Adie Prasetyo

Because History Must be Written

DIRI SAYA


Saya dilahirkan di Temanggung, Jawa Tengah pada 17 Februari 1984. Temanggung merupakan kota kecil yang diapit tiga gunung: sindoro, sumbing, merbabu. Mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai petani, termasuk orang tua saya. Mereka mengelola beberapa bidang tanah di sawah dan ladang. Terkenal rajin bekerja, walaupun sering tidak cucuk, apalagi untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang paling tinggi. Praktis, orang tua saya hanya dapat mengantarkan kami, saya dan sulis, adikku, sampai ke tingkat sekolah menengah saja.

Selepas selesai sekolah di Temanggung, saya nekad ngalap berkah di Jakarta tepatnya pada tahun 2002. Pertama ke Jakarta, saya bekerja di warung milik Om. Namun, setahun kemudian saya  memutuskan untuk mandiri. Jadilah saya tukang parkir, lalu mengamen, setidaknya sampai tahun 2003.

Entah kebetulan atau takdir, tahun 2004 saya berkesempatan kuliah di sebuah universitas swasta (Universitas Jakarta). Nekad banget, bonek pokoknya. Padahal waktu itu saya masih pengangguran, tak ada biaya untuk pendaftaran sekalipun. Alhamdulilah, jalan terbuka! Singkatnya saya bisa masuk dan belajar di kampus tercinta, sampai lulus tahun 2009. Saya mengambil jurusan Politik (FISIP). Semasa kuliah ini, saya banyak ditempa oleh kawan-kawan dari Pergerakan, ada Fahri, Asbit, dll.

Kebingungan melanda kembali ketika ditagih bayar kuliah secara penuh untuk dapat mengikuti ujian skripsi. Saya tidak punya tabungan sama sekali. Mau minta orang tua di kampung, saya harus tau diri. Mereka mungkin lebih susah dari saya waktu itu. Tapi alhamdulilah, jalan selalu terbuka bagi ummat yang selalu berusaha. Waktu itu, kebetulan saya sambil bekerja membantu Pak Bambang Suharto dalam tulis menulis. Beliau sedang menyelesaikan Disertasi S3-nya di UGM. Nah, dalam urusan disertasi itu, saya bersama DR. Endi Haryono ikut membantu. Dari bantu membantu itu, saya diberikan honor selayaknya untuk kos dan makan sehari-hari. Tapi untuk bayar kuliah bagaimana? Saya jujur ngomong sama Pak Bambang tentang kesulitan ini. Dan, syukur beliau dapat membantu 80 persen keseluruhan biaya tunggakan kuliah.  Lega rasanya…! Terimakasih Om Bambang..!

Di sisi yang lain, saya juga belajar di Nusantara Centre. Belajar menulis, berdebat, berdiskusi, dan melawan! Mas Yudhie Haryono, dalam hal ini adalah guru dan sahabat yang kerap memberikan motivasi kepada saya. Juga sedikit rejeki diberikan olehnya untuk makan sehari-hari. Dari Nusantara Centre inilah, saya tumbuh menjadi pribadi yang menapaki proses pematangan hidup. Kemudian, PMII, selaku organisasi saya sejak mahasiswa, juga turut andil memberi kontribusi yang tidak sedikit. Sayangnya, saya lebih konsen di Nusantara Centre daripada di PMII.

_______

Selain mencintai Tuhan dan Ilmu, saya juga menyayangi Azmi, seorang sarjana Sastra Inggris dari Universitas Negeri Surabaya. Pacaran dengannya dulu hanya jarak jauh, walau kadang saya main ke Surabaya dan dia main ke Jakarta. Darinya, saya banyak belajar menjadi manusia yang harus bangkit dari ketiadaan, dari kosong, menuju ada dan meng-ada. Belajar menjadi manusia yang paham hakikat diri. Terimakasih juga Azmi… Luv u..!

_______

Saya percaya, perubahan pasti akan datang. Perubahan akan datang apabila kita menjemputnya, bukan hanya duduk menunggu. Saya percaya, alih generasi pasti akan terjadi. Seperti pepatah, ”daun-daun berguguran, tunas-tunas muda pasti bersemi.” Kaum tua yang bermental inlander pasti akan mati. Kaum muda yang bermental waras harus siap melakukan pergantian kepemimpinan. Bagi saya, strategi politik konstitusional ataupun inkonstitusional dalam perubahan semuanya halal hukumnya.

_______

Kepemimpinan ideal kaum muda ini menurut saya harus berbeda, menyempal (crank) dari kebiasaan yang dilakukan kaum tua. Kaum muda harus mendekonstruksi mental, pikiran dan tindakan kaum tua yang korup, penakut, ragu-ragu, dan politik tebar pesona. Jika ingin menjadi pemimpin yang menyempal, mari mulai belajar dari sekarang. Belajar menanak keberanian, belajar menempa pikiran, belajar menghadapi resiko mati, belajar segala hal untuk persiapan revolusi kita. Mari kita lakukan bersama.

______

Dan, hidup terus berjalan. Saya masih menjalaninya dengan segenap apa yang saya punya. Saya ingin belajar menjadi manusia yang “berbeda” atau “menyempal” dari kebiasaan umum. Bukan hanya sekadar berbeda, tetapi juga ada “isinya.” Dan, sisa hidup ini akan saya pergunakan sebaik-baiknya untuk terus menempa pikir-mental-tindakan demi cita-cita besar yang melebihi cita-cita dan cintaku.

2 Tanggapan to “DIRI SAYA”

  1. gramsci said

    Ceritanya sdh mulai bikin biografi nih boss, soal jualan casing Hand phone sama kartu perdana di jalan paus kok ga di bahas…
    hehehehe…. baguslah sukses selalu pras.

    • hahaha… ya sekadar nulis menulis. siapa tahu ada manfaatnya. bos…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: