Adie Prasetyo

Because History Must be Written

MEMAHAMI FENOMENA INTER-RELEGIOUS


“Al-qur’an merupakan Hotch potch. Yaitu pencampuran unsur-unsur perjanjian lama, perjanjian baru dan sumber dari kitab suci lainnya.”
— William Montgomery Watt —

Wilam Montgomery Watt. Sebuah nama yang mudah dieja dan mudah dihafal. Begitupula karya-karyanya. Judul-judul buku-buku Watt sungguh memikat untuk dibaca. Entah itu karena kekontroversialannya maupun nilai yang dikandungnya. Pun ketika kita membuka lembar demi lembar dari setiap tulisannya. Niscaya, kita akan mendapat pencerahan dari sesuatu yang disamarkan (ditabukan) oleh agama dan sejawaran agama selama ini. Mungkin, itulah penilaian banyak orang ketika memahami sosok Watt dan mempelajari karya-karyanya.src=”https://menyempal.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif” alt=”” />

Ilmuwan dan sejarawan Islam ini dilahirkan pada 14 Maret 1909 di Ceres, Fife, Skotlandia dan meninggal pada usia 97 tahun pada 24 Oktober 2006. Semasa muda, ia bersekolah di Watson Edinburgh, dan melanjutkan ke Universitas Edinburgh dan Oxford. Di Endinburgh, Watt mengambil jurusan Klasik dan di Oxford mengambil dua jurusan sekaligus yakni Humaniora Sastra dan Sastra Inggris. Watt juga menghabiskan musim panas tahun 1934 dengan belajar filsafat di Jena, Jerman. Karena kerja keras dan ketekunannya, Watt pernah mendapat gelar ‘Emiritus Professor.” Sebuah gelar penghormatan tertinggi bagi ilmuwan yang diberikan oleh Edinburgh University. Gelar ini diberikan kepada Watt atas keahliannya dalam bidang Islamic Studies.

Watt mengenal Islam pada 1937. Singkat cerita, ketika kuliah doktoral di Edinburgh, ia bertemu dengan KA Mannan, seorang mahasiswa imigran dari Pakistan yang juga anggota jamaah Ahmadiyah. “Saya mulai mempelajari Islam, sesuatu yang selama ini saya abaikan,” demikian tulis William. “Namun kesan dominannya adalah bahwa saya terlibat perdebatan bukan dengan individu namun berhadapan dengan sistem pemikiran dan kehidupan selama berabad-abad lamanya,” lanjutnya. Penemuan ini mendorongnya untuk berkorespondensi dengan Pastur Anglikan di Yerusalem bernama George Francis Graham Brown. Brown seolah menjadi figur ayah bagi William. Brown bersedia bergabung dengannya sebagai pembimbing dalam kerja intelektual tentang Islam di Yerusalem. Di sini, ia mengajar di kampus Teologi Cuddesdon selama setahun, dan menjadi dekan pada 1939. Watt juga menjadi kurator di St. Mary, The Boltons, Kensington dan mulai belajar bahasa Arab di Sekolah Ilmu Oriental. Setelah St. Mary ditutup karena hancur akibat bom, Watt kembali ke Edinburgh pada 1940 untuk menyelesaikan pelatihan sebagai seorang kurator di Old St. Paul. Pada tahun ini pula Watt mulai mengerjakan tesis doktoralnya tentang, “Kehendak Bebas dan Ketentuan Takdir di masa awal Islam.” karena ketekunannya, Watt dapat menyelesaikan tesisnya di Jerusalem pada 1943.

Pada tahun 1946, Watt kembali ke Scotlandia dan menjadi dosen Bahasa Arab di Universitas Edinburgh hingga masa pensiunnya pada 1979. Di almamaternya itu, Watt menjadi kepala di Jurusan Studi Arab dan keislaman pada 1964. Pada periode ini pula, ia menulis buku Muhammad di Makkah (1953), Muhammad di Madinah (1956) dan Muhammad Nabi dan Negarawan (1961). Ketiga buku ini merupakan sebuah sinopsis popular dan menjadi buku best seller.

Pendapat Watt mengenai komitmennya dalam mempelajari Islam membuatnya selalu dapat melihat dari sudut pandang orang lain. “Bahkan, nyaris suatu tendensi lebih menyukai sudut pandang orang lain,” ungkapnya. Watt terperangah karena prasangka sejarah oleh Barat terhadap Islam, terutama Daniel Norman penulis Islam dan Barat: Pembentukan Citra, semakin memperjelas bahwa sarjana-sarjana abad ke 12 sampai abad ke 14 telah membuat propanda perang yang mendukung perang Salib. Dalam konteks ini, Watt sampai pada kesimpulan bahwa telah terjadi adalah penggambaran yang salah. ”Merupakan aspek negatif identitas Eropa, sebuah gambaran yang bukan Eropa. Berkebalikan dengan identitas positifnya sebagai orang Kristiani. Keyakinan prasangka merupakan fakta bahwa pengaburan imej merupakan aspek penting kebangkitan identitas Eropa,” ungkapnya lebih lanjut.

Dalam dimensi kehidupannya yang lain, Watt pernah menjadi seorang Pendeta untuk gereja Episkope Scotlandia, di bawah pengaruh Charles de Foucould. Pada masa ini, Watt menuturkan pemikirannya mulai menjadi “sebuah kehendak dan keberadaan yang sadar” pada dunia intelektual Islam. Untuk mengimplikasikan konsepsi mengenai keberadaannya, Watt sering mendasari meditasi hariannya dengan mengambil beberapa ayat Al-qur’an atau suatu pemikiran mistis Islam. Watt juga melakukan hal serupa dalam ibadah menurut keyakinan Kristianinya.

***
Walaupun Professor Watt telah tiada, ia selalu hadir di samping para pecinta gagasannya. Pemikiran dan gagasan Watt dapat kita baca dan telusuri melalui karya-karyanya antara lain; Free Will and Predestination in Early Islam (tesis, 1947), Muhammad at Mecca (1953), Muhammad at Medina (1956), Muhammad Prophet and Statesman (1961), Muhammad: Seal of the Prophets, Islamic Political Thought (1968), Muhammad’s Mecca (1988), Muslim-Christian Encounters: Perceptions and Misperceptions (1991), What is Islam, Islam and Integration of Society, Islamic Spain, The Influence of Islam on Medievel Europa, The Formative Period of Islamic Thought, Islamic Revelation in The Modern World (1969), Islamic Fondamentalism, Islam and Cristian Today dan lain-lain.

Salah satu buku yang cukup kontroversial dan fenomenal adalah buku Islamic Revelation in The Modern World. Berbeda dengan karyanya yang lain tentang Islam sebagaimana yang terlihat di atas, buku ini tidak semata-mata akademis, tetapi juga mengandung unsur personal atas refleksi terhadap pengamatannya tentang hubungan Islam dan Kristen. Beliau lebih dari tiga tahun mencermati apa yang terjadi dalam kedua agama itu. Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang tujuan Watt menulis buku Islamic Revelation in The Modern World. Pertama, berusaha memperkenalkan Islam sebagus mungkin terhadap para pembaca Eropa dan Amerika. Kedua, bertujuan untuk memperlihatkan kepada muslim bahwa sikap sarjana oksidental sebenarnya tidak mementingkan permusuhan terhadap Islam tetapi mencoba mengkombinasikan sikap tersebut walaupun berat menerimanya.

Untuk membuktikan tujuan ini, Watt dengan tegas mengungkapkan bahwa salah satu fakta terbesar sekitar abad ke-20 adalah dunia menjadi inter-religious (fenomena antar agama). Sejak perang dunia II, para tokoh agama saling bertemu yang dalam sejarah, peristiwa ini belum pernah terjadi. Bahkan, perempat akhir abad 20 hubungan antara Muslim dan Kristen meningkat. Tetapi, apakah Watt j
Dalam bukunya, Watt mengatakan bahwa dalam agama kuno telah terjadi kefakuman. Agama kuno tersebut tidak dapat membantu memberikan penyelesaian terhadap apa yang mereka butuhkan. Mengisi kekosongan ini, hadirlah agama Kristen dan ternyata berhasil sekalipun masih dalam skala kecil bila dibandingkan dengan problema inter-religious dewasa ini. Dekade pertengahan abad ke-20 terlihat adanya perubahan sikap yang terjadi seperti yang dialami oleh para tokoh pemikir. Secara politis, orang non Eropa diterima sebagaimana lazimnya orang Eropa. PBB memiliki sekjen yang berasal dari Asia. Dalam bidang agama dinyatakan bahwa agama selain Kristen juga memiliki prestasi spiritual di masa lampau. Teologi Kristen mengakui bahwa penganut agama harus mencari penyelesaian dalam tradisi mereka masing-masing. Karena itu, Kristen menurutnya memiliki sejarah pertumbuhan yang baik dalam aspek endosoma dan eksotoma.

Fenomena seperti ini muncul dalam dialog antar agama. Tetapi, semua menghasilkan implikasi teologis. Sebab, pertemuan antar agama tidak hanya membicarakan persoalan teoritis tetapi juga praktis. Fenomena inter-religuous semacam inilah yang dilihat Watt. Bahkan menurutnya, fakta inter-religious semakin jelas dengan hadirnya pandangan ilmiah. Ini berarti bahwa mental modern didasarkan pada prestasi ilmu dan penerimaan terhadap metode-metodenya sebagai hal yang dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang.

Penelitian dewasa ini, menurut Watt, lebih sederhana yakni hanya menjelaskan masalah hubungan antar agama (Islam-Kristen). Lebih lanjut, tema-tema itu menjadi spesifik yakni hanya membicarakan konsep wahyu dalam Islam dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Spesifikasi seperti ini dimaksudkan untuk menyadarkan Kristen bahwa, Al-qur’an harus “ditanggapi” serius dan Islam adalah “saingan” Kristen yang berbahaya dalam menguasai atau memimpin dunia. Kesadaran ini perlu karena sebagai agama, Kristen dan Islam memiliki dasar yang sama yakni bahwa semua memiliki ajaran atau misi terhadap dunia modern. Oleh karena itu, metode studi buku ini tidak secara langsung membanding pemikiran Kristen dan Islam tetapi menghubungkan keduanya dengan dunia sekuler dan netral serta dikombinasikan dengan pandangan ilmiah.

Berdasarkan sikap netralnya dalam melihat kedua agama besar itu, Watt menyimpulkan bahwa apa yang sebenarnya terjadi yakni pertentangan antara Islam dan Kristen adalah hanya kesalahan persepsi masing-masing. Watt lebih lanjut menggambarkan bahwa seluruh sejarah pertentangan Muslim-Kristen diliputi oleh mitos-mitos dan persepsi yang salah yang sebagian masih diabadikan sampai saat ini. Watt melukiskan bagaimana mitos-mitos itu berawal, dikembangkan dan selalu dihembus-hembuskan. Bagi Watt, mendiskusikan kedua agama ini memerlukan pengetahuan yang akurat dan apresiasi yang lebih positif. Watt berusaha mencari kerja sama antara wacana dunia umat Islam dan Kristen dan para pemeluknya. Inilah fakta penting yang dapat ditemukan ketika Watt menyinggung masalah fenomena inter religious dalam buku Islamic Revelation in The Modern World yang secara jelas dan lebih aktual ditemukan uraiannya dalam buku Muslim-Christian Encousters: Perception and Misperception.

Itulah percikan pemikiran dan gagasan Watt yang patut diapresiasi dan diperjuangkan di masa depan. Karena kenetralannya, Watt dapat digolongkan sebagai orientalis yang berlaku jujur dalam melihat Islam. Ia berusaha melihat Al-qur’an dalam pandangan ilmiah modern dan tidak punya keperpihakan terhadap Kristen. Karena itu, Al-qur’an yang dibahas secara berabad-abad harus tetap dikaji lebih lanjut dengan mengikuti alur baru. Pekerjaan besar ini menjadi PR umat Islam maupun non Islam. Sebab, saat ini ada fenomena inter-religious, ”Sebuah fakta hubungan antar Islam dan Kristen yang luar biasa,” kata Watt. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: