Adie Prasetyo

Because History Must be Written

FAZLUR RAHMAN PELETAK DASAR PEMBARUAN PEMIKIRAN ISLAM

Posted by Ndaru Nusantara pada 6 Juni 2010

Jika ingin mengenal salah seorang peletak dasar pembaruan Islam, dialah Fazlur Rahman. Ilmuan yang telah menjadi guru dari para guru pembaruan Islam kontemporer. Di Indonesia, Rahman sendiri telah menginspirasi banyak mahasiswa dan sarjana-sarjana terkemuka. Cak Nur, seorang pemikir bagi tergelarnya wacana neo-modernisme Islam pernah berguru langsung padanya. Tak terkecuali, Syafi’i Ma’arif dan Amien Rais juga pernah menjadi murid Fazlur Rahman. Begitu lekatnya nama Fazlur Rahman dengan gerakan pembaruan pemikiran Islam, sampai-sampai pemikirannya berhasil menjadi arus utama (mainstream) bagi gerakan pembaruan Islam berikut perkembangannya di Indonesia. Selanjutnya

Untuk menelusuri jejak hidup dan pemikiran Rahman, telah banyak diterbitkan buku dan diskusi-diskusi untuk mengupas secara mendalam ide pembaruan pemikiran Islam ala Rahman. Lantas, bagaimana kita memahami pemikiran Rahman? Untuk memahami pemikiran Rahman, tentu tidak lepas dari rekam jejak kehidupannya. Sebab, dari situlah percikan-percikan pemikiran Rahman terbangun. Pengalaman hidupnya telah menjadi muara sungai pengetahuan bagi tercetusnya ide pembaruan pemikiran Islam.

Jejak Rekam dan Karya
Dunia masa kecil, bagi banyak orang merupakan dunia kesenangan. Dunia kanak-kanak adalah dunia permainan dan kemanjaan. Tapi lain bagi ilmuan satu ini. Masa-kanak-kanak adalah suatu masa yang tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, kebijaksanaan serta kecerdasan. Mungkin, itulah prinsip dan laku hidup yang diamalkan oleh Maulana Syahab al-Din, seorang ’kyai kampung’ lulusan Madrasah Deoband, Pakistan. Berpegang pada prinsip ini, ia mendidik anak-anaknya dengan penuh kesabaran, ketekunan dan cinta kasih. Salah seorang anak yang beruntung itu bernama Fazlur Rahman, lahir pada 21 September 1919.

Di dalam keluarga sang kyai, Rahman tergolong anak yang paling cerdas. Dalam usia sepuluh tahun, Rahman sudah hafal Alquran di luar kepala. Kemudian dalam usia empat belas tahun, Rahman sudah mulai akrab dengan ilmu filsafat, bahasa Arab, teologi, hadis, dan tafsir. Dan, dalam usia sekitar 20 tahun, Rahman berhasil menguasai bahasa Persia, Urdu, Inggris, Perancis, dan Jerman. Selain itu, Rahman juga mempunyai pengetahuan tentang bahasa-bahasa Eropa Kuno, seperti Latin dan Yunani.

Karena kecerdasan yang di atas rata-rata itulah, sang ayah mengirim Rahman untuk kuliah di Universitas Punyap, Lahore, Pakistan. Pada tahun 1940, ketika usianya menginjak 21 tahun, Rahman berhasil menyelesaikan program Bachelor of Artnya dengan prestasi yang membanggakan. Ia pun meneruskan program master dalam bahasa Arab di universitas yang sama. Dalam tempo dua tahun, Rahman sukses meraih gelar Master. Seorang master bahasa Arab ini awalnya ingin melanjutkan pendidikannya di negaranya sendiri, atau paling jauh ke Timur Tengah. Namun, karena berbagai informasi dari kolega dan seniornya, Rahman berkeinginan melanjutkan pendidikannya ke benua Eropa. Pilihannya jatuh ke sebuah universitas di Inggris, yakni Universitas Oxford. Di kampus ini, Rahman meramu pengalaman, kecerdasan dan pergaulan intelektualnya dengan banyak mahasiswa asing.

Dalam jenjang waktu ini, Rahman mulai rajin menulis dan menerjemahkan buku. Ada dua buku hasil terjemahannya, yakni Avicenna’s Psychology (1952) dan Avicenna’s De Anima (1959). Kedua buku ini merupakan terjemahan dan suntingan karya Ibn Sina (Avisena). Kemudian, ia juga berhasil menyelesaikan buku Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Sebuah buku yang disarikan dari disertasinya sebagai syarat meraih gelar Ph.D di Universitas Oxford. Dalam buku yang fenomenal ini, Rahman membagi pelacakannya menjadi dua hal. Pertama, untuk melacak pandangan filosof, Rahman mengambil sampel dua filosof ternama, yakni Al-Farabi (870-950) dan Ibn Sina (980-1037). Secara berturut-turut, dikemukakan pandangan kedua filosof tersebut tentang wahyu kenabian pada tingkat intelektual, proses psikologis wahyu tekhnis atau imaninatif, doktrin mukjizat dan konsep dakwah serta syariah. Kemudian kedua, untuk melacak pandangan ortodoksi, Rahman menyimak pemikiran Ibn Hazm, Al-Ghazali, Al-Syahrastani, Ibn Taymiyah dan Ibn Khaldun. Hasilnya, ditemukan kesepakatan aliran ortodoks dalam menolak pendekatan intelektualis-murni para filosof terhadap fenomena kenabian. Memang, kalangan muta’allimun tidak begitu keberatan menerima kesempurnaan intelektual nabi. Tapi, mereka lebih menekankan nilai-nilai syariah ketimbang intelektual.

Dalam buku ini, Rahman sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara posisi filosofis dan ortodoksi. Sebab, perbedaan hanya pada tingkat penekanan saja. Menurut para filosof, nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan Intelek Aktif. Sementara menurut ortodoksi, nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan malaikat. Sementara para filosof lebih menekankan kapasitas alami nabi sehingga menjadi “nabi-manusia,” ortodoksi lebih suka meraup karakter ilahiah dari mukjziat wahyu ini. Kelak, pandangan ini cukup mempunyai pengaruh terhadap pandangan Rahman tentang proses “psikologis” nabi menerima wahyu. Seperti halnya teori para filosof dan kaum ortodoks, Rahman berteori bahwa Nabi mengidentifikasikan dirinya dengan hukum moral.

Dengan disertasi yang mumpuni ini, telah muncul seorang ilmuan-urban yang matang dalam menguasai khazanah Islam klasik. Dialah Fazlur Rahman, anak dari kyai kampung yang berpetualang sampai ke Eropa.

Kemudian, dalam jenjang kehidupan selanjutnya, beberapa saat Rahman mengajar di Durham University, Inggris, dan kemudian menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy di Islamic Studies, McGill University, Kanada. Kemudian, karena ’panggilan jiwanya’ pada Agustus 1962 Rahman kembali ke negaranya. Mengetahui salah satu warga negaranya mempunyai pendidikan tinggi dan ahli Islam, pada tahun 1964 pemerintah Pakistan mengangkat Rahman menjadi anggota Advisory Council of Islamic Ideology. Lembaga ini bertugas menafsirkan Islam dalam term-term rasional-ilmiah dalam rangka menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. Selain lembaga ini, ada pula Dewan Penasehat Ideologi Islam, yang bertugas meninjau seluruh hukum, baik yang sudah maupun belum ditetapkan, dengan tujuan menyelaraskannya dengan “Alquran dan Sunnah.” Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat, karena Dewan Penasehat bisa meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengajukan saran mengenai rancangan undang-undang.

Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah, Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. Dari sinilah, benih-benih gagasan liberal dan neo-modernisme Islam mulai tumbuh dan menjangkiti pemikiran Islam di Pakistan. Gagasan-gagasan awal tentang neo-modernisme Islam tersebut dapat dilacak dalam buku-buku Rahman, seperti Islamic Methodology in History (1965). Dalam buku ini, Rahman ingin menjelaskan kepada publik tentang dua pokok utama. Pertama, evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar (sumber pokok) pemikiran Islam—Alquran, Sunnah, Ijtihad dan Ijma.’ Kedua, peran aktual prinsip-prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam itu sendiri.

Dalam tataran praksis, gagasan-gagasan Rahman diterjemahkan melalui rekomendasi kebijakan kepada pemerintah Pakistan, antara lain tentang riba dan bunga bank, tafsir sunnah dan hadis, modernisasi zakat, proses turunnya wahyu Alquran, fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis, dan lainnya. Pemikiran dan gagasan demikian mendapat serangan tajam dari para ulama tradisionalis dan fundamentalis.

Tak lama berselang, Rahman berhasil menyelesaikan buku yang menjadi karya utamanya, yakni Islam. Di dalam magnum opusnya itu, Rahman menegaskan bahwa “Alquran itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan—dalam pengertian biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad.” Seperti pengalaman sebelumnya, gagasan-gagasan Rahman yang menyimpang dari mainstream itu mendapat kecaman dari banyak kalangan. Hingga pada akhirnya, puncak dari kontroversi pemikirannya, Rahman mengundurkan diri dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam pada 5 September 1968. Jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam juga dilepaskannya pada 1969.

Petualangan hidup dan pemikiran Rahman tidak berhenti sampai di situ. Merasa ada yang harus dikerjakan bagi kemajuan Islam, akhirnya Rahman memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam dalam segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago. Di sini, Rahman melanjutkan petualangan intelektualnya melalui penyusunan buku-buku bermutu antara lain: The Philosophy of Mulla Sadra (1975), Major Theme of the Qur’an (1980); dan Islam and Modernity: Transformation of an Iintellectual Tradition (1982).

Dari pengalaman hidup serta perjalanan intelektualnya di atas, kita menarik benang merah bahwa karya-karya Rahman pada periode pertama (ketika di Oxford), merupakan kajian yang bersifat historis. Kemudian, pada periode kedua (ketika di Pakistan), bersifat hitoris sekaligus interpretatif (normatif). Dan, karya-karya pada periode ketiga (ketika di Chicago), lebih bersifat normatif murni. Tegasnya, pada periode awal dan kedua, Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. Baru, pada periode ketiga Rahman mengakui dirinya sebagai juru bicara neo-modernisme Islam.

Saripati Pemikiran Rahman
Di dalam buku Islamic Methodology in History (1965), Rahman menjelaskan evolusi perkembangan empat prinsip dasar (Alquran, Sunnah, Ijtihad dan Ijma’). Dalam kajian historisnya ini, Rahman menemukan adanya hubungan organis antara sunnah ideal Nabi Muhammad dan aktifitas ijtihad-ijma’. Bagi Rahman, sunnah kaum muslim awal merupakan hasil ijtihad personal, yakni melalui instrumen qiyas terhadap sunnah ideal nabi SAW yang kemudian menjelma menjadi ijma’ atau ’sunnah yang hidup.’ Di sini, secara tegas Rahman menarik garis yang membedakan antara sunnah ideal nabi SAW di satu sisi, dengan ’sunnah hidup’ kaum muslim awal atau ijma’ sahabat di sisi lain. Dengan demikian, ijma’ pada asalnya tidaklah statis, melainkan berkembang secara demokratis, kreatif dan berorientasi ke depan.

Namun demikian, karena keberhasilan gerakan penulisan hadis secara besar-besaran yang dikampanyekan Syafi’i untuk menggantikan proses sunah-ijtihad-ijma’ tersebut, proses ijtihad-ijma’ terjungkirbalikkan menjadi ijma’-ijtihad. Akibatnya, ijma’ yang tadinya berorientasi ke depan menjadi statis dan mundur ke belakang dan ’mengunci rapat kesepakan-kesepakatan muslim masa lampau.’ Puncak dari proses ini adalah tertutupnya pintu ijtihad, sekitar abad keempat Hijrah atau sepuluh masehi.

Berpijak pada temuan historis ini, Rahman secara terus terang menolak doktrin tertutupnya pintu ijtihad. Rahman mendobrak doktrin ini dengan beberapa langkah. Pertama, menegaskan bahwa ijtihad bukanlah hak privilise eksklusif golongan tertentu dalam masyarakat muslim. Kedua, menolak kualifikasi ganjil mengenai ilmu gaib misterius sebagai syarat ijtihad. Dan ketiga, memperluas cakupan ranah ijtihad klasik. Hasilnya, kesimpulan Rahman, ”ijtihad baik secara teoritis maupun secara praktis senantiasa terbuka dan tidak pernah tertutup.” Tetapi, Rahman pun tampaknya tidak ingin daerah teritorial kebebasan ijtihad yang telah dibukanya—sebagai hasil dari liberalisasinya terhadap konsep ijtihad—menjadi tempat persemaian dan pertumbuhan ijtihad yang liar, sewenang-wenang, serampangan dan tidak bertanggung jawab. Dus, ijtihad yang diinginkan Rahman adalah upaya sistematis, komprehensif dan berjangka panjang. Untuk mencegah ijtihad yang sewenang-wenang dan merealisasikan ijtihad yang bertanggung jawab itulah, Rahman mengajukan metodologi tafsirnya, yang disusun belakangan di Chicago. Dan, dalam konteks inilah metodologi tafsir Rahman yang dipandangnya sebagai “the correct prosedure for understanding the qur’an” atau “the correct methode of Interpreteting the qur’an” memainkan peran sentral dalam seluruh bangunan pemikirannya.

Singkatnya, metodologi tafsir Rahman merupakan jantung ijtihadnya sendiri. Hal ini selain didasarkan pada fakta bahwa Alquran sebagai sumber pokok ijtihad, juga yang lebih penting lagi adalah didasarkan pada pandangannya bahwa seluruh bangunan syariah harus diperiksa di bawah sinaran bukti Alquran. Seperti yang dikemukakan Rahman, ”Seluruh kandungan syari’ah mesti menjadi sasaran penilikan yang segar dalam sinaran bukti Alquran. Suatu penafsiran Alquran yang sistematis dan berani harus dilakukan.

Dalam kaitan ini, justru persoalannya terletak pada kemampuan kaum muslim untuk mengkonsepsi Alquran secara benar. Seperti yang dikemukakan Rahman, bukan hanya kembali kepada Alquran dan sunnah sebagai mana yang dilakukan pada masa lalu, tetapi suatu pemahaman terhadap keduanyalah yang akan memberikan pimpinan kepada kita dewasa ini. Kembali ke masa lampau secara sederhana, tentu saja kembali ke liang kubur. Dan, ketika kita kembali kepada generasi muslim awal, pasti kita temui pemahaman yang hidup terhadap Alquran dan sunnah.

Kemudian, di dalam buku Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (1982), Rahman merekomendasikan perlunya pembedaan antara Islam normatif dan Islam historis. Menurutnya, Islam normatif adalah ajaran-ajaran Alquran dan Sunnah Nabi yang berbentuk nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip dasar. Sedangkan Islam historis adalah penafsiran yang dilakukan terhadap ajaran Islam dalam bentuknya yang beragam. Di satu sisi, pembedaan ini mensyaratkan adanya penafsiran yang sistematis, holistik, dan koheren terhadap Alquran dan Sunnah, sehingga nilai-nilainya yang transenden bisa digali dan ditemukan. Sementara di sisi yang lain, pembedaan tersebut juga mengharuskan adanya analisis dan peniliaian yang kritis terhadap praktik dan penafsiran Islam oleh para pemeluknya sepanjang sejarah. Dengan demikian, dari sisi yang pertama kita akan mengetahui prinsip-prinsip dasar normatifitas agama Islam. Untuk itu dibutuhkan metodologi yang tepat untuk menafsirkan secara akurat pesan-pesan normatif Alquran maupun Sunnah.

Sedangkan dari sisi historis, kita akan mengetahui dimensi kesejarahan atau historisitas agama Islam. Hal ini ditujukan agar nilai-nilai agung dari aspek sejarah Islam tersebut bisa dieksplorasi lebih jauh ke depan. Untuk itu, diperlukan pula metodologi yang tepat untuk menyelami sejarah tersebut secara kritis. Pendekatan yang ditawarkan Fazlur Rahman untuk berinteraksi dengan Islam yang menyejarah itu adalah analisis historis. Melalui pendekatan historisis ini pula, sains-sains Islam sebagai aspek historis harus dilestarikan. Sebab, menurut Rahman, Islam historis telah memberikan kontinuitas kepada dimensi intelektual dan spritual masyarakat. Melalui aspek historis, kajian yang menyeluruh dan sistematis terhadap perkembangan disiplin-disiplin Islam harus dilakukan. Kajian tersebut dibarengi dengan rekonstruksi yang juga bersifat komprehensif meliputi disiplin-disiplin keislaman yang ada. Sebab, suatu bentuk pengembangan pemikiran Islam yang tidak berakar dalam khazanah pemikiran Islam klasik atau lepas dari kemampuan menelusuri kesinambungannya dengan masa lalu adalah tidak otentik.

Karena Rahman adalah seorang guru serta inspirator, kita patut meneladani, mempelajari, mewarisi dan menghidupkan kembali gagasan progresif-modernis Islam sebagai tiang kemajuan Islam di masa kini dan masa depan. Saripati pemikiran neo-modernisme Islam Rahman, meminjam Cak Nur, berpijak pada adagium “al-Muhaafazhatu `ala al-qadiim al-shaalih wal-akhdzu bil-jadiid al-ashlah (Memelihara warisan lama yang masih baik, namun jika ada kreasi baru yang lebih baik, maka yang baru itulah yang dipakai).” Dan, karena Rahman adalah seorang peletak dasar, generasi masa kini selayaknya bertugas mengembangkan dan membangun kembali pemikiran Islam agar selalu selaras dan seiring-sejalan dengan perkembangan zaman. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: