Adie Prasetyo

Because History Must be Written

DI BAWAH BENDERA NEOLIBERAL

Posted by setyonegoro pada 23 Agustus 2010

Pertumbuhan ekonomi! Para pengiman neolib meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi mampu memeratakan ekonomi. Melalui tangan tersembunyi, mereka takwa bahwa pada suatu saatnya akan ketemu titik keseimbangan. Presiden SBY beserta perangkat kekuasaannya juga menjadikan pertumbuhan sebagai “agamanya.” Simak saja pidato SBY yang selalu mematok pertumbuhan yang tinggi. Di akhir 2014 nanti, SBY menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7%. Penjelasan ini diperluas oleh keterangan-keterangan Boediono dengan mengatakan bahwa, “bangsa kita tidak mungkin melepaskan diri dari mekanisme utang international” [17/5/2010].

Selanjutnya, Boediono menjelaskan bahwa “kebijakan ekonomi yang akan ditempuh jika nanti berkuasa adalah tidak sepenuhnya menyerahkan ke pasar bebas dan tidak sepenuhnya menyerahkan ke negara” [18/5/2010]. Bagi keduanya, masa depan eko-politik akan ditangani dengan mixed sesuai dengan tuntutan keadaan. Walaupun nantinya, negara berperan minimal, persoalan makroekonomi lebih penting dari mikro ekonomi, pasar uang lebih penting dari pasar riil dan konglomerasi lebih utama dari UKM dan Koperasi. Itu semua adalah perilaku  pergerakan angka statistik. Sebuah pergerakan yang akan menjadi padanan tepat bagi kepemimpinan pencitraan dan kekuasaan polesan. Jika gagasan ini diletakkan sebagai “alat dan data” bagi madzab ekonomi-politik apa yang dianut SBY, kita dengan mudah mengatakan mereka adalah pemikir sekaligus pemain utama madzab neolib.

Mereka beriman dan mempraktikkan agenda angka pertumbuhan [growth stimulation] yang berbasis pada pasar bebas dan minimalisasi negara. Inilah paradigma angka. Sebuah cara untuk mentradisikan “panggung sandiwara.” Sebuah panggung teater besar yang oleh Clifford Geertz dinamai sebagai “negara teater.” Sebuah negara yang bertujuan sekadar menghibur rakyatnya. Negara yang aktor dan penguasanya memidatokan angka-angka agar rakyatnya percaya.

Bodiono, jelas figur pelayan berbudi yang baik, halus tingkah, dan irit kata tetapi mampu menjelaskan secara ilmiah pidato-pidato normatif SBY. Dengan begitu,  kehadirannya membuat keselarasan dan keilmiahan bisa terjamin, selanjutnya terhindar dari konflik dan kontestasi yang dapat menyebabkan “matahari kembar.” Dengan pasangan Boediono maka pesan kepada publik menjadi jelas: presidensial dan rezim SBY murni. Mereka bekerja untuk presiden dan menjalankan kebijakan plus perintah presiden saja.

Kita tahu, pada suatu waktu yang sangat jelas di penghujung 2008 gagasan neo-liberal tersungkur. Di banyak tempat ditinggalkan dan dianggap gagal menyelesaikan problema utama negara-negara bekas jajahan. Kemiskinan, pengangguran dan kekerasan makin hari makin meluber. Padahal secara struktural, karir SBY dan Boediono sangat sempurna sebagai pejabat negara. Sebagai ahli eko-politik keduanya pernah menduduki berbagai jabatan menteri sampai presiden dan gubernur BI dan wakil presiden. Tentu tak banyak yang mendapat kesempatan seperti itu. Tetapi, terhitung sejak keduanya mendapat kekuasaan di pemerintahan, tak banyak prestasinya dalam menuntaskan kemiskinan dan pengangguran. Bahkan, jika ukurannya adalah janji dan realisasi yang telah mereka kerjakan dalam RPJM, nilainya sangat tidak memuaskan.

Sesungguhnya, gagasan eko-politik neolib berangkat dari asumsi dasar bahwa pasar merupakan pengambil keputusan yang paling sah berdasarkan hak kepemilikan individu. Karena itu praktiknya, madzab neolib bergerak dalam praksis the rule of the market, anti subsidi, deregulasi, privatisasi sehingga kesejahteraan bersama [welfare state-society] bukan tujuan, sebaliknya hanya sebagai akibat. Mereka menolak gotong royong dan kebersamaan dalam pengelolaan, kepemilikan dan tanggungjawab bersama dalam kebangkrutan, kepailitan bahkan kemiskinan.

Praktik kelanjutannya adalah kinerja ekonomi pasar dikawal dengan seperangkat aturan yang membuat relasi antara modal dan tenaga-kerja tidak selalu berakhir dengan subordinasi labour pada capital. Seperti tata ekonomi seabad lalu, neolib cenderung diikuti dengan gejala lepasnya kinerja modal dari kawalan, tetapi dalam bentuk yang lebih ekstrem. Apabila liberalisme klasik lebih menitikberatkan pada globalisasi pasar maka neolib menitikberatkan pada globalisasi kapital. Liberalisme klasik ala Adam Smith itulah yang kemudian menelurkan imperialisme di tanah Asia hingga Afrika, yang dikenal dengan kolonialisasi. Sedangkan, neolib menelurkan imperialisme yang diperbarui, yakni kapitalisme global. Dalam praktiknya kemudian, IMF dan Bank Dunia dikenal sebagai dokter spesialis yang punya resep yaitu liberalisasi dan deregulasi sektor keuangan, perdagangan, pendidikan, kesehatan, politik, sosial bahkan agama. Proyek terbesar mereka adalah menempatkan Indonesia bukan sebagai sebuah kesengajaan. Meminjam hipotesa B.Harry Priyono [2006], para agen neolib meletakkan negara Indonesia sebagai akibat dari bekerjanya pasar berkelanjutan. Inilah logika pasar mengatasi segalanya, mengatasi Indonesia dan seribu problemnya.

Dalam hukum post-kolonial disebutkan bahwa, “jika pasar lebih kuat dari negara+masyarakat+agama maka akan menghasilkan neolib.” Tentu saja, “jika negara lebih kuat dari pasar+masyarakat+agama maka akan menghasilkan neo-otoritarian.” Neolib dan neo-otoritarian adalah dua titik ekstrim yang menghasilkan paria dan nestapa. Sengsara karena ketidakmampuan menjalani hidup secara lebih berharga di tengah kayanya negara ini dengan SDA dan tenaga kerja. Menderita karena semua keringat dan kerja yang telah dan akan dikerjakan tak mencukupi untuk hidup sehat.

What Must To Be Done?

Nurani, keutamaan, rasa keadilan, dan keinginan untuk dipahami dan memahami adalah kapasitas yang dimiliki setiap manusia dalam masyarakat. Namun, di dalam manusia yang sama pula terdapat hasrat untuk meningkatkan kesejahteraan diri atau kelompoknya, baik secara ekonomi maupun politik. Namun, bagaimanapun sumber daya ekonomi bersifat terbatas, begitu pula dengan politik. Artinya, tidak semua orang atau kelompok dapat duduk di kursi ekonomi dan politik secara bersamaan. Karena itu, mereka yang mendapatkan kesempatan mestinya tidak menyia-nyiakan demi idealismenya pada rakyat dan negara.

Sebab, melemahnya negara berarti naiknya posisi tawar kekuatan-kekuatan eko-politik internasional sebagai konsekuensi logis dari tiadanya kekuatan eko-politik lokal yang dominan. Berkaitan dengan ini, representasi simbolis dari negara menjadi penting, karena setiap representasi negara mengukuhkan identitas nasionalnya. Di sinilah mestinya SBY-Boediono paham akan jawaban dari problem itu semua. Dan, jawabannya buka neolib. Melainkan negara organik. Kita paham sebagaimana didefinisikan oleh Stephen P. Robins [1990], negara organik adalah bentuk yang mencerminkan respon negara dan aparaturnya dalam membuat keputusan dengan cara mengorganisasikan berbagai kepentingan yang timbul dalam masyarakat demi kepentingan rakyat; kepentingan nasional. Jadi, pada aras kepentingan nasionallah semua kebijakan disandarkan. Sebab, pendiri kita dulu berjuang mendirikan negara adalah demi tercapainya cita-cita bersama yaitu keluar dari kemiskinan, penderitaan, pengangguran dan penyakit keterjajahan lainnya.

Berimannya rezim SBY di bawah madzab neolib ini mengakibatkan cita-cita kemerdekaan serupa dengan janji-janji surga. Indah, nikmat, tapi tidak terasa di alam nyata. Jika demikian, bukan surga yang didapat, justru rakyat kian melarat di bawah bendera neolib. (M. Yudhie Haryono)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: