Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Albert Hourani: Sejarawan Arab Yang Ensiklopedis

Posted by Ndaru Nusantara pada 22 Agustus 2010

Oleh: M. Yudhie Haryono

Di antara sejarawan yang begitu serius menuliskan sejarah Timur-Tengah adalah Albert Hourani. Hourani memang sejarawan aktif. Roger Hardy dalam obituary bertanda, Monday, 18 January 1993 dalam jurnal Middle East Quarterly, menyebutnya sebagai “was a leading historian of the Middle East.” Karyanya sangat mendalam dan tebal-tebal. Sebut saja misalnya, A History of the Arab Peoples (1991), Syria and Lebanon (1946), Minorities in the Arab World (1947), Arabic Thought in the Liberal Age 1789-1939 (1962), Islam in European Thought (1992), dan The Emergence of the Modern Middle East (1981).

Dalam buku, Sejarah Bangsa-bangsa Muslim (Mizan Bandung, 2004), Albert Hourani Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini. meletakkan kajiannya dengan subjek sejarah belahan utama Dunia Islam, yaitu bangsa Arab, dari periode kemunculan Islam hingga kini. Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim adalah sebuah karya rintisan, kalau tidak dikatakan terobosan, dalam tradisi penulisan sejarah Islam yang selama ini terlalu menekankan narasinya pada peristiwa-peritiwa politik. Tulisan sejarah yang political oriented biasanya hanya berkutat pada persoalan kekuasaan di tangan para elite dan berpusat di istana atau pemerintahan, dan karenanya, kerap gagal merekam gejolak dan proses-proses sosial yang terjadi dalam masyarakat. Hourani tidak puas dengan kecenderungan pendekatan politik dalam penulisan sejarah yang sudah menjadi mainstream ini. Alih-alih memfokuskan kajiannya pada peristiwa-peristiwa politik dan militer (perebutan kekuasaan, perluasan wilayah, dan peperangan), Hourani malah menariknya ke wilayah sosial dan kultural (mobilitas penduduk, kesejahteraan masyarakat, dan pertukaran budaya).

Karena itu, sesungguhnya, dalam buku ini, Hourani lebih memerankan dirinya sebagai seorang sosiolog ketimbang sejarahwan. Ini dapat dipahami, karena apa yang ditulisnya merupakan rentetan sejarah social yang meletakkan fokus pembahasannya pada dinamika dan pergeseran pola-pola hubungan sosial yang terjadi dalam masyarakat Arab.

Selain itu, Hourani menghadirkan panorama yang ensiklopedis rekaman perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Muslim selama dua belas abad. Bagaimana Islam meluaskan pengaruh dunia Arab-Muslim dari mulai Pantai Atlantik hingga Irak dan Laut Hindia. Bagaimana Islam yang universal berdialog dengan keunikan geografis dan tradisi historis masing-masing kawasan yang menerima Islam. Bagaimana respons Dunia Islam terhadap ekspansi kolonialisme perdagangan dan politik Eropa. Bagaimana dengan akar-akar keagamaan, aliran-aliran, otoritas, dan tradisi kaum Muslim itu sendiri. Inilah persoalan-persoalan yang dibahasnya melalui pendekatan sejarah sosial.

Tentu, buku ini disajikan dengan pembahasan yang mendalam, lugas, seimbang, dan objektif. Karena itu buku ini menjadi sangat penting dan bisa menjadi penyeimbang untuk mendapatkan pemahaman yang akurat tentang perjalanan panjang masyarakat Muslim dalam berinteraksi dengan masyarakat dan budaya lain, terutama Eropa.

***

Bagi Albert Hourani, dunia Timur-Tengah sangat menarik karena empat hal. Pertama, daerah itu merupakan ibu kandung atau hulu dari agama-agama besar, agama-agama Semit (Abrahamic Religions). Kedua, konflik yang tak berkesudahan dari sumber yang sama yaitu agama-agama Semit. Ketiga, memiliki sejarah yang sama tapi tak serupa. Agama Yahudi hadir dengan formula: datang-tak bertanding-menang (veni, unvidi, vici). Kristen dengan pengalaman: datang-beranding-kalah (veni, vidi, unvici). Sedangkan Islam datang dengan sejarah: datang-bertanding-menang (veni, vidi, vici). Sedang alasan keempat adalah, Albert Hourani yakin bahwa Timur-Tengah akan selalu menjadi pusat “keanehan dunia” karena daerah itu memiliki hal-hal yang tak dimiliki daerah lainnya, sehingga ia tak begiru optimis agama dari Timur-Tengah akan menjadi aktor utama perdamaian dunia.

Dengan alasan itulah, Albert Hourani memulai riset penulisannya dengan serius dan panjang. Sebagai proyek besar dari riset sejarah sosial yang dahsyat, Hourani memulai pembahasannya dengan menuliskan bab per abab yang rinci: Bab pertama: Penciptaan Sebuah Dunia. Berisi sejarah tentang; Kekuasaan baru di dunia kuno, Pembentukan sebuah imperium, Pembentukan sebuah masyarakat, dan Artikulasi Islam.

Bab kedua: Masyarakat Muslim Arab. Berisi sejarah tentang; Dunia muslim arab, Daerah pedesaan, Kehidupan kota-kota, Ajaran-ajaran Islam, Budaya ulama, Jalan pemikiran yang berlawanan, serta Budaya istana dan rakyat. Bab ketiga: Masa Dinasti Utsmaniyyah. Berisi sejarah tentang; Imperium Utsmaniyyah, Masyarakat utsmaniyyah, Kesimbangan kekuasaan yang berubah.

Bab keempat: Era Imperium Eropa. Berisi sejarah tentang; Kekuasaan eropa dan pemerintahan reformis, Imperium eropa dan para elite dominan, Budaya imperialisme dan pembaruan, Puncak kekuasaan eropa, serta Jalan hidup dan pemikiran yang berubah. Bab kelima: Era Negara Bangsa. Berisi sejarah tentang; Akhir imperium-imperium, Masyarakat yang berubah, Budaya nasional, Puncak arabisme, Persatuan dan perpecahan arab, Sebuah guncangan jiwa, Peta-peta, serta Silsilah dan dinasti.

***

Beberapa hipotesanya menantang kita untuk kembali membuka pikiran dan data. Misalnya, Hourani menulis bahwa, “ketika terjadi suatu perubahan umat atas kondisi-kondisi yang ada maka itu berarti seolah-olah seluruh makhluk telah berubah dan segenap dunia pun tergantikan, padahal tidak selamanya demikian. Ada yang tetap dan diacu oleh manusia.” Sebagai contoh, kata Hourani, ketika bangsa Yunani dan Persia telah digantikan oleh bangsa Arab yang kekuatan dan kekuasaannya menciptakan dinasti luas membentang dari Arabia hingga Spanyol maka seakan-akan dunia berubah. Pusat peradaban dunia berganti.

Tetapi, sesungguhnya yang berganti hanya pusat-pusat peradaban, tidak dengan tempat-tempat ziarah atau kota-kota suci dan warisan kitab suci. Sebagai contoh, tempat ziarah orang Yahudi, Islam dan Kristen masih sama. Mekkah dan Jarusalem, sebagai dua kutub dunia manusia tetap langgeng kendatipun kekuasaan berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Dan, itu semua karena satu kata: iman seseorang. Iman kepada satu Tuhan yang mencipta dan memelihara dunia ini telah memberikan makna di tengah permainan takdirlah yang menyebabkan perubahan peradaban tidak merubah tempat ziarah dan kota suci.

***

Selebihnya yang tak berubah adalah warisan “tulisan kitab suci agama.” Walau berbeda-beda, cara waris manusia terhadap kitab sucinya relatif sama, iman pada isinya juga sama: dunia ini akan berakhir, Tuhan Maha Kuasa—yang telah menciptakan manusia—akan mengadili mereka semuanya. Kesenangan surga dan siksa neraka dilukiskan dengan cara yang gamblang.

Selebihnya Hourani berkesimpulan bahwa jika dilihat dengan seksama, nama yang dipakai manusia Arab untuk Tuhan adalah “Allah.” Sebuah nama yang telah digunakan sebelumnya untuk salah satu dari dewa-dewa lokal (kini nama ini juga digunakan oleh penganut Islam, Yahudi dan Kristen yang berbahasa Arab sebagai nama Tuhannya).

Singkatnya, Alebrt Hourani berkesimpulan bahwa warisan peradaban yang selalu ada adalah kepercayaan pada kekuatan luar yang luar biasa yang tercermin dari “tetapnya” kota suci dan kitab suci. Dalam konteks yang lebih spesifik, Hourani berargumen bahwa walaupun negeri-negeri Arab terbagi ke dalam dua bagian tetapi mereka tetap mewarisi hal yang sama.

Kedua bagian itu adalah: Pertama, bagian yang di dalamnya bahasa Arab merupakan bahasa khusus budaya tinggi. Kedua, bagian yang di dalamnya bahasa Arab dan Persia digunakan untuk maksud yang berbeda. Tetapi dalam dua bagian itu, bahasa Arab menjadi ciri utama bangsa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa tua yang memiliki kekhususan tersendiri. Menjadi alat interaksi hampir seperenam penduduk bumi.

Dari dua bagian teritorial Arab itu juga sama dalam hal tanaman. Terdapat tiga tanaman yang sangat penting bagi mereka. Pertama, pohon zaitun, yang menghasilkan makanan, minyak, dan bahan bakar untuk lentera. Pohon zaitun dapat tumbuh di tempat yang curah hujannya tinggi dan tanah berpasir. Kedua, tanaman gandum dan biji-bijian lainnya yang dipakai untuk konsumsi manusia dan bahan makanan ternak. Ketiga, pohon kurma yang menghasilkan buah kurma. Pohon ini dapat tumbuh subur di tempat yang lengkap air. Ini juga yang membuat Barat selalu ingin menghegemoni Timur-Tengah dan menjadi alasan Barat menjajah bangsa-bangsa Muslim, tegas Hourani.

***

Albert Habib Hourani adalah sejarawan yang andal dengan hipotesa-hipotesanya. Ia hidup dari 31 Maret 1915-17 Januari 1993 dan mendedikasikan hidupnya guna menulis sejarah sehingga menjadi salah satu yang paling menonjol di dunia akademis yang membesarkannya.

Albert Hourani dilahirkan di Manchester, Inggris. Ia adalah anak dari Soumaya Rassi dan Fadlo Issa Hourani, imigran dari Marjayun, [sekarang Libanon Selatan]. Saudara-saudaranya yaitu George Hourani dan Cecil Hourani. Tradisi keluarganya telah diubah dari Yunani Kolot ke Skotlandia Presbyterianism karena ayahnya merupakan ketua dari gereja lokal di Manchester. Tetapi, Albert Hourani sudah berpindah agama menjadi Katolik sewaktu dewasa.

Tahun 1933, ia masuk Magdalen College, Oxford untuk belajar filsafat, politik, dan ekonomi (dengan penekanan pada hubungan internasional). Ia lulus pada tahun 1936, kemudian berangkat ke Timur Tengah, dan selama dua tahun mengajar ilmu politik di American University Beirut. Selama Perang Dunia II, ia bekerja di Royal Institute of International Affairs dan di kantor British Menteri Negara di Kairo. Setelah berakhirnya perang, ia bekerja di Kantor Arab di Yerusalem dan London, di mana ia membantu menyiapkan Arab untuk Anglo-American Committee of Inquiry.

Setelah itu, ia mendedikasikan sisa hidupnya dalam dunia akademis. Beberapa tahun kemudian, ia mengajar sejarah Arab di Magdalen College sampai menjadi pengajar utama. Dan, terakhir menjadi Direktur St. Antony’s College Middle East Centre. Hourani kerap diundang oleh universitas-universitas di Amerika dan Timur Tengah. Karena dedikasinya, ia mendapat pengakuan dan sejumlah penghargaan.

Sebagian besar karya Albert Hourani merefleksikan apresiasinya terhadap tradisi intelektual Timur Tengah dan Barat. Juga merupakan usaha-usaha untuk saling memperkenalkan antara peradaban Timur dan Barat yang dilakukan dengan sangat serius. Baginya, hubungan Timur-Barat haruslah saling melengkapi dan saling menghormati, bukan saling menghancurkan. Singkatnya, Albert Hourani adalah seorang penafsir yang bergulat dengan proses-proses historis sampai berhasil mengungkapkan kehidupan sosial dari peradaban yang berbeda. Sebelum meninggal ia telah menghasilkan 8 buku, menyunting 7 buku, dan menulis lebih dari 150 artikel dan 100 resensi.

Walaupun ia seorang Kristen yang taat, rasa respeknya pada agama lain sangat luar biasa. Profesor Derek Hopwood (1993) menulis sebagai rasa kagumnya terhadap Hourani ketika tokoh ini meninggal dalam obituari dengan mengatakan bahwa, “he found many positive factors in many religions that strengthened his respect for it as a faith and as a way of thought.” Hal ini karena agama-agama [terutama Islam] kata Albert Hourani, memiliki manifestasi dan spirit kemanusiaan sebagai refleksi ketuhanan. Menjadi Islam dalam risetnya, “adalah menjadi juru selamat manusia dan alam raya.”[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: