Adie Prasetyo

Because History Must be Written

PASANG SURUT NEGARA-NEGARA DI NUSANTARA

Posted by Ndaru Nusantara pada 22 Agustus 2010

Oleh: Solikhin dan Iwan Gunawan

Indonesia dan Nusantara

Nusantara merupakan istilah unik dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Hasil dari dialektika antara pengamalan pancasila sebagai dasar negara, pengalaman hidup menjadi sebuah bangsa dan ikut serta dalam kemajuan peradaban umat manusia. Mencerminkan identitas yang berfungsi untuk mengembangkan kehidupan bernegara dan diakui dalam pergaulan dunia. Maka dari itu, istilah nusantara merupakan upaya dari negara Indonesia untuk memiliki penguasaan atas cara-cara penempatan diri di kawasan yang menjadi lingkungan hidupnya. Di mana unsur utama dari negara terdiri dari wilayah, warga dan pemerintahan.

Hidup bernusantara merupakan bentuk lanjut dari sejarah dalam berbangsa.  Melalui Sumpah Pemuda, upaya pembentukan negara merdeka berhasil diperjuangkan  dengan tekad seluruh warga. Untuk menjadi satu bangsa dalam satu tanah air dan satu bahasa. Dan dengan nusantara, Indonesia bermaksud ingin menjalin hubungan antar negara. Untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dimana nusantara adalah kawasan yang menjadi lokasi Indonesia dan negara lainnya hidup bersama. Dengan demikian, nusantara adalah karakter dari negara Indonesia yang hanya bisa langgeng hidupnya apabila menerapkan tiga aspek yang melingkupinya, yaitu wilayah, wawasan dan hubungan politik dalam mencapai tujuannya.
Wilayah Nusantara. Arti nusantara pada satu sisi, dinyatakan adalah nama bagi seluruh kepulauan Indonesia (KBBI: 1989). Namun pada sisi lain, nusa artinya kepulauan, antara artinya di antara dua benua dan dua samudera. Benua Asia dan Australia, serta samudera Hindia dan Pasifik. Dengan demikian, pengertian nusantara sesungguhnya adalah kawasan kepulauan dimana terdapat negara-negara, termasuk Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbentang sekitar tujuh belas ribuan pulau, mulai dari Sabang sampai Marauke. Dan melalui asas kepulauan, pulau – pulau Indonesia merupakan kesatuan utuh, dimana lautan berfungsi sebagai penghubung, bukan pemisah.

Pada kenyataan lain, luas lautan Indonesia mencapai dua kali lebih besar dari daratan. Oleh sebab itu, pengelolaan kelautan atau kemaritiman, strategis untuk dikembangkan oleh negara. Utamanya untuk menjamin kedaulatan dan integritas wilayah dari berbagai ancaman melalui pembangunan pertahanan. Dan memanfaatkan potensinya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan  pembangunan pelayaran dan perniagaan. Dimana wilayah Indonesia terletak pada lokasi geografis yang menjadi jalan silang dunia. Sehingga lautan di nusantara bukan hanya sebagai penghubung antar pulau atau negara. Namun, juga sumber daya milik dunia. Suatu wilayah ruang hidup (lebensraum) yang sangat luas dan penting dikelola demi kelanggengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, perlu dikembangkan teknologi yang berorientasi outward looking untuk meneguhkan perluasan wawasan para warga negaranya.

Wawasan Nusantara

Untuk menjamin kelangsungan hidup, keutuhan wilayah dan jati diri, bangsa Indonesia jangan sampai kehilangan klaim terhadap  nusantara. Karena, ia bukan hanya sekedar istilah wilayah kawasan, akan tetapi juga wawasan dalam mewujudkan kedaulatan. Dimana wawasan nusantara adalah konsep kesatuan politik, ekonomi, pertahanan dan keamanan, dan sosial budaya.  Yang  dimaksudkan sebagai cara pandang negara Indonesia terhadap dinamika kawasan yang mengelilinginya. Karenanya, nusantara selain sebagai lokasi geografis untuk menjalin hubungan dengan negara sekitarnya. Juga, pandangan geopolitik yang mencerminkan kehendak untuk menjadi maju dan bermartabat bersama negara di sekelilingnya.

Sebagai wawasan, nusantara dapat dipahami melalui pendekatan filosofis, sosiologis dan historis. Secara filosofis, nusantara merupakan implementasi dari Pancasila. Dalam arti, sebagai bentuk upaya mengembangkan pertahanan wilayah dari ancaman luar dan juga memperkokoh ikatan warga sebagai satu bangsa. Wujud dari pengamalan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan Indonesia. Dan secara sosiologis, jalinan hubungan warga antar negara merupakan kenyataan alami yang dapat menumbuhkan kemajuan hidup umat manusia. Oleh karena
itu, potensi warga perlu dikembangkan demi tercapainya sikap saling menghormati dan menghargai kedaulatan dari masing-masing negara. Sehingga warga Indonesia dapat diakui sebagai bangsa yang unggul dalam pergaulan di dunia. Juga, secara historis, menjadikan masa lalu sebagai sumber pengalaman bagi usaha mengembangkan kehidupan bernegara. Dengan menyempurnakan aspek positif yang menjadi kelanggengannya. Dan menanggalkan aspek negatif yang melemahkannya. Sehingga masa depan bangsa tidak menjadi sengsara disebabkan oleh kesalahan yang sama.

Politik Nusantara

Sebagai suatu wilayah, Indonesia merupakan negara yang sangat luas dengan pemilikan kekayaanalam yang melimpah. Dan sebagai negara, penduduk Indonesia berjumlah besar dengan primordial yang sangat beragam. Oleh karena itu, bagi Indonesia penting untuk membina hidup bersama di kawasan nusantara. Sehingga menjadi lingkungan kondusif bagi kelanggengan hidupnya. Melalui pengertian nusantara, nilai-nilai bersama perlu dicapai untuk menjamin tumbuhnya persahabatan dan kerjasama antar negara. Dan dengan itulah, diharapkan Indonesia sanggup menjadi negara besar yang diakui oleh dunia melalui kawasan nusantara yang menjadi lingkungannya.

Melalui kawasan dan wawasan nusantara,Indonesia dengan bersama negara sekeliling perlu terus mengembangkan hubungannya. Dimana pengertian nusantara merupakan kunci bagaimana maksud-maksud dari hubungan antar negara di Asia, Australia, Pasifik, dan juga dunia global dapat tercapai. Sebab pada kenyataannya, setiap negara di sekeliling Indonesia dan dunia selalu tidak dengan mudah untuk saling menghormati dan menghargai kedaulatan dari masing-masing negara. Kenyataan yang perlu diterima sebagai tantangan untuk mampu mengembangkan tatanan bersama di kawasan nusantara. Karenanya, wawasan nusantara perlu dipahami sebagai cakrawala pandang yang terbuka dalam mempertahankan wilayah dan memajukan kesejahteraan
warga. Maka itu, selain diperlukan keunggulan maritim bagi penghidupan negara.

Juga, penting untuk menegakkan kehidupan demokrasi sebagai bentuk sikap terbuka untuk menemukan cara terbaik dalam mewujudkan kedaulatan.

Dalam hubungan antar negara, Indonesia memiliki pengaruh yang tidak kecil di wilayah nusantara. Soekarno berhasil merebut kembali Irian Barat dari Belanda. Lebih dari itu, ia  bahkan menjadi tokoh sentral di Asia dan Afrika. Sementara, Soeharto berhasil mengendalikan Timor-Timur dan sanggup  membina hubungan regional di ASEAN (Asosiasi negara-negara Asia Tenggara). Di mana selama berkuasa sangat dihormati para kepala negara ASEAN. Dalam era reformasi, meskipun Indonesia berpenduduk banyak dan sangat beragam. Kini, dikenal sebagai negara besar yang sanggup melaksanakan demokrasi dalam kehidupan politiknya.

Sebagaimana dicapai oleh Amerika dan India. Suatu keunggulan yang dihargai oleh negara-negara didunia dan perlu disempurnakan agar memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun demikian, kini masih terjadi penggerogotan di berbagai sudut wilayah. Kecenderungan yang menunjukan gejala dari lemahnya kesanggupan dalam  mewujudkan kedaulatan. Wawasan nusantara dengan demikian, penting untuk dipahami kembali (reinterpretasi) sebagai dasar dalam mempertahankan keutuhan wilayah dan memelihara ruang eksistensi politik. Malaysia mungkin sudah sejak lama mengerti akan wawasan orang Indonesia, karena Sriwijaya pernah berkuasa di wilayahnya.

Juga Australia yang tak menghendaki Indonesia kuat, karena menganggap bisa menjadi ancaman terhadap wilayah dan pengaruhnya. Tercermin dari sikap konfrontasi atas penguasaan Timor-Timur di jaman orde baru. Bahkan, negara kecil Singapura berlindung kepada Amerika agar kepentingannya tidak terbatasi oleh kedaulatan wilayah negara sekitarnya, termasuk Indonesia.

Wawasan nusantara sebagai pandangan kewilayahan dan kewargaan, dengan demikian implementasinya sangat tergantung pada kekuatan pemerintahan. Bila memiliki kekuatan yang besar bisa menjangkau lebih luas wilayah lautan sepanjang dua samudera. Namun, bila lemah maka dengan mudah dapat diserobot negara lain.

Seperti Malaysia dan Singapura yang kini mengklaim perwilayahan di sekitar Selat Malaka. Bahkan tak jarang warga Indonesia mengalami pelecehan yang menyakitkan dalam pergaulan dengan warga lain negara. Cermin dari masih lemahnya pemerintahan dalam memajukan kehidupan para warga bangsanya.

Hal itu harus menjadi peringatan bahwa negara kepulauan Indonesia yang terbentang luas usianya tidak akan bertahan lama. Jika, tak tumbuh tekad yang kuat dan pemikiran maju untuk menempatkan diri pada posisi yang layak di tengah dinamika negara sekitarnya. Sinyal yang harus menjadi greget bagi bangsa, untuk sanggup melampaui keunggulan dari kerajaan-kerajaan generasi masa lalu.

Sriwijaya berdaulat sepanjang 325 tahun dan Majapahit 227 tahun dengan penguasaan terhadap wilayah yang luas dan segenap penduduknya. Pengalaman sejarah bangsa yang penting dalam pengamalan pancasila untuk mencapai kehidupan Indonesia yang semakin adil dan makmur. Memerlukan perikehidupan dunia yang damai dengan memelihara ketertiban kawasan melalui jalinan persahabatan dan kerjasama atas dasar kemerdekaan dari masing-masing negara.

Pasang Surut Negara-Negara
Secara historis, di wilayah Indonesia pernah berdiri lebih dari 22 kerajaan atau negara. Diawali dari kerajaan Kutai yang dipimpin oleh Mulawarman pada tahun 400 di bagian timur Kalimantan, sampai NKRI sekarang yang diperjuangkan melalui revolusi kemerdekaan dari penjajahan Belanda pada tahun 1945. Di antara itu, Sriwijaya dan Majapahit merupakan negara besar yang masing-masing  berdiri pada tahun 700 dan 1293.

Selain dari Sriwijaya dan Majapahit, kerajaan lainnya telah  mencapai kebesaran melalui usia yang mencapai lebih dari seratus tahun. Diantaranya adalah Mataram Hindu, Kediri, Pajajaran, Aceh Darussalam, Mataram Islam dan Pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan kerajaan yang tidak sampai berusia seratus tahun di antaranya Singosari, Demak, Banten dan Ternate. Sementara itu Kutai, Tarumanegara, Kalingga, Medang, Kahuripan, Goa Makassar, Surakarta, Yogyakarta dan koloni Jepang  usianya tidak begitu lama.

Wilayah kerajaan Sriwijaya meliputi seluruh Sumatera, Jawa, sebagian Kalimantan, dan ke arah utara hampir meliputi seluruh Asia Tenggara, termasuk  Thailand. Majapahit yang berpusat di Jawa bagian timur dan didirikan oleh Raden Wijaya dengan menguasai sebagian besar pulau Jawa, Madura, Bali dan mencapai pulau-pulau lain di Indonesia sebelah timur.  Kerajaan Demak hampir menguasai seluruh tanah Jawa sebelum ditaklukan Belanda.

Sebagai wilayah kepulauan yang luas dan kaya, Indonesia merupakan wilayah yang memiliki daya tarik bagi berbagai bangsa untuk mendudukinya. Oleh karena itu, kerajaan-kerajaan yang  berdiri merupakan jalinan yang tidak bisa dilepaskan dengan mata rantai dinamika bangsa-bangsa di dunia, utamanya pengaruh dari kemajuan peradaban besar seperti India dan Cina. Berkembang dengan berpijak pada kehidupan agama yang diawali dengan tersebarnya agama Hindu, Budha, Islam sampai Kristen dan lainnya. Karakter masyarakat yang terbuka dalam menyerap peradaban dunia bagi pergaulan hidup para penduduknya.

Garis keturunan yang saling terkait di antara para raja di nusantara, mencerminkan kecenderungan feodalisme di dalam menjalankan kekuasaan bernegara. Istilah priyayi merupakan bentuk bagaimana roda kekuasaan dikendalikan. Priyayi artinya para  dan yayi atau adipati (famili raja)  yang kemudian diberi wilayah untuk dikuasai dengan membayar upeti terhadap raja. Suatu perwujudan sistim pemerintahan yang dilaksanakan secara  terpusat melalui upeti sebagai relasi penaklukan dengan bentuk negara yang desentralistik. Dimana para adipati memiliki otonomi penuh dalam menjalankan kekuasaan di wilayahnya sebagai raja “kecil.”

Melalui rentang waktu yang sangat panjang mulai dari kerajaan Kutai sampai dengan kelahiran NKRI, tampak bahwa nusantara merupakan wilayah yang sangat dinamis. Dimana kerajaan-kerajaan mengalami kejayaaan dan keruntuhan sejalan dengan kesanggupannya untuk menemukan cara-cara yang unggul dalam mengendalikan wilayahnya. Karena itu, negara-negara besar yang langgeng dalam waktu sangat lama merupakan negara yang memiliki pengaruh wilayah yang sangat luas di nusantara. Seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Pemerintahan Hindia-Belanda. Oleh sebab itu, dari ketiga negara tersebut terkandung khazanah pengalaman yang kaya dalam pengelolaan kekuasaan di nusantara sebagai wilayah kepulauan.

Kerajaan Sriwijaya berpusat di Sumatera bagian selatan. Secara geopolitik bisa berkembang karena globalisasi, ketika Cina dan India berhubungan dengan melewati Selat Malaka. Selat Malaka kemudian menjadi lalu lintas perdagangan skala besar yang ramai. Kerajaan yang dipimpin dinasti Syailendra ini kemudian menjadi negara maritim yang maju. Bahkan karena berada diantara dua kekuatan, mampu menjadi kekuatan ketiga, baik aspek pertahanan dan keamanan maupun ekonominya.

Berkembang pesat denganmenjadi pusat peradaban agama Budha. Universitas Sakyakirti yang didirikan merupakan tempat dimana orang India sendiri belajar agama Budha di Sriwijaya. Kejayaan Sriwijaya kemudian dianggap sebagai ancaman oleh negara-negara di sekitarnya. Sehingga kemudian sering menjadi sasaran penyerbuan. Serangan pertama dari Raja Medang yang berpusat di Jawa bagian timur pada tahun 990.

Penyerangan dari kerajaan Colamandala (Srilanka) terjadi berulang kali antara tahun 1023 sampai 1068. Meskipun tidak mengalami kehancuran namun secara perlahan memperlemah kendali terhadap wilayah kekuasaannya yang sangat luas. Sriwijaya kemudian menjadi wilayah penaklukan Majapahit pada tahun 1477.

Gejala dari kenyataan belum terciptanya suatu tatanan bersama di nusantara untuk saling menghormati kedaulatan masing-masing yang kemudian telah menimbulkan kehancuran suatu negara. Selain dari budaya feodalisme yang menjadi sumber terjadinya pergantian kekuasaan secara berdarah pada  setiap negara di nusantara. Airlangga membangun kerajaan Kahuripan dengan susah payah dan kemudian menjadi besar. Namun karena putra mahkotanya yang perempuan tidak mau jadi raja. Maka, kemudian wilayah kerajaan dibelah  menjadi Jenggala dan Kediri.

Disebabkan perebutan kekuasaan diantara kedua anak laki-lakinya. Dua kerajaan itu lalu bertikai sendiri dan akibatnya secara perlahan rontok. Kerajaan Singosari waktunya habis karena geger yang terkenal dengan tragedi Keris Empu Gandring. Kerajaan Demak juga mengalami pertentangan yang tajam, mulai dari jaman Raden Fatah sampai keturunannya. Pertikaian yang tak usai dalam keluarga kesultanan untuk menduduki takhta kekuasaan. Kerajaan-kerajaan itu secara internal tak pernah mengalami kehidupan yang kompak. Kekuatan balatentara dan pemerintahan kerajaannya menjadi lemah. Karena tidak pernah memiliki tatanan yang stabil, kesejahteraan rakyat tidak terjamin. Maka kerajaan-kerajaan itu usianya tidak lebih dari seratus tahun.

Hanya ketika Kertanegara berkuasa Singosari bisa membangun. Namun, karena kesalahan strategi dan selalu dibayang-bayangi dendam dari kerajaan Kediri, kekuasaannya tak bertahan lama. Ekspedisi balatentara besar-besaran Singosari ke Pamalayu mengakibatkan pusat kerajaan tidak memiliki cadangan kekuatan militer untuk menghadapi ancaman luar. Karenanya, kemudian dengan mudah ditaklukan oleh Jayakatwang, raja dari Kediri. Ardaraja menantu Kertanegara yang mestinya membela kerajaan malah memberikan informasi kelemahan balatentara pada Jayakatwang, ayahnya sendiri. Singosari kemudian runtuh karena penghianatan dari dalam.

Raden Wijaya yang juga menantu Kertanegara kemudian melarikan diri ke pamannya di Madura. Namun kemudian diperintahkan supaya mengabdi pada Jayakatwang. Ia kemudian diberi daerah kekuasaannya di tanah perdikan daerah Tarik, dengan pusatnya yang diberi nama Majapahit. Majapahit menjadi besar diawali dari munculnya pasukan Mongol yang ingin balas dendam terhadap raja Kertanegara, yang telah ditaklukan Jayakatwang raja Kediri. Raden Wijaya lalu bersekutu dengan pasukan Mongol untuk melawan Jayakatwang. Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol yang kemudian terdesak menarik pulang pasukannya. Kediri kemudian hancur akibat pemberontakan Majapahit yang kemudian menjadi kerajaan besar.

Kejayaan Majapahit diawali dari kehidupan agraris dan kemudian berkembang menjadi negara maritim yang kuat. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi perdagangan dengan India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota-kota kerajaan dibawahnya terutama di pulau Jawa. Gajah Mada, seorang patih di Majapahit kemudian diangkat menjadi mahapatih kerajaan untuk memperluas kekuasaan menjangkau seluruh kawasan nusantara. Dimana Majapahit kemudian menjadi pusat dari peradaban agama Hindu. Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah, disebabkan terjadi perang saudara, perang Paregreg tahun 1405-1406. Pula pertengkaran pergantian kekuasaan di tahun 1450-an. Sampai timbulnya pemberontakan besar pada tahun 1468.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Dan memasuki abad ke-15, pengaruh Majapahit di kawasan nusantara melemah. Sehingga muncul Kesultanan Malaka sebagai konsentris perdagangan dan penyebaran Islam di nusantara. Beriringan dengan itu, Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa pada tahun 1478.

Demak di bawah Pati Unus adalah Demak yang berwawasan nusantara. Dengan visi menjadikan Demak sebagai kesultanan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Dengan adanya Portugis di Malaka, kehancuran pelabuhan-pelabuhan nusantara tinggal menunggu waktu. Kesultanan Demak lalu mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan antar kerabat kerajaan.

Pertikaian kerap terjadi dalam setiap pergantian kekuasaan pada masing masing kerajaan di Indonesia. Kenyataan dimana budaya feodal sangat kuat melekat dalam tatanan kekuasaan para raja dan menjadi sumber keruntuhannya. Dalam budaya jawa sendiri dikenal budaya “ngluruh”, dorongan untuk  menaklukan. Kisah pewayangan sebagai khazanah budaya bangsa, topik dari ceritanya adalah pertikaian.

Karenanya, apakah betul budaya bangsa Indonesia halus ? Padahal riwayat kerajaan-kerajaan di nusantara para rajanya berebut kekuasaan melalui cara kekerasan. Pada budaya kekuasaan jawa juga dikenal istilah “bedah kuto, boyong putri.” Sebuah tradisi feodal yang berarti menyerang kota untuk diambil putrinya sebagai upeti. Cerita terkenal Roro Mendut mencerminkan hal ini. Mataram mengalahkan Jepara dengan mengutus Tumenggung Wiroguno, untuk melakukan bedah kuto terhadap Jepara, sehingga semua harta benda Jepara diboyong ke Mataram.

Suatu budaya yang sangat agresif tetapi dibungkus oleh hal-hal yang halus. Tumbuh dan berkembangnya banyak kerajaan di Indonesia menunjukan bahwa peradaban di wilayah nusantara telah lebih maju dibandingkan Barat sebelum mereka melakukan penjajahan. Pada saat kerajaan Kutai berdiri, Barat belum memiliki peradaban yang berpengaruh seperti sekarang ini. Peradabannya sangat jauh tertinggal bahkan tengah mengalami abad kegelapan. Justru,  ketika kerajaan-kerajaan di kawasan Indonesia sedang mengalami kemajuan bersama India dan Cina.

Sampai kemudian di Eropa terjadi masa pencerahan atau aufklarung yang diawali dari tahun 1250. Hasil dari interaksi dengan peradaban Islam yang berkembang di Timur Tengah. Barat lalu mengalami kemajuan pesat dan selanjutnya sanggup menjajah hampir seluruh dunia. Melalui penaklukan kerajaan Demak pada tahun 1619, Belanda mengawali penjajahan atas bangsa  Indonesia. Menjajah dalam waktu yang sangat panjang hingga terjadinya perebutan kemerdekaan.

Pengalaman pahit yang tak boleh dilupakan. Dijajah oleh negara kecil yang kehidupan peradaban sebelumnya jauh tertinggal. Menguasai luas Indonesia dengan mengadu domba para rajanya. Bentuk kebodohan yang harus dibayar mahal melalui penjajahan selama lebih tiga abad. Keretakan yang sering terjadi dalam pergantian kekuasaan telah menjadi peluang bagi kekuatan luar nusantara untuk menguasai wilayah nusantara. Menggirng para raja di nusantara untuk menjauhkan penghidupan yang berkarakter kemaritiman menjadi masyarakat yang agraris. Di mana kekuatan maritim dikuasai oleh Pemerintahan Hindia Belanda untuk menjajah penduduk kepulauan nusantara. Dengan mempersempit wawasan bangsa terhadap kehidupan dunia luar sebagai sumber peradaban dunia. Terkucil menjadi bangsa yang picik dalam suatu kerajaan yang tidak berdaya atas penjajahan yang bertentangan dengan kemanusiaan.

Dengan lahirnya NKRI struktur demokrasi dapat dibangun melalui adanya tatanan lembaga-lembaga negara dan partai-partai politik. Namun dalam implementasinya tercermin masih melekat budaya feodal. Bung Karno sebagai seorang demokrat berkuasa sampai 20 tahun. Menjadi “raja” melalui pengangkatan sebagai Pemimpin Besar Revolusi (PBR) dan Presiden seumur hidup. Berakhir dengan terjadinya Gerakan 30 September oleh PKI.

Disebabkan budaya demokrasi belum mengakar, Soeharto kemudian menjabat Presiden enam kali berturut-turut melalui proses pemilihan umum sebagai prosedur utama demokrasi. Berkuasa lebih lama dari Soekarno. Awalnya bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen. Namun, karena kecenderungan untuk melanggengkan kekuasaan, maka timbul nepotisme. Menyelewengkan prinsip-prinsip dari demokrasi. Melalui reformasi yang bergejolak, Soeharto lalu jatuh dari kekuasaan di tahun 1998.

Bukti-bukti dari kegagalan negara dalam menegakkan budaya demokrasi sehingga kemudian tertelikung kembali ke dalam budaya feodal. Kegagalan yang perlu untuk selalu disadari bahwa lemahnya akar demokrasi selalu menjadi sumber penyimpangan dalam pelaksanaan kekuasaan. Oleh karena itu, reformasi harus selalu berpijak pada upaya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sehingga rakyat menjadi grass root sejati dalam  kehidupan berdemokrasi. Pengalaman perlu dipetik, bahwa runtuhnya  setiap kerajaan dan kekuasan di bumi Indonesia selalu berulang oleh sebab yang sama. Utamanya karena pergantian kekuasaan yang keras dan berdarah sebagai akibat dari budaya kekuasaan yang feodalistik. Sehingga mudah mengalami perpecahan (fragile). Hendaknya bangsa Indonesia sanggup mengubah budaya feodal yang melekat di dalam praktek-praktek berkuasa. Dengan menghidupkan budaya demokrasi demi melanggengkan eksistensi negara mencapai keinginan luhurnya. Sehingga setiap suksesi kekuasaan ke depan dapat terhindar dari tragedi kekerasan berdarah. Hasil yang telah dibangun oleh generasi terdahulu jangan sampai hancur hanya sekedar karena kepentingan sempit nepotisme untuk berkuasa. Dengan mengabaikan martabat rakyat sebagai sumber dari keberadaan negara yang berdaulat.

Dimensi Kelanggengan dari Suatu Negara

Dari riwayat kerajaan-kerajaan di Indonesia tersimpul pesan bahwa usia yang
panjang dari suatu kerajaan selalu disertai dengan kesanggupan dalam menciptakan pengaruh yang luas di wilayah sekelilingnya. Bukti dari keunggulan dalam membina tatanan bernegara melalui kekuatan-kekuatan nyata yang menjadi dasar kelanggengannya. Kekuatan itu diantaranya adalah balatentara sebagaimana dimiliki oleh Majapahit, birokrasi sebagaimana diterapkan koloni Belanda dan kesejahteraan ekonomi sebagaimana Sriwijaya yang menjadi konsentris perdagangan global.

Kekuatan Balatentara. Pasang surut negara tergantung pada kekuatan balatentara. Majapahit memiliki angkatan laut yang sangat kuat yang dipimpin oleh Laksamana Nala. Di mana untuk menguasai nusantara sebagai wilayah kepulauan mensyaratkan pemilikan angkatan laut yang unggul. Laksamana Nala sangat berperan dalam penguasaan wilayah Majapahit. Bila ada kerajaan lain yang mbalelo dan tidak memberi upeti tahunan, maka diserang dengan bala tentaranya. Kekuatan militer yang lemah mengundang konflik dan pembangkangan berkepanjangan karena tidak ada kekuatan yang dapat menaklukan. Dan sempitnya kesempatan untuk membina kehidupan rakyat yang menjadi eksistensi kelanggengannya. Oleh sebab itu kekuatan balatentara yang dikomando pemerintah pusat menjadi sangat vital.

Kekuatan Birokrasi. Pemerintah Belanda berhasil menjajah Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Hindia Belanda selama tiga setengah abad, disebabkan birokrasinya yang sangat handal. Birokrasi di jaman Belanda menggunakan sistem politik feodalisme dan paradigma sentralistik. Aparatnya dikenal dengan sebutan “Pangreh  Praja,” kaum priyayi yang sangat taat, bersih, dan profesional dalam melaksanakan tugas. Birokrasi yang lemah  membuka peluang bagi ancaman disintegrasi serta buruknya pelayanan publik. Karenanya, apapun sistem politik yang dianut, feodal atau demokratis, paradigmanya sentralistik atau desentralistik, birokrasi harus teguh sebagai sarana pemerintahan. Syarat birokrasi yang kuat adalah hierarki yang jelas dan tidak terputus mulai Pemerintahan Pusat hingga Pemerintahan Daerah. Terfokus pada kualitas aparat yang disertai dengan kepastian jenjang karier dan gaji yang memadai.

Kekuatan Kesejahteraan. Kesejahteraan merupakan hal vital bagi kelanggengan sebuah negara. Bila kesejahteraan lemah kendali birokrasi bisa menjadi kendor. Kekuatan-kekuatan interen keluarga bangsawan pada masa lalu seperti para adipati mbalelo karena kesejahteraannya kurang. Perdagangan yang maju pada masa Sriwijaya telah menjadi pondasi yang kuat untuk membina kesejahteraan rakyat dan pengembangan peradaban di wilayah yang dikuasainya. Karena itu, Sriwijaya dikenal sebagai negara besar, sejahtera, stabil dengan rentang kendali yang kuat. Sehingga sanggup memperluas wilayah kekuasaannya.

Persatuan bisa langgeng terjalin bila kehidupan rakyat di daerah sejahtera. Kemelaratan di daerah dapat memicu timbulnya pemberontakan. Sejarah membuktikan, kerajaan-kerajaan di nusantara mengalami keruntuhan disebabkan lemahnya kemampuan pemerintahan dalam mengelola ekonomi bagi kesejahteraan rakyatnya. Tiga hal diatas merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Tapi yang paling pertama adalah pemilikan kekuatan balatentara utamanya angkatan maritim.

Di atas jaringan balatentara itu kemudian bisa dibangun birokrasi. Dimana dalam kondisi normal sirkulasi ekonomi rakyat dapat berkembang meningkatkan kesejahteraan penduduk yang menjadi sumber kedaulatan suatu negara.

Inilah memori untuk menjadi wawasan bagi seluruh rakyat  Indonesia, bahwa negara yang sekarang dibangun bisa hancur karena kelemahan dalam mengembangkan kekuatan dari dimensi yang menjamin kelanggengan negara. Menimbulkan peluang  bagi pihak luar untuk memecah keutuhan dari persatuan. Disaat pertikaian internal terjadi karena sempitnya wawasan dalam kehidupan bernegara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: