Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Joseph Eugene Stiglitz Sang Pemberontak

Posted by Ndaru Nusantara pada 23 Agustus 2010

stiglitz

Oleh: M. Yudhie Haryono

Tentu sangat kaget ada ilmuwan Amerika yang “melawan” (sebagian) mimpi-mimpi Amerika. Lahir 9 Februari 1943, Stiglitz adalah seorang pakar ekonomi, pengarang, dan peraih penghargaan Nobel bidang Ekonomi (2001). Terlahir di Gary, Indiana, AS dari pasangan Charlotte dan Nathaniel Stiglitz. Dari 1960 hingga 1963, ia kuliah di Amherst College.

Tingkat empat dijalaninya di MIT, yang kemudian dilanjutkan ke tingkat pascasarjana. Dari 1965 hingga 1966, ia belajar di Cambridge University dengan beasiswa Fullbright. Pada tahun-tahun berikutnya, ia mengajar di MIT dan Yale.

Stiglitz saat ini mengajar di Graduate School of Business di Columbia University dan menjadi editor jurnal The Economists Voice bersama Bradford DeLong dan Aaron Edlin. Ia juga menjadi anggota Dewan Penasihat untuk Oxford Council on Good Governance. Selain memberikan banyak kontribusi di bidang ekonomi mikro, Stiglitz juga beberapa kali memegang jabatan yang bersifat membuat kebijakan. Ia pernah menjabat sebagai ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden AS pada masa pemerintahan Bill Clinton (1995-1997). Di Bank Dunia, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Senior dan Ekonom Kepala (1997-2000), sebelum akhirnya dipaksa berhenti oleh Treasury Secretary, Lawrence Summers.

Penelitian Stiglitz yang paling terkenal adalah tentang screening, teknik yang digunakan seorang pelaku ekonomi untuk mengambil informasi yang semestinya pribadi dari pelaku lainnya. Kontribusinya dalam memasukkan teknik screening ke dalam teori asimetri informasi inilah yang membuatnya meraih penghargaan Nobel bersama-sama George Akerlof dan A. Michael Spence.

Stiglitz juga mengarang Whither Socialism, sebuah buku nonmatematis yang memberikan pengenalan untuk teori-teori yang menjelaskan kegagalan sosialisme ekonomi di Eropa Timur, peran informasi tak sempurna dalam pasar, dan penjelasan miskonsepsi tentang sebebas apa sebenarnya sistem kapitalis pasar bebas itu. Pada 2002, ia menulis buku Globalization and Its Discontents, yang berisi kesimpulan bahwa International Monetary Fund (IMF) meletakkan kepentingan pemegang saham terbesar (Amerika Serikat) di atas kepentingan negara-negara miskin yang justru seharusnya dibantu. Dalam buku ini Stiglitz juga menawarkan beberapa alasan mengapa globalisasi telah menimbulkan kemarahan para pemrotes, seperti yang terjadi di Seattle dan Genoa.

Ya, krisis ekonomi adalah salah satu buah dari kapitalisme yang frekuensi kedatangannya makin cepat saat ini. Kata Stiglitz, dalam tiga puluh tahun terakhir dia mencatat lebih dari seratus kali krisis. Wow, angka yang menakjubkan bukan? Pasti satu di antaranya yang melanda Indonesia tahun 1998 dan 2008 silam.

Sudah lama Stiglitz bicara soal kebobrokan sistem ekonomi kapitalis. Dia pengritik sistem ekonomi kapitalisme yang menyatakan peran pemerintah harusnya ditiadakan dalam persaingan pasar bebas. Kata dia, itu hanya mungkin kalau ada tingkat informasi yang sama. Dia mengkhawatirkan adanya asymetric information yang mengakibatkan sesuatu menjadi tidak pada kondisi sebenarnya. Dari berbagai krisis itu, peraih nobel ekonomi tahun 2001 selalu menegaskan bahwa campur tangan pemerintah dalam ekonomi pasar diperlukan. Karena, kata dia, tanpa campur tangan mereka akan terjadi krisis yang makin parah di berbagai belahan dunia.

Buku Stiglitz berikutnya merupakan kelanjutan dari Globalization and Its Discontents, yakni The Roaring Nineties. Terjemahan bahasa Indonesia The Roaring Nineties diterbitkan oleh Marjin Kiri (2006) dengan judul Dekade Keserakahan. Stiglitz memberi pengantar khusus untuk edisi Indonesia ini yang menyinggung soal korupsi dan kebijakan yang salah arah. Sebuah buku yang berhipotesa bahwa, apapun pilihan jalan ekonomi-politik yang ditempuh, jika masih dilandasi dengan semangat serakah dan rakus maka krisis adalah hasilnya.

Pikiran dan Karya-karyanya
Beberapa karya dalam bentuk buku adalah, An Agenda for the Development Round of Trade Negotations in the Aftermath of Cancun, with Andrew Charlton, prepared for the Commonwealth Secretariat, 2004.  An Economic Analysis of the Conservation of Depletable Natural Resources, with P. Dasgupta, G. Heal, R. Gilbert, and D. Newbery, prepared for the Federal Energy Administration, May 1977. Capital Market Liberalization: Risks without Rewards? with Jose Antonio Ocampo (eds.), New York: Oxford University Press, forthcoming. Debates in the Measurement of Poverty, with Sudhir Anand and Paul Segal (eds.), New York: Oxford University Press, forthcoming. The Economic Role of the State, Oxford, Basil Blackwell, 1989. (Translated in Italian by Marco Da Rin, Società editrice il Mulino, Bologna, 1992). Economics, 1st Edition, New York: W.W. Norton, 1993. Economics, 2nd edition, New York: W.W. Norton, 1997. Economics, with Carl Walsh, 3rd edition, New York: W.W. Norton, 2002. Economics,with Carl Walsh, 4th Edition, New York: W.W. Norton, 2006. Economics and the Canadian Economy, with R. Boadway, Canadian Edition. New York: W.W. Norton, 1994. Economics and the Canadian Economy, 2nd edition, with R. Boadway, Canadian Edition. New York: W.W. Norton, 1997. Economics of the Public Sector, first edition, New York: W.W. Norton, 1986. Economics of the Public Sector, second edition, New York: W.W. Norton, 1988. Economics of the Public Sector, 3rd edition, New York: W.W. Norton, 2000. The Economics of Rural Organization: Theory, Practice, and Policy, edited with K. Hoff and A. Braverman, New York: Oxford University Press, 1993. Effects of Risk on Prices and Quantities of Energy Supplies, with R. Gilbert, prepared for Electric Power Research Institute, EPRI EA-700, Project 869-1, Final Report, 1-4, May 1978. Escaping the Resource Curse, with Macartan Humphreys and Jeffrey Sachs (eds.), New York: Columbia University Press, 2007. Fair Trade for All, with Andrew Charlton, New York: Oxford University Press, 2005. Financial Liberalization: How Far, How Fast? with Gerard Caprio and Patrick Honohan (eds.), Cambridge, UK: Cambridge University Press, 2001. From the Washington Consensus towards a New Global Governance, with Narcis Serra (eds.), New York: Oxford University Press, forthcoming. Frontiers of Development Economics: the Future in Perspective, with Gerald M. Meier (eds.), New York: Oxford University Press, 2001. Globalization and Its Discontents, New York: W.W. Norton Company, 2002. Have Recent Crises Affected the State-Market Debate? Dhaka: University Press Ltd (for the Bangladesh Economic Association), 1999. In un mondo imperfetto. Mercato e democrazia nell’era della globalization, Donzelli:Rome, 2001. Informazione, Economia pubblica e Macroeconomia, edited by A. Boitani and A. Petretto, Bologna: Il Mulino, 2002. Lectures in Public Economics, with A.B. Atkinson, McGraw-Hill Book Company, New York and London, 1980. Making Globalization Work, New York: WW Norton, 2006. New Ideas about Old Age Security, with Robert Holzmann (eds.), Washington, D.C.: World Bank, 2001. Peasants versus City-Dwellers: Taxation and the Burden of Economic Development, with R. Sah, Oxford: Clarendon Press, 1992. Principles of Macroeconomics, New York: W.W. Norton, 1993.
Principles of Macroeconomics, 2nd Edition, New York: W.W. Norton, 1997.
Principles of Macroeconomics, with Carl Walsh, 3rd Edition New York: W.W. Norton, 2002.
Principles of Macroeconomics, with Carl Walsh, 4th Edition, New York: W.W. Norton, 2006.
Principles of Macroeconomics and the Canadian Economy, New York: W.W. Norton, 1993.
Principles of Microeconomics, New York: W.W. Norton, 1993.
Principles of Microeconomics, 2nd Edition, New York: W.W. Norton, 1997.
Principles of Microeconomics, with Carl Walsh, 3rd Edition, New York: W.W. Norton, 2002.
Principles of Microeconomics, with Carl Walsh, 4th Edition, New York: W.W. Norton, 2006.
The Rebel Within: Joseph Stiglitz and the World Bank, edited by Ha-Joon Chang, Anthem World Economics, London: Wimbledon Publishing Company, UK, 2001. Rethinking the East Asian Miracle, with S. Yusuf (eds.), World Bank and Oxford University Press, 2001. The Roaring Nineties, Washington, DC: W.W. Norton & Company, 2003. The Selected Works of Joseph E. Stiglitz, Volume One, Oxford: Oxford University Press, forthcoming. Stability with Growth: Macroeconomics, Liberalization, and Development, with José Antonio Ocampo, Shari Spiegel, Ricardo FFrench-Davis, and Deepak Nayyar, The Initiative for Policy Dialogue Series, Oxford: Oxford University Press, 2006. Sustainable Development and Neo-Liberalism, Dhaka:Bangladesh Economic Association, 2004. The Theory of Commodity Price Stabilization, with D. Newbery, Oxford: Oxford University Press, 1981. The Three Trillion Dollar War: The True Cost of the War in Iraq, with L. Bilmes, New York: WW Norton and London: Penguin, 2008. Towards a New Paradigm in Monetary Economics, with Bruce Greenwald, Cambridge: Cambridge University Press, 2003. Whither Socialism? Cambridge, MA: MIT Press, 1994.

Kritik Stiglitz Pada Amerika: Negeri Untuk Kaum Kaya
Bagi Stiglitz, Amerika adalah sebentuk negera “hanya untuk si kaya.” Walaupun kebanyakan pandangan Amerika tumbuh soal ketidakadilan, tetapi dalam impian mereka adalah memperkaya diri. Dalam mekanisme memperkaya diri tersebut sesungguhnya terdapat bentuk kapitalisme semu, yang hilang karena ekonomi baru “sosialisme dengan karakter Amerika” yang amat peduli pada hak-hak istimewa individu. Sebagai gambaran kontras, Amerika hanya menolong sedikit untuk jutaan penduduk yang kehilangan rumah. Para buruh yang kehilangan pekerjaan hanya menerima 39 pekan dana tunjangan, dan mereka harus bisa berusaha sendiri. Dan, ketika mereka kehilangan pekerjaan, kebanyakan dari mereka juga kehilangan asuransi kesehatan.
Hari ini, Amerika tengah memperluas jaminan keamanan perusahaan melalui jalan yang tak pernah diduga, dari bank komersial ke bank investasi, lalu ke asuransi, dan sekarang ke perusahaan otomotif, tanpa berupaya melihat kekurangannya sedikit pun. Dus, bila bicara kebenaran, ini bukan sosialisme namun perluasan masa hidup kesejahteraan perusahaan besar (MNC). Singkatnya, kaum kaya dan berkuasa kini membutuhkan bantuan pemerintah, padahal banyak orang hanya mendapat sedikit bantuan dan perlindungan sosial dari pemerintah.

Joseph E. Stiglitz—ketika wawancara 27 April 2009—mengatakan bahwa, “krisis ekonomi Amerika tidak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa subsidi alam Amerika akan berperan destruktif.” Sebagai buktinya, kita akan mengalami tahun terburuk bagi ekonomi global sejak Perang Dunia ke II. Bank Dunia memperkirakan ekonomi hanya akan tumbuh 2%.  Meski negara berkembang sudah melakukan semua hal dengan benar–-dan memiliki kebijakan peraturan dan kondisi makroekonomi lebih baik dari Amerika Serikat—tetapi mereka akan tetap merasakan dampaknya. Kebanyakan hasilnya adalah sebuah kejatuhan ekspor. China dan India sepertinya  akan tetap tumbuh, namun akan tumbuh lebih lambat 11-12% dari rata-rata pertumbuhan tahunan. Singkatnya, krisis Amerika ini akan menyebabkan 200 juta penduduk dunia terjatuh ke jurang kemiskinan.
Karena itu, krisis Amerika yang mengglobal sekarang menuntut respon global. Sayangnya, tanggungjawab untuk merespon baru sebatas tingkat nasional. Masing-masing negara tengah mencoba mendesain paket stimulus untuk memaksimalisasi dampak pada warga negaranya–namun bukan ke dampak global.

Mendalami Buku Globalization and Its Discontents
Dalam bukunya Globalization and Its Discontents, Stiglitz menjelaskan kesalahan kebijakan yang menyebabkan keterpurukan negara-negara dunia ketiga (sedang berkembang) dewasa ini.  Fokus utama buku ini adalah menjawab pertanyaan siapa sebenarnya yang patut disalahkan dari berbagai bentuk kemelut ekonomi yang terjadi.

Dasar argumen Stiglitz sesungguhnya berbasis pada kebijakan ekonomi yang berbeda, yaitu pada perilaku teori yang yang menjadi penekanan dan dijalankan oleh ekonom. Apa yang terjadi ketika seseorang kekurangan pemahaman tentang informasi kunci, padahal keputusan yang harus dibuat adalah berdasarkan pemahaman tersebut, atau ketika pasar untuk jenis transaksi yang penting kapasitasnya tidak mencukupi atau sama sekali tidak ada, atau ketika suatu institusi yang memiliki pemikiran standar tentang ekonomi namun diterapkan pada sesuatu yang salah atau bukan pada tempatnya.

Stiglitz memberikan komplain bahwa IMF telah melakukan tindakan yang membuat negara-negara berkembang terpuruk dengan menetapkan berbagai syarat sebelum memberikan/mencairkan dana pinjaman, di mana syarat tersebut yang dianggap sebagian masyarkat sebagai bentuk intervensi asing terhadap kedaulatan dalam negeri negara berkembang. Stiglizt berpendangan bahwa lembaga IMF dan pejabatnya telah mengabaikan implikasi dari incomplete information, kemampuan pasar yang kurang dan kelembagaan yang masih buruk di negara-negara yang sedang berkembang.

Padahal, semua kebijakan yang diterapkan tidaklah sesuai dengan kareteristik negara-negara yang sedang berkembang. Stiglitz berkali-kali membantah kebijakan IMF, ia menganggap bahwa kebijakan IMF selalu menyesuaikan dengan buku teks secara baku namun tidak mampu mempertimbangkan kondisi dan kareteristik negara yang sesuai dengan kebijakan tersebut direkomendasikan. Stiglitz beranggapan bahwa konsekwensi dari kebijakan yang salah arah ini bukan saja berpengaruh secara abstrak statistik tetapi secara riil manusianya langsung merasakan penderitaan akibat mengikuti arah kebijakan yang direkomendasikan IMF. Beberapa rekomen IMF yang dibantah Stiglitz adalah:

a.    Mengeraskan kebijakan fiskal.
Kebijakan paling tradisional dianggap sebagai rekomendasi dan kebijakan yang sangat bagus oleh IMF yang dikenal masyarakat adalah kebijakan pemotongan pengeluaran pemerintah (subsidi) dan peningkatan pajak. Padahal, menurut Stiglizt, pemotongan pembelanjaan pemerintah dan pengerasan kebijakan fiskal/pajak akan membuat kecendrungan penurunan kemampuan ekonomi ke arah yang lebih buruk berupa ketidakmampuan masyarakat untuk berproduksi.

b.    Tingkat bunga tinggi.
Banyak negara datang kepada IMF sebab mereka mempunyai masalah dalam memelihara nilai tukar mata uang. Standar rekomendasi IMF adalah tingkat suku bunga yang tinggi, yang menjadikan deposito dan aset lain menjadi pilihan yang menarik dalam memegang harta kekayaan. Padahal, menurut Stiglitz, peningkatan harga yang cepat dan inflasi tinggi menjadi permasalahan baru yang memperburuk kecendrungan untuk penurunanan perekonomian mereka.

c.    Perdagangan bebas.
Semua orang menyukai perdagangan bebas—kecuali beberapa yang tidak mampu bersaing dengan produk-produk berkualitas. Penghapusan tarif, quota, subsidi dan penghalang lain untuk perdagangan bebas merupakan syarat memperoleh pinjaman dari IMF. Stiglitz sangat tidak setuju kalau negara berkembang dipaksa ikut dalam perdagangan bebas karena sesungguhnya negara-negara berkembang umumnya belum siap bersaing dan mengembangkan diri dengan berbagai bentuk kondisi yang ada.

d.    Meliberalkan Pasar Modal.
Banyak negara berkembang mempunyai sistem perbankan lemah dan sedikit peluang untuk warga negara mereka untuk menabung dengan cara-cara lain. Ketika dalam suatu kondisi negara-negara berkembang memperpanjang pinjamannya, IMF sering menawarkan membuka partisipasi lembaga luar negeri yang ada sebagai lembaga intermediasi. Dasar pemikirannya adalah bahwa bank asing adalah orang atau alat yang didengar suaranya di mata internasional, mereka dan perusahaan investasi asing lain akan bekerja lebih baik memobilisasi dan mengalokasikan tabungan negara. Stiglitz mengecam bank asing karena secara tidak langsung menyingkirkan bank-bank lokal keluar dari area bisnis perbankan. Lembaga-lembaga asing sangat sedikit yang tertarik meminjamkan dananya untuk keperluan usaha-usaha domestik, kecuali usahanya memiliki skala yang besar.  Akibatnya, sektor riil tidak berkembang karena tidak ada bank yang mau bersama mereka.

e.    Privatisasi.
Menjual BUMN menjadi prakarsa utama yang dalam dua dekade terakhir di negara-negara industri maupun negara-negara berkembang. Alasanya, dengan menyerahkan usaha-usaha tersebut ke swasta, akan memberikan nilai optimal dan dapat mempercepat proses pertumbuhan. Apabila pemerintah masih mengelola usaha-usaha tersebut akan muncul ketidaktransparanan, meningkatkan peluang KKN. Bagi Stiglitz, ini langkah ekonomi yang menyesatkan karena tidak semua BUMN rusak dan perlu diprivatisasi. Stiglitz meminta agar ada verifikasi BUMN dulu sebelum menjualnya secara murah ke tangan swasta.

f.    Ketakutan ketidakmampuan membayar hutang.
Prioritas akhir kebijakan IMF adalah ketakutan negara berkembang mengemplang utang. Bagi Stiglitz ini proyek mengenaskan karena utang-utang negara berkembang lebih banyak dikorup oleh badan-badang ekonomi dunia seperti IMF dan World Bank.

Singkatnya, dari bukunya kita dapat ambil beberapa point penting yang merupakan fakta tentang keberadaan IMF dalam membantu kondisi perekonomian negara-negara berkembang. Kebijakan yang diambil IMF bukanlah berdasarkan dari analisis dan observasi ekonomi melainkan lebih khusus kepada masalah ideologi. IMF tidak memperdulikan kondisi riil yang ada di negara yang berkembang, sehingga  rekomendasi mengabaikan apa yang dibutuhkan oleh negara-negara tersebut.
Sebagai konsekwensi kebijakan tersesat yang diikuti pemerintah negara berkembang maka Stiglitz menuduh, IMF harus bertanggung jawab dalam beberapa keterpurukan yang ditimbukan, karena memang IMF telah benar-benar menciptakan masalah di negara-negara yang berkembang. Lebih lanjut IMF tetap memelihara nilai tukar yang berlebihan ini memberi kesan seolah-olah IMF membuka peluang spekulasi di pasar. Sebab, kalau IMF benar-benar ingin membantu negara-negara berkembang kenapa tidak memikirkan usaha-usaha kecil yang jelas-jelas penopang ekonomi negara saat krisis, membantu penyelesaian pengangguran dan masyarakat miskin ketimbang selalu memberikan rekomendasi yang terkadang sembarangan.
Terlebih, kesalahan yang dilakukan lembaga IMF terhadap negara-negara berkembang bukanlah sesuatu yang kebetulan dan secara acak tapi merupakan konsekwensi sistematis dari kebijakan dasar yang bias dan tidak kena sasaran. Stiglitz melihat penyimpangan secara sistematis yang dimiliki IMF itu sebagai cerminan dan pantulan suatu kegagalan moral yang diterapkan ke dalam negara-negara berkembang.

Residu Globalisasi Bagi Manusia
Tentu, mimpi-mimpi Amerika sekarang makin aneh. Sehabis meneruskan perang di Afganistan, Barak Obama sebagai presiden AS justru menerima Nobel Perdamaian. Aneh karena Nobel Perdamaian seharusnya diberikan pada mereka yang mencintai perdamaian, bukan yang suka perang. Aneh karena berideologi kapitalis tetapi menjalankan praktik bail out yang mengharuskan campurtangan pemerintah. Aneh karena bicara demokrasi tetapi mendukung rezim militer yang anti demokrasi. Aneh karena kampanye HAM tetapi menyetujui kudeta militer di beberapa negara yang membunuh warganya. Dan, yang lebih parah, Amerika mengekspor kebobrokannya ke negara lain lewat sekuritisasi yang dijamin oleh asuransi.

Hebatnya, perilaku keanehan dalam arena global ini membuat Amerika tidak sendirian dalam krisis ini. Amerika telah mengeskpor sebagian kasus mortgage beracun ini ke negara lain. Padahal, jika saja ini hanya terjadi di AS, maka dampaknya bagi AS akan jauh lebih buruk. Namun karena globalisasi, maka mortgage beracun ini juga berkontribusi mengakibatkan lembaga keuangan di Eropa dan Asia berguguran. Amerika tak hanya mengekspor utang yang macet tapi juga pembiayaan yang jelek dan buruknya regulasi. Sebab, bank di seluruh dunia saling pinjam satu sama lain. Inilah sebabnya praktik regulasi jelek di satu negara yang berakibat adanya kredit macet, dapat menginfeksi sistem ekonomi global atau merembet dampak buruknya ke negara tetangga.

Atas alasan itulah, Stiglitz selalu mengeritik teori yang menyatakan pasar akan berjalan sempurna bila tak ada campur tangan pemerintah. Kali ini dia membuktikan teorinya bahwa pemerintah di semua negara penjuru dunia akhirnya ikut campur, setelah terjadi badai dan krisis dahsyat. Menurut Stiglitz, yang terjadi saat ini adalah buah dari ketidakjujuran yang molek. Bank menjalankan bisnis tanpa kejujuran dengan mengucurkan kredit perumahan yang harganya kemudian jatuh. Sedangkan pengambil kebijakan juga kurang tegas karena suap dan KKN.

Menurut Stiglitz perlu ada beberapa langkah yang harus ditempuh khusus di dunia ini yakni menyembuhkan perekonomian yang parah. Pertama, menkonversi pembiayaan kredit. Kedua, membuat stimulus yang baik dalam hal ekonomi seperti asuransi untuk para pengangguran dan investasi infrastruktur yang baik di masa depan. Sebab, investasi infrastruktur akan menstimulasi ekonomi dalam jangka pendek dan meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pada sisi lain Stiglitz mengingatkan pemerintah dan lembaga keuangan untuk memperbaiki sistem keuangan dan menciptakan peraturan ekonomi global yang lebih adil dan setara.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: