Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Puasa dan Ke(tidak)merdekaan

Posted by Ndaru Nusantara pada 23 Agustus 2010

Ibadah puasa Ramadan tahun ini–yang permulaannya bertepatan dengan 11 Agustus–menjadi unik dan istimewa, tidak hanya bagi kaum muslimin, tetapi juga bagi bangsa Indonesia seluruhnya. Keistimewaan tersebut antara lain karena di bulan suci kali ini terdapat momen bersejarah bagi bangsa Indonesia, yakni peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-65, 17 Agustus 2010. Relevan dengan sejarahnya, kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 tempo dulu juga diproklamasikan pada bulan Ramadan.


Dari aspek sejarah, berkebetulan kedua momen tersebut barangkali bisa dikatakan semacam koinsidensi historis. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di republik yang masih memprihatinkan ini, koinsidensi tersebut mempunyai daya tarik untuk dicermati, khususnya ketika ibadah puasa di bulan Ramadan tidak bisa lepas dari problem ketidakmerdekaan sebagian masyarakat dan makna kemerdekaan sebagai desain Sang Maha Pencipta.

Relasi ‘tahanan’
Bila dicermati, ada relasi yang menarik antara pengertian ibadah puasa dan ke(tidak)merdekaan. Secara etimologi, puasa (bahasa Arab: shiyam; shaum) berarti menahan diri dari (al-imsaku `an). Sedangkan secara terminologi syar`i disebutkan, puasa adalah menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu dari segala sesuatu yang membatalkan (seperti makan, minum, dan melakukan hubungan seks bagi yang sah) sejak terbit matahari hingga terbenamnya.

Sementara itu, kemerdekaan bisa berarti bebas dari kekangan dan lepas dari pembatasan yang membelenggunya, sehingga orang bisa memenuhi kebutuhannya secara memadai dan mengatur jalan hidupnya sendiri. Di dalam kemerdekaan terdapat kebebasan (freedom; liberty), yang dikatakan Craig Calhoun (2002) sebagai tiadanya ketidakleluasaan atau paksaan; kemampuan menentukan nasibnya sendiri. Secara politis, biasanya kemerdekaan dimaknai sebagai lepas dan bebas dari cengkeraman kolonialisme dan imperialisme sehingga bisa mewujudkan sebuah negara bangsa yang berdaulat.

Sepintas bisa dikatakan bahwa kemerdekaan adalah keluar dan bebas dari “tahanan”; sedangkan puasa sebaliknya, masuk ke dan terkurung di dalam “tahanan” secara sadar. Kemerdekaan menandai bebasnya suatu bangsa dari “tahanan” yang dibangun paksa oleh penjajah sehingga menindas, membatasi, dan bahkan meniadakan hak-hak di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan, yang semestinya bisa dinikmati oleh bangsa tersebut. Sedangkan puasa menjadi “tahanan” berupa bui waktu atau penjara masa selama satu bulan yang dimasuki kaum muslimin berdasarkan iman, dan mereka kehilangan hak-hak yang diperbolehkannya, seperti makan dan minum di siang hari.

Perhatikan saja, bukankah makan dan minum itu termasuk kebutuhan biologis manusia untuk mempertahankan hidupnya? Mengapa di bulan Ramadan hal-hal yang boleh dan bahkan halal itu berubah menjadi terlarang dan haram? Dalam konteks inilah bisa dipahami apa sesungguhnya kemerdekaan dan ketidakmerdekaan dalam ibadah puasa di bulan Ramadan.

Ketidakmerdekaan di bulan Ramadan bagi kaum muslimin yang menjalankan ibadah puasa adalah belajar menjaga diri dan berlatih menahan keinginan dari hal-hal yang terlarang. Selama satu bulan, kaum muslimin dilatih untuk mengendalikan diri dari dorongan hawa nafsu dan godaan syahwat, baik yang bersifat fisik lahiriah maupun batiniah. Karena itu, pada dasarnya pengendalian diri tersebut bukan hanya pada siang hari, tetapi juga berlaku pada malam hari. Dengan begitu, ketidakmerdekaan dalam ibadah puasa hakikatnya adalah untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya sesuai dengan perkenan-Nya.

Refleksi kritis
Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk menggunakan kebebasan dan keleluasaan dengan sekaligus menyadari adanya ketidakmerdekaan yang melekat di dalamnya. Dengan kata lain, tidak ada kemerdekaan atau kebebasan yang mutlak sesuai dengan selera manusia dan kepentingannya sendiri. Karena pandangan tentang kemerdekaan dan kebebasan yang absolut, selain akan bertabrakan dengan kemerdekaan orang atau pihak lain, akan menjebaknya pada sikap dan tindakan sendiri yang terpenjara dalam klaim sepihaknya yang tidak toleran terhadap orang lain. Meminjam ungkapan Isaiah Berlin, ada dua jenis kebebasan, yakni negative liberty(kebebasan dari paksaan orang-orang lain) dan positive liberty (daya untuk mengejar sebuah visi partikular mengenai realisasi diri).

Sikap dan pandangan yang mengabaikan relativitas kemerdekaan itu potensial untuk melahirkan anarki dan tirani baru, karena gagal memahami kemerdekaan yang dibatasi oleh kemerdekaan pihak lain. Ketika manusia terperangkap dalam penjara keangkuhannya itu, ia akan lupa kepada Tuhan yang telah menganugerahkan kemerdekaan tersebut kepada setiap umat manusia. Sikap dan pandangan yang picik dan arogan itu bisa terjadi secara individual dan menjadi sikap kelompok sosial, yang kemudian mengganggu keharmonisan hidup dan kepentingan publik.

Harus disadari bahwa kemerdekaan yang hakiki hanya bisa diperoleh dengan menyadari keterbatasan manusia dan keberserahan diri terhadap Kemahamuliaan Tuhan–yang telah menciptakan manusia dalam keadaan bebas-merdeka–baik dalam dimensi vertikal maupun horizontal. Penolakan terhadap hak-hak kemerdekaan yang dimiliki orang lain berarti telah menegasikan Tuhan dan mempertuhankan hawa nafsunya. Dalam interaksi individu dengan Sang Khalik dan relasi sosial dengan sesama umat manusia seperti itu, ibadah puasa mengingatkan kembali mengenai keharusan bagi manusia untuk melepaskan ego dan nafsu individualistiknya yang menentang sunatullah.

Ketika berpuasa, kata Seyyed Hossein Nasr (dalam Laleh Bakhtiar, 1997), kecenderungan untuk memberontak yang ada dalam jiwa secara bertahap dijinakkan dengan cara memasrahkan diri secara sistematis ke arah perintah Ilahi. Karena setiap saat merasakan lapar, jiwa orang-orang Islam diperingatkan bahwa nafsu badani yang ada dalam dirinya diabaikan demi memenuhi perintah Allah. Itulah sebabnya puasa tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga pengendalian diri dari segala bentuk nafsu dan keinginan yang bersifat badani.

Demikianlah, merefleksikan nilai dan hikmah ibadah puasa dalam konteks peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-65 ini penting untuk digarisbawahi pada dua hal. Pertama, mensyukuri kemerdekaan sebagai rahmat dan anugerah Tuhan yang diusahakan melalui perjuangan dan perlawanan para pahlawan dan the founding fathersnegara-bangsa ini harus selalu menjadi bagian dari kepribadian bangsa Indonesia. Kesadaran spiritual ini relevan bukan hanya untuk membangun karakter bangsa, tetapi juga untuk selalu berendah hati dalam pengawasan Ilahi agar menjadi terbiasa untuk sadar berbagi dan toleran dengan sesama.

Kedua, dengan kesadaran dan karakter tersebut, maka bangsa (khususnya para elite politik dan penguasa) ini harus bisa memerdekakan diri dari sikap mental yang hina-dina kebiasaan-kebiasaan yang nista, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, penyelewengan agama demi kekuasaan dan kepentingan politik, serta berbagai sikap dan tindakan lainnya yang merugikan kemaslahatan publik. Merasa merdeka dengan dasar keimanan akan menjaga hidup seseorang untuk merasa cukup dan bersahaja sehingga tidak perlu mencuri hak milik orang lain atau melakukan manipulasi dalam bentuk apa pun.

Begitulah, ke(tidak)merdekaan dalam ibadah puasa Ramadan adalah untuk menyadari kembali hakikat kemerdekaan yang tidak bisa dipisahkan dari Sang Pemberi kemerdekaan, untuk selalu diterapkan dalam pemerdekaan bangsa yang bermartabat dan menghargai kemerdekaan orang lain. Selamat beribadah puasa Ramadan, dan merdeka! *TEMPO Interaktif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: