Adie Prasetyo

Because History Must be Written

MEMBACA GERAKAN ISLAM POLITIK KONTEMPORER


“Islam is my job,” begitu kata Gilles Kepel ketika diwawancarai oleh Luthfi Assyaukanie seusai memberikan ceramahnya bertajuk ”Gerakan Islam di Timur Tengah,” di kantor ICMI pusat. Ungkapan demikian dapat dipahami, karena kajian tentang Islam telah menjadi karir hidup Kepel. Selain meneliti gerakan Islam di Timur Tengah dan di wilayah Asia, Kepel juga rajin meneliti perkembangan Islam di Eropa dan Amerika. Dengan memperluas kajian Islam di beberapa wilayah itu, menurutnya dapat menjadi nilai tambah untuk memperkaya khasanah kajian Islam politik dengan corak yang berbeda-beda. Nilai plus dari kajian Islam politik Kepel, yakni terletak pada studinya yang bersumber langsung pada penelitian di lapangan. Sesuatu hal yang jarang dilakukan oleh peneliti Islam politik lainnya. Sebagai contoh, ia pernah bermukim di Mesir selama tiga tahun untuk merampungkan bukunya, The Prophet and the Paraoh (1984). Berbulan-bulan ia hidup di lingkungan masyarakat Muslim di Amerika, Inggris, dan Perancis untuk melengkapi bahan-bahan yang dituangkan dalam buku Allah in the West (1994).

Itulah sekilas sepak terjang seorang Professor kelahiran Perancis, 30 Juni 1955 ini. Kepel dikenal sebagai ilmuan terkemuka dan analis Islam dan dunia Arab. Tidak mudah bagi Kepel untuk meraih gelar sebagai ilmuan terkemuka tersebut. Sebab, untuk menjadi ilmuwan terkemuka di Perancis, seseorang harus mampu mengangkat tesis yang luar biasa dan menjadi yang pertama dalam menulis buku komprensif tentang suatu tema yang fenomenal. Dalam hal ini, Kepel memenuhi standar kualifikasi. Ia menjadikan ide kemunduran Islam militan dan memenuhi 376 halaman bukunya dengan contoh-contoh dan pendapat yang memperkuat idenya. Karena pengalaman intelektual tersebut, hingga kini Kepel dipercaya untuk mengepalai The Philippe Roman dalam bidang Sejarah dan Hubungan Internasional periode 2009-2010 di LSE IDEAS (Pusat Diplomasi dan Strategi) di Sekolah Ilmu Ekonomi dan Politik London. Kepel juga menyandang gelar sarjana di bidang bahasa Arab, Inggris dan Filsafat. Sedangkan gelar doktornya di bidang ilmu politik dan sosiologi ia peroleh dari Institut d’Etudes Politiques de Paris.
Selain itu, Kepel juga menjadi professor tamu di Universitas Columbis di New York.

Dalam pengalaman hidupnya, Kepel pernah terlibat terlibat adu fisik dalam pertemuan tahunan Asosiasi kajian Timur Tengah (2008) di Washington D.C. Pertemuan tahun ini diorganisir oleh Institut d’Etudes Politiques de Paris. Singkat cerita, dalam acara tersebut Kepel sedang memaparkan hasil penelitiannya di Timur Tengah. Lalu, bukannya menghibur tamu-tamunya, Kepel justru mengusir seorang peneliti muda Perancis. Insiden ini tidak hanya mengejutkan. Latar belakang kemarahannya disebabkan oleh kritik si pemuda tentang penelitian Kepel di Arab Saudi dan ide-idenya tentang Islamism.

Sebagai seorang ilmuan, Kepel telah menghasilkan banyak karya. Di antara karya-karyanya tersebut antara lain; Beyond Terror and Martyrdom: The future of the Middle East (Cambridge, Harvard Belknap Press, 2008), Al Qaeda in its Own Words, (HUP, 2008), Du Jihad à la Fitna (Paris, Bayard / BNF, 2005), The Roots of Radical Islam (London, Saqi, 2005), Jihad: The Trail of Political Islam (London, I.B. Tauris, 2004), The War for Muslim Minds: Islam and the West (Cambridge, Mass / London, Belknap Press, 2004), Translation of Fitna. Guerre au Coeur de l’islam: essai, (Paris, Gallimard, 2004), Bad moon rising: A chronicle of the Middle East Today, (London, Saqi, 2003), Jihad: Expansion et Déclin de l’islamisme (Paris, Gallimard, [2000], revised edition 2003), La Revanche de Dieu: Chrétiens, juifs et musulmans à la reconquête du monde (Paris, Le Seuil, [1991], 2003), Chronique d’une guerre d’Orient (Automne, 2001), Brève chronique d’Israël et de Palestine (Paris, Gallimard, 2002), Allah in the West: Islamic movements in America and Europe (Oxford, Polity, 1997), A l’ouest d’Allah (Paris, Le Seuil, [1994], 1996), The revenge of God: The resurgence of Islam, Christianity and Judaism in the Modern World (Cambridge, Polity, 1994), Le Prophète et le Pharaon. Aux sources des mouvements islamistes (Paris, Le Seuil, [1984], revised edition 1993), Les banlieues de l’islam. Naissance d’une religion en France (Paris, Le Seuil, [1987], revised edition 1991).

***
Selain mendasarkan kajiannya pada penelitian lapangan, salah satu kelebihan Kepel adalah kelihaiannya dalam menangkap dan menerjemahkan gerakan Islam politik kontemporer. Setiap isu fenomenal tentang Islam politik berusaha diungkap dan dianalisis berdasarkan pengalaman penelitiannya selama bertahun-tahun. Tidak hanya itu, dalam beberapa bukunya Kepel juga berusaha mencari solusi atas konflik yang terjadi antara dunia Barat dan Timur (Islam).

Di dalam bukunya Beyond Terror and Martyrdom (2008), Kepel mengetengahkan analisis tentang narasi radikalisme-terorisme Islam dalam kaitannya dengan agenda-agenda politik Amerika Serikat. Seperti kita ketahui, sejak peledakan gedung WTC pada 11 September 2001, dua pandangan dunia telah berbenturan di arena global. Aksi terorisme dan bunuh diri telah menyulut amarah antara dua skenario yang berseberangan. Di satu sisi, kelompok radikal Islam membenarkan tindakannya dalam melakukan aksi-aksi ’jihadnya’ terhadap Barat karena dianggap sebagai musuh utama umat Islam. Di sisi lain, pasca 2001 Amerika telah menjadi negara yang paling paranoid terhadap gerakan-gerakan Islam politik. Atas nama demokrasi dan pemberantasan terorisme, Amerika kemudian melakukan invansi militer ke sejumlah negara di Timur Tengah, seperti di Afganistan dan Irak. Intensitas konflik yang makin meningkat saat itu, sadar atau tidak, telah menciptakan sebuah persepsi dan justifikasi bagi hubungan Barat dan Islam, sekaligus membagi populasi dunia dalam dua kutub yang saling berbeda pandangan.

Itulah yang Kepel sebut sebagai ’narasi politik tersembunyi’ di balik serangkaian aksi dan reaksi terhadap fenomena terorisme. Menurut Kepel, perang terhadap teror yang dikumandangkan Presiden Bush sangat bias politik karena menyembunyikan kepentingan-kepentingan semu. Membaca buku ini, kita akan memahami bahwa perang terhadap terorisme, sesungguhnya juga membawa serta agenda politik standar ganda Amerika Serikat, seperti penguatan demokrasi, menguasai minyak Irak, mengamankan Israel, dan mencari pengganti rezim Iran.

Di atas segalanya, buku Beyond Terror and Martyrdom telah membunyikan peringatan bagi Barat dan Islam bahwa narasi melelahkan ini sangat merugikan. Fenomena ini tidak membuat perubahan demokrasi di Timur Tengah, apalagi bagi kesatuan dalam Islam. Kepel mengingatkan kita untuk keluar dari kekacauan ideologi terorisme dan semangat martir dengan mengembangkan sebuah dialog baru dan konstruktif antara Islam dan Barat (atau Eropa).

Sementara itu, buku Al Qaeda in Its Own Words (2008) merupakan hasil penelitian Kepel dan rekan-rekannya dalam mengamati perkembangan gerakan Al Qaeda. Selama ini, publik tidak memahami secara gamblang gerakan Al Qaeda, kecuali dari figur Osama bin Laden dan Ayman al-Zawahiri yang sering muncul di layar televisi. Di luar itu, Al Qaeda hanyalah sebuah entitas yang misterius. Ketika dunia semakin terbiasa dengan tayangan terorisme atas nama Islam, pandangan utama Al Qaeda telah menjadi semakin kabur dan membingungkan. Dalam buku ini, Kepel dan rekan-rekannya berusaha membongkar evolusi Al Qaeda berawal dari asalnya di perang Afganistan hingga perang di Irak. Intinya, kekuatan gerakan Al Qaeda terletak pada doktrin-doktrin radikal yang disematkan para pimpinannya dalam mengobarkan perang jihad. Dengan memahami Al Qaeda dari dalam, kita akan paham bahwa gerakan ini sesungguhnya lahir karena respons atau reaksi atas kebimbangan Islam politik terhadap masa depannya sendiri.

Kajian tentang Islam politik Kepel dilengkapi dengan bukunya yang fenomenal, Jihad: The Trail of Political Islam (2004). Buku ini merupakan hasil penelitian yang detail dan intensif mengenai pergerakan Islam militan lebih dari seperempat abad terakhir. Dalam buku ini Kepel mengetengahkan hipotesis bahwa serangan teroris pada 11 September 2001 lebih dari sekadar menunjukkan ’kekuatan dan keganasan power.’ Bahkan bukan pula merupakan ledakan ideologi ekstrimisme Islam (fundamentalisme Islam) karena isolasi politik selama ini. Hipotesis ini didasarkan atas pengalamannya dalam meneliti gerakan Islam politik yang sejak akhir 1960an membentuk dasar teoritisnya dan mengalami penyebaran ke Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, melalui kebangkitan Taliban di Afganistan dan sebagainya.

Dalam sejarah Islam fundamentalis ini, Kepel mempertahankan kebijaksanaan tradisional di kepalanya. Ia menyatakan bahwa gelombang kekerasan atas nama Islam selama beberapa tahun ini bukanlah cermin kesuksesan pergerakan ini, melainkan karena kegagalannya. Dengan jelas ia menyatakan, kegemilangan gerakan Islam politik adalah pada saat revolusi di Iran 1979 yang menggulingkan rezim Shah dan membangkitkan rezim Islam Fundamentalis. Namun, ketika ideologi-ideologi yang menggabungkan Islam dan kekuatan politik memperoleh dukungan di seluruh dunia dalam 20 tahun, menurut Kepel, tidak ada satu negara di mana Islam politik mampu meraih dan menggenggam kekuasaan tak lebih dari beberapa tahun saja. Menurut Kepel, salah satu faktor dari kegagalan ini terletak pada ketidakmampuan ideologi (fundamentalis) untuk menarik kelas menengah dan kaum miskin. “Kaum muslimin tidak lagi melihat Islamisme sebagai sumber utopia. Dan ini lebih merupakan pandangan pragmatis yang meramalkan masa depan lebih baik,” tulisnya.

***
Sementara itu, di dalam bukunya berjudul The War for Muslim Minds: Islam and the West (2004), Kepel berusaha memecahkan kode bahasa perang yang rumit dan terorisme yang mengatasnamakan agama dalam aksinya. Berangkat dari analisis tentang peristiwa 11 September 2001, Kepel menelusuri mata rantai dari kekacauan internasional dari konflikmeminjam Samuel P. Huntingtonantara Barat dan dunia Islam.

Dalam penelusurannya, Kepel menggarisbawahi konflik ini mulai muncul ke permukaan berawal dari kegagalan proses perdamaian Israel-Palestina pada tahun 2000. Fenomena ini menurut Kepel adalah peristiwa pertama dalam spiral kekerasan dan dendam. Sementara itu, revolusi neo-konservative di Washington juga telah mengguncang kebijakan Amerika terhadap Timur Tengah, yang secara tradisional bersandar pada dua sisi: antara keamanan Israel dan akses ke sumur minyak. Pada saat bersamaan, di Saudi Arabia dan Afganistan telah terjadi sebuah transformasi doktrin Islamis radikal oleh Osama bin Laden dan Zawahiri. Mereka telah memindahkan lokasi aksi teroris dari negeri Muslim ke Barat. Islamis radikal ini menyatakan jihad melawan musuh-mususnya di seluruh dunia.

Dalam kaitan ini, Kepel meneliti dampak dari teroris global dan konsekuensi dari operasi militer dalam
upaya menumpasnya. Ia mempertanyakan kemampuan AS untuk merundingkan tantangan Timur Tengah dengan retorika Perang Dingin, daripada mengungkap kesalahan dalam taktik dan ideologi teroris. Sebagai konklusi, Kepel menawarkan jalan keluar dari masalah Timur Tengah yang melilit kepentingan internasional dengan dialog damai antara kedua belah pihak. Kepel menjabarkan metodologinya yaitu dengan syarat-syarat penerimaan Israel bagi demokratisasi Islam dan masyarakat Arab, serta merebut simpati kaum Muslim di Barat.

Menyinggung kaum Muslim di Barat, Kepel juga menuliskannya di dalam buku berjudul Allah in the West (1996). Buku ini mengungkapkan bagaimana tradisi Islam di masa kini telah diakui identitasnya di Amerika, Perancis dan Inggris. Hal terpenting dan kontroversial dari fenomena ini adalah penetapan hukuman mati bagi Salman Rushdi karena karyanya “Ayat-Ayat Setan,” yang menyulut kemarahan publik khususnya kelas pekerja Pakistan di Inggris dengan membakar buku-buku tersebut. Pada dimensi lain, perdebatan juga memanas di Perancis mengenai “Insiden Jilbab,” yang memunculkan pertanyaan apakah tiga gadis muslimah dapat mengenakan jilbab di sekolah negeri. Dan terakhir, tentang fenomena Islamisasi geng kulit hitam Amerika di bawah panji Muslim kulit hitam.

Selain membahasa fenomena di atas, di dalam buku ini Kepel ingin mengutarakan bahwa telah muncul gerakan baru di bidang sosial, budaya, politik dan agama “garis keras,” yang berpusat di seputar nama aktifisme Islam dan beroperasi di jantung masyarakat post-industri. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan Islam di Amerika dan Eropa telah memperkuat dirinya di luar kebiasaan Islam tradisional, yakni dengan menggunakan bahasa Barat, mempunyai akses langsung ke media penyiaran, dan menumbuhkan kepeloporan ekspansi keimanan di seluruh dunia.

Berangkat dari pembacaan yang serius terhadap fenomena-fenomena gerakan Islam politik kontemporer, Kepel menegaskan bahwa jihad dan teror atas nama agama bukanlah merupakan metode politik yang efektif untuk menunjukkan eksistensi dan cita-cita kemajuan dunia Islam. Sebaliknya, Barat juga tidak memanfaatkan fenomena ini untuk mengeneralisir bahwa terorisme identik dengan Islam. Dan, yang lebih penting lagi, fenomena ini jangan sampai dipergunakan sebagai ’senjata politik’ bagi Barat untuk memukul mundur negara-negara Islam secara luas. Dengan sikap saling menghargai, sikap kritik-otokritik dan dialog, niscaya kita dapat memutus mata rantai terorisme atas nama agama yang sedang berkembang biak seperti amuba. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: