Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Melawan Pornografi

Posted by setyonegoro pada 25 Agustus 2010

Hari pertama bulan Ramadan kali ini, bagi Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, adalah hari yang sibuk. Bukan karena dia banyak jadwal khotbah atau menghadiri sederet acara, melainkan karena hari itu akun Twitternya kebanjiran kecaman.

Hari itu, 11 Agustus 2010, Tifatul memulai misi baru: memblokir situs porno. Dia bekerja sama dengan 200 perusahaan penyedia jasa Internet di Indonesia. Misi itulah yang melahirkan ribuan kecaman.

“Kayak negara Taliban saja diblokir,” kata seorang pengguna Twitter. Yang mengomel, “Apakah tidak ada hal yang lebih penting untuk diurusi menteri?” Yang paling mengamuk adalah para pemilik situs baik-baik yang salah dimasukkan dalam daftar blokir. Situs Detik.com, misalnya, subdomain iklannya tak nongol karena blokir.

Pemblokiran bukan hanya milik Indonesia. Cara ini ada di mana-mana, tak peduli negara milik kaum Taliban, negara Islam moderat, bahkan negara komunis sekalipun. Cina, Iran, dan Arab Saudi melakukannya. “Ini amanat undang-undang,” kata Tifatul. Tindakan Tifatul memang didasari Undang-Undang Antipornografi. Dalam aturan itu, para pengunduh gambar syur bisa dijerat.

Maka blokir pun dilaksanakan. Hasilnya? “Sembilan puluh persen situs porno atau sekitar 4 juta situs telah terblokir,” ujar Tifatul bangga.

Orang yang lama berkecimpung di dunia Internet pasti mafhum: mustahil memblokir semua situs porno. Bahkan di Arab Saudi, yang blokirnya superketat, pun bisa jebol. Gara-garanya hanya sebuah software kecil yang bisa diunduh dan disimpan di flash disk. Di Indonesia, walau tak sempurna, ada sistem blokir dan sistem pengaman tambahan yang bisa dilihat di situs http://www.nawala.org.

Software ini, entah insinyur mana yang membuatnya, memang ampuh. Cukup unduh software ini, simpan di flash disk, lalu jalankan programnya. Benteng Internet Arab Saudi dijamin jebol. “Sekarang pengunduh software itu di Arab sudah lebih dari sejuta orang,” kata seorang kawan.

Itu baru satu soal, yakni seberapa hebat benteng software pengaman. Masalah lain adalah saban hari kini muncul situs porno baru yang dibuat oleh pengguna Internet. Istilah kerennya adalah Social Porn atau Porn 2.0. Seperti prinsip Web 2.0, penggunalah yang berlomba-lomba mengunggah konten porno. Berdasarkan data Alexa, empat situs Social Porn ada di deretan atas situs dunia. Mereka ada di peringkat ke-52 sampai ke-93 dunia.

Bagaimana mau melawan situs porno? Hari ini ia memakai alamat xxx.com, besok dia berganti nama, misalnya, menjadi kampus.info. Mati satu tumbuh seribu. Yang mengerikan, foto-foto baru terus muncul. Demam Web 2.0, yang mengajarkan narsisme, juga menjalar ke pornografi dan menjelma menjadi Porno 2.0.

Fenomena ini sudah diamati Sony Adi Setiawan, penulis buku 500 Plus, Gelombang Video Porno Indonesia. Temuan Sony cukup mencengangkan. Pada 2007 saja, Sony menemukan 500 video porno amatir. Sekarang jumlahnya diperkirakan membengkak berkali-kali lipat. Yang lebih gila, ternyata 90 persen video porno amatir Indonesia dibuat oleh anak sekolah menengah atas dan mahasiswa. Sisanya, menurut temuan Sony, berasal dari rekaman di kamar prostitusi (8 persen, termasuk yang dilakukan pejabat pemerintah dan wakil rakyat). Yang paling sedikit, 2 persen, dari kamera pengintai (lihat tren melihat gambar porno saat Ramadan dan non-Ramadan di http://tweetphoto.com/38022682).

Jumlah itu kini berlipat ganda, bahkan kian membabi-buta perkembangannya, setelah beredarnya video Ariel-Luna Maya dan Cut Tari.

Bagaimana pemerintah bisa melawan Porno 2.0, yang luar biasa? Akhirnya, kunci segalanya adalah pada pendidikan dan kesadaran pribadi. (BURHAN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: