Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Rebut MIMPI Bangsa

Posted by Ndaru Nusantara pada 3 Juni 2010

Dimulai dengan pertanyaan mengapa reformasi gagal menghadirkan kesejahteraan rakyat, buku ini menjawab, ada dua hal pokok yang menjadi penyebabnya.Pertama, gerakan reformasi masih menyisakan tradisi dan bentuk mitos state. Dalam negara mitos, aparatus negara hidup dengan cara-cara skriptural, eskatologis, melankolis, dan romantis. Baca selengkapnya

Hidup dalam skripturalisme, artinya, para aparatus negara hanya mengandalkan “catatan laporan” tanpa sidak ke lapangan. Padahal, catatan laporan para bawahan seringkali dibuat “asal bapak senang.” Dus, hidup dalam fase skripturalisme pada akhirnya menyerahkan akal pada laporan, menitipkan masa depan pada masa lalu, lebih mempercayai “antek” daripada intelek serta menggantungkan keselamatan pada “benda mati.”

Tradisi eskatologis, artinya, ketika negara mendapat bahaya dan bencana, para aparatus negara hanya dapat menjelaskan bahwa itu semua berasal dari Tuhan. Lewat nyanyian, doa dan fatwa, para ulama dan artis diajak ikut mengkampanyekan “tuhan mulai bosan” bersahabat dengan kita, tanpa pernah ditemukan siapa penanggung jawab yang harus mengatasi bahaya dan bencana tersebut.

Sikap melankolis, artinya, aparatus negara lebih suka kampanye dan bicara tanpa banyak bekerja. Seakan-akan dengan mengiklankan diri di media, seluruh persoalan negara sudah teratasi. Sedang tindakan romantis, artinya, jika ada tuntutan untuk segera menyelesaikan problem-problem negara, para aparatus negara meminta waktu yang panjang dan tak berkesudahan sambil melempar tanggung jawab dan mengatakan bahwa “kesalahan itu” bukan hanya darinya melainkan juga warisan rezim masa lalu.

Kedua, gerakan reformasi baru mempraktekkan materialism state. Karakter dasar dari negara material adalah “meminta rakyat banyak berkorban” yang diimbangi dengan gaya hidup “high class” para aparatus negara. Kenaikan gaji legislatif dan eksekutif yang sangat mencolok disertai “banyaknya orang sekarat karena antri dapat BLT” adalah buktinya. Pada fase negara material ini, yang dikembangkan baru gagasan individualisme, unitarian, simbolik dan profanitas (hal. 30).

Tantangan Indonesia

Syafi’i Ma’arif (2008) menulis, bangsa kita sangat piawai dalam merumuskan kata, tapi sulit untuk menterjemahkannya menjadi laku. Kita punya Pancasila yang berisi cita-cita besar, namun sulit mengejawantahkan sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga punya UUD45 yang berisi cita-cita kemerdekaan, tapi belum punya jalan taktis untuk mencapainya. Hal tersebut dikarenakan kita belum mempunyai pemimpin yang visioner. Kita belum menemukan pemimpin yang cakap untuk menahkodai “kapal” Indonesia menuju tujuan mulianya.

Para pemimpin kita mulai dari Sukarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, Megawati hingga SBY, terbukti gagal menuntut bangsa ini menuju cita-cita kemerdekaan. Tiada prestasi yang membanggakan dari sejarah rezim-rezim yang berkuasa kecuali mewariskan kemiskinan, pengangguran dan kekerasan. Buktinya, dari tahun ke tahun, ketiga musuh utama bangsa tersebut terus bertambah bahkan tidak terkendali.

Data di BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2006, kemiskinan meningkat menjadi 39,05
juta jiwa atau 17.75% dibanding tahun 2005 sebesar 35,10 juta jiwa atau 15.97%. Begitupun jumlah pengangguran di mana angka pada tahun 2005 sebesar 10,3% lalu naik pada tahun 2006 menjadi 10,8%. Kekerasan dengan sentimen sparatisme naik dari 12% pada 2005 menjadi 21% pada 2007.

Dengan data tersebut, masuk akal apabila Lembaga The Fund for Peace (2007) mengkategorikan Indonesia masuk dalam daftar negara gagal. Riset itu menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 177 negara. Hal itu dibuktikan dari hasil pembangunan nasional yang belum menghasilkan pengurangan kemiskinan, pengangguran dan kekerasan.

Selanjutnya, menurut laporan World Economic Forum, daya saing SDM kita berada pada urutan ke-50 dari 125 negara. Lalu, menurutHeritage Foundation, Indeks Kebebasan Ekonomi: 110 dari 157. Menurut The Economist, Indeks Kualitas Hidup: 71 dari 111. Menurut Reporters Without Borders, Indeks Kebebasan Pers: 102 dari 167. TI, Indeks KKN: 130 dari 163. Dan menurut UNDP, Indeks Pembangunan SDM: 108 dari 177.

Beberapa fakta di atas tentu saja menciptakan beberapa pertanyaan sekaligus kecemasan. Pertanyaan berkenaan dengan bagaimana nasib ekonomi [anak-cucu] kita kelak dan apakah globalisasi harus bermakna hancurnya ekonomi kerakyatan. Kecemasan berkenaan dengan bagaimana masa depan posisi negara kita dalam percaturan dunia yang semakin ketat. Pertanyaan dan kecemasan ini menjadi penting karena sejarah bangsa kita pernah mengalami kejayaan dengan berswasembada beras sekaligus menjadi stabilisator dan dinamisator utama di kawasan ASEAN (hal. 79 ).

Desain Politik-Ekonomi Baru

Agar Indonesia tidak menjadi negara gagal, buku ini menyajikan gagasan untuk menanggulanginya. Penulis buku ini berpendapat, kita harus segera menciptakan “politik baru” yang tujuan utamanya melenyapkan tiga musuh utama (kemiskinan, pengangguran dan kekerasan) dan menempatkan rakyat sebagai pelaku utama.

Desain “politik baru” tersebut mengacu pada tiga landasan utama, yaitu membangun politik negara yang merdeka, mandiri dan modern. Yang dimaksud dengan politik merdeka adalah politik yang mengutamakan negara dan bangsa di atas politik identitas pribadi dan golongan.

Singkatnya, politik ini mengutamakan penyelamatan bangsa dan negara [save the nation] sehingga mampu menjawab sparatisme yang masih tumbuh subur terutama di Maluku, Papua dan Aceh. Sebab, mengutip Andrinof Chaniago [2007], perjuangan mengisi kemerdekaan masa kini adalah perjuangan melawan mereka yang hanya ingin memuaskan diri sendiri dan kelompoknya dengan mengabaikan kepentingan orang banyak.

Merekalah penumpang gelap reformasi, kapitalisme dan globalisasi. Mereka tak pernah henti memperkaya diri sambil menjual bangsa dan membuat kerusakan sistem dan kultur kita dalam berbangsa. Lalu, yang dimaksud dengan politik mandiri adalah politik yang mengutamakan “pelaku-pelaku kaum muda yang mandiri” guna mengatasi pengangguran.

Singkatnya, politik ini menjawab tantangan perubahan yang berasal dari politisi lama berbaju baru dan politisi baru berideologi lama. Dengan darah segar dan pikiran yang
lebih jernih karena tidak terkontaminasi oleh masa lalunya. Politik inilah yang akan mengurangi pengangguran sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan sebagai pondasi bagi tumbuhnya pembangunan yang aman, ramah dan manusiawi.

Kemudian yang dimaksud dengan politik modern adalah politik yang mengutamakan pada upaya pengentasan kemiskinan dengan menempatkan “kaum miskin” sebagai subyek utama pembangunan. Artinya, merekalah sasaran utama pembangunan nasional agar dapat sejajar dengan kaum kaya. Dengan begitu, ideologinya adalah pemerataan guna menjaga pertumbuhan (hal. 83).

Saatnya Kaum Muda Memimpin
Indonesia memerlukan penyegaran aktor dan subyek. Aktor baru inilah yang akan
mengawal gagasan penyelamatan bangsa dengan melakukan tiga hal mendesak.

Pertama, menasionalisasi aset strategis dan SDA untuk kemakmuran rakyat [politik kesejahteraan]. Kedua, hapus hutang lama dan tolak hutang baru [politik kemandirian]. Ketiga, proteksi produksi dalam negeri [politik kemodernan]. Aktor dan subjek baru tersebut tiada lain adalah kaum muda. Sebab, pemimpin muda mempunyai referensi sejarah yang panjang dan basis espitemologis yang kuat.

Selain itu, kepemimpinan kaum muda juga mendapat apresiasi dari kalangan luas. Sebagai contoh, riset Pusdeham (Agustus-September 2007) melaporkan 70% responden memerlukan pemimpin baru yang segar dan tegas untuk mengatasi problem bangsa kita. Hal ini diperkuat juga oleh riset Kompas pada 17/9/2007 tentang Capres 2009. Hasil tertingginya adalah keinginan masyarakat agar presiden tersebut merupakan tokoh baru 46%, berasal dari sipil 50%, ekonomi kelas menengah 47%. Lalu, polling MetroTV pada tanggal 4/11/2007 juga menguatkan hal yang sama. Sebanyak 55% dari 264 voters mengatakan bahwa layak bagi kaum muda untuk jadi presiden.

Dari riset dan polling tersebut dapat disimpulkan bahwa saat ini kepemimpinan kaum muda sedang ditunggu kehadirannya, bak Ratu Adil dalam kosmologi orang Jawa. Yaitu sebuah kepemimpinan yang berisi gagasan dan subyek yang menurut Goerge Orwell [1974], menyimpang dari arus utama. Sebab, tanpa menyimpang dari kelaziman dan keumuman, gagasan kepemimpinan kaum muda hanya akan menjadi pepesan kosong tanpa isi dan substansi.

Secara psikologis, gagasan menyimpang (crank) ini memiliki dua dimensi pemaknaan; anti libidinal [tidak tertarik secara membabi buta pada lawan jenis] dan anti kapital [asketis, tidak tertarik secara membabi buta pada kekayaan material]. Pemimpin
muda, dengan demikian, lahir menjadi ”karnal” karena mencintai yang tak lazim; intelektual, spiritual dan rakyat miskin (hal. 85).

Inilah gagasan dan agenda yang ditawarkan penulis buku ini, agar Indonesia segera “siuman” dan bangkit menjadi bangsa yang gagah dan disegani. Dari sini pula kita bisa menilai bahwa buku ini adalah buku teori yang berangkat dari praktik di lapangan dan ditulis langsung oleh aktor reformasi.

Dengan pendekatan sejarah dan sosiologi, riset lapangan dan perpustakaan, buku ini ingin mengatakan bahwa “rizki, kemakmuran, kemartabatan, kecerdasan, kemerdekaan dan kemodernan” bukan hanya mukjizat dari langit. Semuanya merupakan produk sejarah yang harus direbut dan dibagikan. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: