seperti dipopulerkan oleh iklan politikyang sesungguhnya belum tentu mewakili visi, misi dan gagasan kepemimpinan kaum muda.
Mengenai kriteria, visi dan misi pemimpin muda sebenarnya dapat kita baca dari ikrar Deklarasi Saatnya Kaum Memimpin dan buku Merebut Mimpi Bangsa: Visi dan Misi Kaum Muda Memimpin [Kalam Nusantara, 2008] yang baru-baru ini diluncurkan.

Keduanya memiliki kesamaan persepsi, bahwa kriteria pemimpin muda bukan hanya didasarkan atas usia, tapi juga visi dan misi yang diusungnya.
Visi utama kaum muda memimpin adalah membebaskan Indonesia dari belenggu kemiskinan, pengangguran serta kekerasan. Sebab, semenjak Republik ini berdiri, ketiga problem tersebut selalu menjadi hantu sejarah yang sulit dimusnahkan. Untuk itu, Indonesia memerlukan cara pandang baru dalam mengelola kekayaan alam dan mengurus rakyatnya.

Dalam hal ini, mengutip tulisan M. Yudhie Haryono dalam buku Merebut Mimpi Bangsa, kaum muda harus melakukan perubahan mendasar meliputi empat hal. Pertama, perubahan paradigma pembangunan yang mengutamakan pemerataan, bukan pertumbuhan [politik undang-undang]. Kedua, nasionalisasi asset strategis dan SDA untuk kemakmuran rakyat [politik kesejahteraan]. Ketiga, hapus hutang lama dan tolak hutang baru [politik kemandirian]. Keempat, proteksi dan penggunaan produksi dalam negeri [politik kemodernan].

Singkatnya, siapapun capres yang memiliki political will untuk mengusung keempat gagasan di atas, dialah pemimpin muda. Pemimpin yang bukan hanya muda usianya, tapi juga mempunyai visi dan misi yang jelas dan tegas. Dialah pemimpin yang ditunggu-tunggu rakyat bak Ratu Adil dalam kosmologi orang Jawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: