Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Tentang Miskin dan Pemimpin (2)

Posted by Ndaru Nusantara pada 4 Juni 2010

Apa jadinya bila bangsa ini terus dilanda kemiskinan dan miskin pemimpin? Dan, apa akar penyebab dua persoalan ini? Sepanjang waktu, saya terus memikirkan pertanyaan filosofis ini. Dan, sampai sekarang saya belum menemukan jawaban yang menyakinkan. Baca selengkapnya

Ada orang mengatakan kemiskinan itu disebabkan oleh beberapa hal utama. Pertama, faktor internal. Yang masuk dalam kategori ini misalnya; malas dan tidak mau berusaha, bermental terbelakang  atau mengandalkan filosofi Tanah Surga yang dipopulerkan Koes Plus. Faktor internal yang turut mendukung adalah faktor genealogis. Yang dimaksud di sini, karena latar belakang keluarga dari awal sudah miskin, maka generasi selanjutnya juga pasti akan miskin.

Kedua, faktor eksternal. Penyebab inilah yang kerap digugat oleh banyak kalangan kritis. Misalnya, faktor kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat atau faktor campur tangan liberalisme. Ketiga, faktor takdir Tuhan. Bagi para penganut filosofi jabariah, mereka mengatakan kemiskinan itu datangnya dari Tuhan. Hal itu telah digaristangankan atau ditakdirkan dari langit. Apabila ingin mengubahnya, berarti harus memperbanyak do’a dan mendekatkan diri kepadaNya.

Hipotesis di atas menurut saya kurang meyakinkan. Pendapat pertama yang menyatakan bahwa kemiskinan berasal dari kemalasan memang masuk akal. Tapi, ketika kita melihat kenyataan, kurang rajin apa tukang becak, tukang ojek, dan sejenisnya? Mereka pagi-pagi buta sudah berangkat bekerja, namun penghasilannya belumlah cukup untuk memutus mata rantai kemiskinan keluarganya. Coba bandingkan dengan pensiunan pegawai di Australia. Konon mereka ini tambah malas justru tambah kaya. Untuk menghemat biaya hidup, mereka berlibur ke Bali dan bisa menghemat sekitar 900 dolar Aus. Bila mereka hidup di negaranya, ia hanya bisa menyimpan 100 dolar Aus setiap bulannya. Ini potret semalas-malasnya orang, tapi bisa kaya!

Kemudian, bila membahas faktor filosofi Tanah Surga, apakah kita tidak mencatat bahwa kekayaan Indonesia dari darat sampai laut sudah berkurang? Kekayaan alam kita telah dikeruk dan dirampok secara tragis oleh bandit-bandit neoliberal yang berkongsi dengan politisi-ekonom kita. Intinya, Tanah Surga kita itu bisa saja berubah menjadi Tanah Neraka, sebab tidak ada jaminan warisan apa yang akan kita berikan kepada anak cucu nanti. Kemudian secara genealogis, memang betul trah keluarga miskin biasanya mewariskan pula kemiskinannya. Tapi, tak jarang pula lingkaran ini dapat dipotong karena faktor-faktor keberuntungannya.

_____________

Penyebab utama yang cukup menyakinkan mungkin faktor eksternal, yang mencakup kebijakan negara dan campur tangan asing. Kebijakan yang memiskinkan itu hadir dalam setiap dimensi kehidupan: mulai dari kebijakan ekonomi, kebijakan politik, pendidikan, sosial, budaya, agama, dll. Bagi negara yang menganut asas pertumbuhan ekonomi, segala sesuatu pasti dihitung dengan angka-angka. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi berarti akan menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan, begitu rumusnya. Di sisi lain, berbagai subsidi yang diberikan untuk orang miskin juga masih setengah hati. Sebentar disubsidi, sebentar dicabut, sebentar lagi diganti lagi. Kita juga tidak punya kebijakan jaminan sosial yang komprehensif yang dapat melindungi kaum miskin. Sebab, anggaran negara seringkali minus atau anggaran lebih diprioritaskan ke pos-pos lain yang diyakini lebih penting.

Di lain hal, seperti tertuang dalam rumus liberalisme, negara membatasi diri untuk mencampuri hajat hidup orang banyak. Haram hukumnya negara menolong rakyatnya. Biarkan saja rakyat berkompetisi dengan pasar. Siapa yang kuat dan tahan, dia akan menjadi pemenang. Ini prinsip kunokejam yang dipraktikkan liberalisme. Rakyat dibiarkan berhadapan vis a vis dengan Alfamart, Sogo, Careffour, Sheel, Sekolah Unggulan, dan sebagainya. Bila kemudian ada stimulus kebijakan untuk membantu usaha kecil dan sekolah, itu hanya riak-riak dan bunyi-bunyian saja. Sebab, perhitungan dan pelaksanaannya juga setengah hati. Justru, pemerintah dengan senang hati menerima proposal-proposal kerja sama dengan investor asing yang terang-terang akan merampok kekayaan negara dan menghabisi nafas rakyat.

Mata rantai setan kemiskinan memang sulit dipotong. Hampir 400 tahun bangsa kita bekerja keras melawan kemiskinan, tapi tidak menghasilkan prestasi yang membanggakan. Generasi miskin akan menjadi pemimpin yang miskin. Miskin segalanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: