Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Politik Penghakiman

Posted by Ndaru Nusantara pada 4 Juni 2010

Catatan ini saya tulis ketika huru hara Century kian tak bertepi. Semua pihak yang sedang bertikai melakukan apapun untuk mempertahankan sikapnya. Mereka telah menghianati idealitas politik.
Baca Selengkapnya
____________________

Langgam politik kita bagai lautan tak bertepi. Ia selalu bergerak, bergelombang, dan berbuih-buih dalam irama yang tak pasti. Politik di negeri ini sudah terlanjur menjadi predikat yang tak pasti. Dalam kamus politik, ada  pepatah mengatakan ”tidak ada yang abadi dalam politik.” Sekarang berteman, besok berlawan. Sekarang berkoalisi, besok cerai, lusa rujuk lagi. Sebab, pada intinya politik adalah transaksi kepentingan.

Kondisi demikian mungkin sudah menjadi kodrat politik bagi bangsa yang sedang melakoni masa transisi. Dalam era keterbukaan sekarang ini, semua orang bebas menafsirkan dan ”berebut teks demokrasi.” Ada anggapan demokrasi merupakan nilai-nilai luhur dan alat untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Di sisi lain, ada pula demokrasi dimaknai sebagai tujuan akhir. Modus dan sikap berpolitik dalam mempraktikkan demokrasi kita dewasa ini pun dirasa penuh paradoks, bahkan menggelikan. Atas nama demokrasi, banyak kelompok melakukan ”Politik Penghakiman” terhadap sesuatu yang dianggap berbeda.

Fenomena saling serang, saling tuding dan tuduh, yang disertai sikap mencemooh, menghina, serta mendendam merupakan serangkaian sikap (sifat) politik yang masih mengemuka dalam panggung politik nasional. Rasa-rasanya, tidak ada yang mau mengalah dan mengaku kalah. Semua ingin menang. Ini menyiratkan pembelaan sempit terhadap kelompok dan golongan (tribalisme). Padahal, demokrasi mengajarkan sikap siap menang siap kalah (legawa), menghormati perbedaan, serta berpandangan luas.

Potret sikap politik di atas secara umum dapat diperhatikan, khususnya, dalam huru hara skandal Bank Century. Dengan caranya masing-masing, dua kelompok politik yang berseteru nampak masyuk memainkan lakonnya. Kubu oposisi, baik yang di DPR maupun kelompok civil society terus melakukan konsolidasi dan aksi untuk melakukan agresi politik kepada kelompok seberang yang dianggap melakukan pelanggaran. Justifikasi-justifikasi politik muncul bertebaran. Sementara, kubu pemerintah juga ikut larut dalam permainan ini. Karena merasa terancam, pelbagai cara dilakukan, termasuk aksi tandingan sebagai bentuk dukungan dan pembelaan.

Tarik-menarik dan pergesekan politik ini, hemat saya, hanya mengulangi sejarah kelam bangsa kita di awal-awal reformasi digulirkan. Masih hangat dalam ingatan, ketika kekerasan dilawan dengan kekerasan, pengerahan massa dilawan dengan pengerahan massa, intelejen dilawan dan kontra intelejen, serta perebutan pengaruh di media pun demikian, hal tersebut hanya menghasilkan kisah yang pahit. Sekadar sebagai studi kasus: kejatuhan pemerintahan Presiden Habibie berawal dari unjuk kekuatan, yang saat itu kekuatan Islam (FPI) vis a vis dengan kekuatan mahasiswa dan gerakan sosial. Demikian pula dengan riwayat kejatuhan Gus Dur. Pasukan berani mati diberhadapkan dengan militer dan gerakan mahasiswa (sosial). Asumsi ini penulis ketengahkan sebagai cermin sejarah, dan tentu saja tidak menegasikan penyebab-penyebab yang lain.

Fenomena politik penghakiman di tengah arus transisi demokrasi yang tak kunjung usai ini jelas bukan merupakan tindakan yang produktif. Politik penghakiman sama saja dengan penghakiman massa terhadap maling ayam tanpa melibatkan penegak hukum. Selebihnya, politik penghakiman pada akhirnya akan melanggengkan dendam politik tak berkesudahan.

Di lain hal, politik penghakiman justru melakukan tindakan yang mendahului hukum. Dalam hal ini, Mahkamah Konstitusi dan pengadilan menjadi tak berguna sama sekali apabila setiap persoalan diselesaikan secara politik dan menegasikan hukum. Persoalan sistem hukum kita yang masih kurang ideal, tentu menjadi PR mendesak yang harus segera dibenahi.

Dus, mengikis tradisi politik penghakiman merupakan proyek jangka panjang yang harus dimulai dari sekarang. Seluruh entitas politik di negeri ini seyogianya mampu menahan diri dan meletakkan politik-demokrasi sesuai pada hakikatnya. Yakni politik sebagai karsa untuk menegakkan moralitas dan rasionalitas publik. Bukan politik sebagai arena mengumbar caci maki, dendam dan perebutan kekuasaan.

Idealitas politik seperti itu dapat kita telusuri melalui pemikiran Hannah Arent (1973). Arent menekankan bahwa tindakan berpolitik merupakan salah satu human condition yang berbasis aksi bersama dalam memperjuangkan kepentingan secara berkeadaban (civic). Human condition ini terdiri dari tiga hal yakni work, labor dan action. Work merujuk pada pengoperasian sarana-sarana inderawi baik dalam bentuk ‘kerja mental’ ataupun ‘kerja fisik.’ Labor merujuk pada tindakan manusia sebagai homo faber (pembuat alat) yang berbasis keterampilan. Action merujuk pada tindakan bersama sebagai konsekuensi dari manusia sebagai zoon politicon.

Selanjutnya, Arent menjelaskan bahwa menjadi warga politik “berarti hidup di dalam suatu polis, tempat segala sesuatu diselesaikan lewat argumentasi dan persuasi, bukan lewat kekerasan dan paksaan.” Di dalam tradisi Yunani, memaksa orang lewat kekerasan, kebiasaan mengomando ketimbang membujuk, dinilai sebagai cara-cara pra-politik, dan dinisbatkan kepada karakterisitik orang-orang yang hidup di luar polis. Kata politik, dengan demikian, menyiratkan kehidupan ideal yang diimpikan.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa politik penghakiman yang disertai perilaku infantil (ketidakdewasaan) dalam dunia politik justru akan meminggirkan hakikat dan keutamaan politik. Bila tidak diubah mulai sekarang, kapan lagi? (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: