Adie Prasetyo

Because History Must be Written

MEMBURU MAKNA AGAMA


Bagi yang ingin mengenal pemikiran Frithjof Schuon (1907-1998), sangat bias jika menggunakan lensa oposisi biner. Yaitu menggunakan kacamata benar dan salah, ya dan tidak. Memang, seorang pencari dan pemuja Tuhan sejati seringkali harus menerima stereotip ”gila,” ”maniak,” atau ngawur. Sebab, pemikirannya seringkali menyempal (crank) dari kaidah umum. Bahkan, tidak jarang pemikiran dan tokoh yang dimaksud dijustifikasi sebagai penganut aliran sesat, kafir, dan tidak tercerahkan. Salah satu ilmuan yang kerap dikritik oleh para pemikir agama adalah Frithjof Schuon. Seorang petualang yang menemukan, merumuskan dan menyebarluaskan gagasan Sophia Perennis (Kebijaksanaan Abadi), dan Relegia Perennis (Agama Abadi).

Untuk mengenang, merefleksikan dan menyebarluaskan gagasan Schoun, sangat bijak apabila kita menelusuri kembali jejak langkah pemikiran dan kehidupannya. Schuon lahir di Basel, Swiss pada 18 Juni 1907. Ayahnya keturunan Jerman. Sedangkan ibunya berasal dari ras Alsatia, salah satu suku di Perancis. Hingga usia 13 tahun, Schuon tinggal dan sekolah di Basel. Setelah Ayahnya meninggal, karena alasan ekonomi, sang ibu membawa Schuon dan saudaranya kembali ke rumah keluarganya di Mulhouse, Perancis. Selanjutnya, ia menjadi penduduk dan warga Negara Perancis.

Pindahnya Schuon ke Mulhouse, menyebabkannya sejak dini sudah menguasai dua bahasa, yaitu bahasa Jerman dan Perancis. Pada usia 16 tahun, Schuon meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja sebagai desainer tekstil. Sebagai remaja, ia sangat suka menggambar dan melukis, meskipun tidak pernah mendapat pendidikan formal di bidang seni. Di Mulhouse pula, berbagai karya klasik dari Timur seperti Upanishad, Bhagavad-Gita dan Seribu Satu Malam sudah menarik perhatiannya. Selain itu, ia juga mendalami gagasan Plato dan Rene Guenon. Dua orang ilmuan yang ikut memberi dampak yang sangat mendalam dalam pemikiran Schuon nantinya.

Setelah menjalani wajib militer di Perancis selama satu tahun setengah, Schuon pergi ke Paris. Di sana, ia mulai belajar bahasa Arab di masjid. Kemudian pada tahun 1932, untuk pertama kalinya ia berkunjung ke Aljazair. Ia berkunjung ke Aljazair karena mendapat rekomendasi seorang Darwis (sufi) di Perancis. ”Jika kau ingin belajar sufisme, datanglah ke Aljazair,” begitu kira-kira saran dan rekomendasi sang Darwis. Kunjungan tersebut membawa kesan yang mendalam kepada dirinya. Ia mulai tertarik dengan sufisme. Ia menjadi murid seorang tokoh sufi di sana yaitu Syaikh Akhmad al ‘Alawi (1869-1934). Syaikh Akhmad adalah seorang wali qutub sufi abad ke-20. Tiga tahun kemudian, Schuon berkunjung lagi untuk kedua kalinya ke Afrika Utara, Aljazair dan Moroko. Kemudian pada tahun 1938, dalam perjalanannya ke India, ia singgah di Kairo. Di sana, Schuon akhirnya bertemu dengan Guenon, setelah sebelumnya berkorespondensi selama kurang lebih 20 tahun.

Pada tahun 1939, ketika baru tiba di India, perang Dunia Kedua meletus. Hal ini menyebabkannya harus kembali ke Perancis untuk ikut perang. Setelah beberapa bulan, tentara Jerman menangkap dan memenjarakannya. Ketika ia mengetahui rencana tentara Jerman untuk merekrutnya sebagai tentara Jerman, karena ras ibunya adalah Alsatia, ia mencari suaka politik di Swiss. Schuon mendapat status warga Negara Swiss dan menetap di sana selama 40 tahun.

Pada usia 42 tahun (1949), Schuon melangsungkan perkawinannya di Lausanne, Jerman. Istrinya seorang pelukis keturunan Swiss-Jerman. Di Lausanne, Schuon banyak menulis berbagai karyanya. Pada tahun 1959, Schuon dan istrinya berkunjung ke Amerika Barat atas undangan teman-temannya dari suku Indian Sioux dan Crow. Di sana, ia mendalami agama dan ritual (kepercayaan) suku Indian. Pengetahuan awal tentang suku Indian, berawal dari kekaguman neneknya tentang kearifan lokal (local wisdom) suku Indian. Sejak kecil, Schuon sering diceritakan kehidupan spiritual, kesederhanaan, dan kebijaksanan suku Indian. Cerita neneknya tersebut merasuk ke dalam bawah sadar Schuon, hingga pada akhirnya, ia membangun relasi dengan tokoh-tokoh Indian Sioux dan Crow. Dengan ditemani dua suku Indian tersebut, Schuon beserta istrinya mengunjungi berbagai suku Indian yang lain sekaligus tempat dan tradisi “suci” mereka. Bukan hanya itu, Schuon dan istrinya juga diangkat menjadi keluarga James Red Cloud dari suku Sioux pada tahun 1959. Beberapa tahun kemudian, Schuon dan istrinya diangkat menjadi keluarga suku Crow. Schuon melukis dan merefleksikan pengamatannya terhadap suku-suku Indian tersebut di dalam bukunya berjudul The Feather Sun: Plains Indians in Art and Philosophy (1990).

Pada tahun 1980, Schuon dan istrinya beremigrasi ke Amerika Serikat. Ia menetap di Indiana dan tetap aktif menulis sampai akhir hayatnya. Schuon meninggal di Bloomington pada tahun 1998. Dalam tulis menulis, Frithjof Schuon dikenal juga sebagai Isa Nuruddin Ahmad al-Shadhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami.

Karya Schuon
Walaupun Schuon tidak bersekolah secara formal, ia tergolong penulis yang produktif. Di antara buku-bukunya yang terkenal antara lain; Adastra & Stella Maris: Poems by Frithjof Schuon (2004), Art from the Sacred to the Profane: East and West, (2007), Autumn Leaves & The Ring: Poems by Frithjof Schuon, Christianity/Islam: Perspectives on Esoteric Ecumenism, (1985), Echoes of Perennial Wisdom, (1992), The Essential Frithjof Schuon, (2005), The Eye of the Heart: Metaphysics, Cosmology, Spiritual Life (1997), The Feathered Sun: Plains Indians in Art and Philosophy (1990), Form and Substance in the Religions (2002), From the Divine to the Human (1982), The Fullness of God: Frithjof Schuon on Christianity (2004), The Garland (1982), Gnosis: Divine Wisdom (2006), Images of Primordial and Mystic Beauty: Paintings by Frithjof Schuon (1992), In the Face of the Absolute (1989), Language of the Self (1999), Light on the Ancient Worlds (2006), Logic and Transcendence (2009), The Play of Masks (1992), Prayer Fashions Man: Frithjof Schuon on the Spiritual Life, edited by James S. Cutsinger (2005), Road to the Heart: Poems (1995), Roots of the Human Condition (1991), Songs for a Spiritual Traveler: Selected Poems (2002), Songs without Names, Volumes I-VI: Poems (2007), Songs without Names, Volumes VII-XII: Poems (2007), Spiritual Perspectives and Human Facts (2007), Stations of Wisdom (1995), Sufism: Veil and Quintessence (2007), Survey of Metaphysics and Esoterism (1986), To Have a Center (1990), The Transfiguration of Man (1995), Treasures of Buddhism (1993), Understanding Islam (1994), World Wheel, Volumes I-III: Poems (2007), World Wheel, Volumes IV-VII: Poems (2007).

Gagasan Sophia Perennis Schuon
Schuon mengakui bahwa ada satu realitas yang absolut, transenden, dan tidak dapat dicapai melalui panca indera. Ia berada di balik ruang dan waktu. Namun, dapat diketahui dengan intelek murni, yang dapat membuatNya hadir dalam diri kita. Ia bersifat mutlak, yang memunculkan dimensi kesementaraan dan relativitas agar dapat menyadari misteri pemancarannya. Ini berarti, Tuhan ingin dikenal tidak hanya dalam dirinya sendiri, tetapi ‘dari luar dirinya’ dan dimulai dari ‘yang lain dari Dia.’ Semua itu adalah substansi dasar dari Ketuhanan yang meliputi segala sesuatu. Dengan demikian, intelegensia manusia—karena ia mampu mencapai esensi dan totalitas—dalam substansinya terdapat dua mental mengenai Sophia perennis, yaitu realitas absolut yang secara definif menjadi kebajikan paling besar.
Dalam pandangan Schuon, Shopia Perennis adalah ”to know the total Truth and, consequently, to will the Good and love Beauty; and this in conformity to this Truth, hence with full awareness of the reasons for doing so.” Sophia Perennis adalah filsafat untuk mengetahui kebenaran absolute, sebagai konsekuensi untuk menginginkan kebaikan dan mencintai keindahan. Dan, kesepahaman kebenaran ini dilakukan dengan penuh kesadaran untuk melaksanakannya.

Doktrin Sophia, di satu sisi berkenaan dengan “Prinsip Surgawi” dan di sisi lain berkaitan dengan manifestasi universalnya, yaitu Tuhan, Dunia dan Jiwa, ketika membedakan perwujudan antara jagad besar (makro kosmos) dan jagad kecil (mikro kosmos). Hal ini membawa implikasi bahwa Tuhan di dalam diriNya—secara ekstrinsik—terdapat tingkatan-tingkatan dan bentuk-bentuk. Seolah-olah, Dia ingin membatasi diriNya dalam gambaran dari PerwujudanNya. Di sinilah terletak seluruh misteri dari ‘Dunia Maya.’

Misteri pertama adalah ‘Baik.’ Merupakan sebuah priori, yakni prinsip tertinggi sebagai teladan dan sebab dari setiap kemungkinan baik. Di satu sisi, hal ini adalah sebuah posteori dalam prinsip manifestasi universal. Dan, di sisi lain menuntun kembali kepada prinsip. Dengan kata lain, kebaikan adalah yang utama dari Tuhan itu sendiri. Kemudian, “proyeksi” Tuhan dalam eksistensi dan akhirnya terjadi penyatuan kembali pengeksistensian pada Tuhan.

Kedua ’Kebaikan.’ Bagiannya adalah pancaran suci dari Keindahan. Bagi Keindahan, ia adalah serupa panas bagi cahaya. Menjadi Indah, Tuhan berarti kebaikan. Dapat juga dikatakan dalam keindahan, Tuhan meminjamkan sesuatu dari Surga. Keindahan adalah utusan, tidak hanya dari keabadian dan harmoni, tapi seperti juga pelangi dari rekonsiliasi dan pengampunan. Dari seluruh pijakan, Kebaikan dan indah dalam hal ini adalah “sisi dalam” dan “luar” dari Keindahan, di mana dari perbedaan pijakan kita sebelumnya. Indah itu intrinsic. Dalam kaitannya dengan Esensi, di mana Kebaikan itu ekstrinsik ketika dalam kaitannya dengan kejadian-kejadian, khususnya terhadap makhluk.

Ketiga, ’Keteraturan.’ Cabangnya berasal dari Yang Absolut, tak dapat dihilangkan. Secara intrinsik, ini adalah kemurnian tetap dari Surgawi dan Yang Suci. Sedangkan secara ekstrinsik, ia adalah batas pengampunan, pinjaman atas penerimaan yang terberi. Hal ini karena dunia terjalin atas dua dimensi utama, yakni keteraturan matematik dan irama kelembutan. Keduanya bersatu dalam kesamaan Superior yang berkaitan dengan kebesaran Surgawi.

Dus, dengan tegas dikatakan Schoun bahwa hanya ada satu filosofi, yakni The Sophia Perennis yang digambarkan dalam bersatunya semua agama. Sophia mempunyai dua asal, satu abadi dan yang lain sesaat (temporal). Yang pertama bersifat “vertikal” dan terputus, dan yang kedua bersifat “horisontal” dan bersambung. Dengan kata lain, yang pertama seperti hujan yang hanya sesekali turun dari langit. Dan yang kedua, seperti sebuah arus yang mengalir dari satu mata air. Keduanya mencontohkan pertemuan dan perpaduan. Keduanya bertemu dan bersatu dalam Wahyu metafisik (metaphysical revelation) yang mengaktualkan wilayah intelektual. Dan begitu intelek ini bangkit, ia memunculkan satu pemikiran spontan dan independen.

Dalam hal ini, dialektika Sophia Perennis adalah “deskriptif” dan bukan “silogistik.” Bisa dikatakan bahwa penegasan-penegasan bukanlah hasil dari satu ”pembuktian” yang riil maupun yang imajiner, meskipun masih mungkin memakai bukti-bukti—yang dalam hal ini riil—dengan cara “ilustrasi” tanpa harus mempedulikan terhadap kejelasan yang masuk akal. Namun, kata Sophia berada di atas semua simbolisme dalam segala bentuknya, sehingga keterbukaan akan pesan simbol-simbol adalah pemberian yang sesuai bagi manusia primordial dan warisan-warisannya di segala zaman.

Intinya, apakah the Sophia Perennis adalah suatu “humanisme,” secara prinsip jawabannya adalah “ya.” Namun, dalam faktanya ini bisa jadi “tidak,” mengingat humanisme dalam pengertian konvensional dari term de facto ditujukan bagi manusia tertentu bukan manusia seluruhnya. Humanisme, bagi manusia modern adalah praktik utilitarianisme yang ditujukan pada golongan tertentu. Ia adalah kehendak untuk menjadikan seseorang mungkin bermanfaat bagi kemanusiaan, namun sia-sia.

Titik Temu Esoteris Agama-agama
Dari pengembaraan spiritual dan intelektualnya, Schuon menemukan bahwa dalam kesadaran purbanya, manusia senantiasa akan merindukan Dia yang Absolut. NamaNya bisa ditemukan dalam setiap bahasa, namun seringkali samar oleh berbagai ritual manusia dalam memujaNya. Itulah yang disebut Schuon sebagai dimensi Eksoterik. Yaitu sisi agama di mana ritual, dogma, ajaran dan tradisi yang membedakan agama satu dengan lainnya. Sementara, inti dari agama itu sendiri adalah dimensi Esoteris. Yaitu inti spiritualisme untuk menemukan Dia Yang Abadi. Tapi, sisi ini sering terlupakan oleh hiruk-pikuk keberagamaan manusia. Nah, pada level inilah menurut Schuon, agama-agama itu menemukan titik temunya.

Mengutip salah satu pengagum Schuon, yakni Seyyed Hossein Nasr dalam Knowledge and the Sacred (1989), memaparkan wacana-wacana metafisik yang mempertemukan agama-agama dan tradisi spiritual yang otentik pada satu titik kesatuan transenden. Yakni, Tuhan, yang dicari (umat beragama) melalui beragam agama (sebagai jalan-jalan menuju Tuhan). Inilah inti dasar perspektif filsafat perennial. Maka, bila disebut perennial religion (agama dan atau tradisi perennial), maksudnya adalah ada hakikat yang sama dalam setiap agama. Rumusan filosofisnya: the heart of religion is the religion of heart. Inilah wilayah terdalam dari setiap agama. Artinya, terdapat substansi yang sama dalam agama-agama, meskipun terbungkus dalam bentuk yang berbeda. Maka, bisa dirumuskan secara filosofis bahwa substansi agama itu satu. Tetapi, bentuknya beraneka ragam. Ada (agama) Yahudi, Kristen, Islam dan seterusnya. Perumusan ini, menjadikan filsafat perennial memasuki wilayah jantungnya agama-agama, yang secara substantif hanya satu, tetapi terbungkus dalam bentuk (wadah, jalan) yang berbeda.
Untuk menguak misteri dari jantung agama yang menjadi titik temu agama-agama, dapat diilustrasikan dengan air, yang substansinya adalah satu. Tetapi, bisa saja kehadirannya mengambil bentuk berupa sungai, danau, lautan, uap, mendung, hujan, kolam, embun dan sebagainya. Menurut Hazrat Inayat Khan (1980), kebenaran substansial agama hanyalah satu, tetapi aspek-aspeknya berbeda. Ilustrasi tersebut dengan demikian bisa diaplikasikan ke dalam wacana pluralitas agama. Ibarat agama, yang secara substansial satu sebagai jantung dari setiap agama, tetapi menjadi beragam dan plural ketika diturunkan dalam ’atmosfir bumi,’ atau ’alam eksoterik.’ Tetapi, meskipun agama itu plural, semua (agama) itu pada dasarnya dapat membawa manusia ke Sumber Asalnya, yakni Tuhan.

Namun, sejauh manakah batas-batas diametral antara letak ’jantungnya agama’ dengan pluralitas agama? Dalam kerangka inilah, Frithjof Schuon memberikan sumbangan pemikiran yang sangat orisinal dalam memberikan penekanan (secara diametral) antara eksoterisme (wilayah pluralitas agama) dan esoterisme (wilayah jantungnya agama-agama).

Dalam kata pengantar buku The Transcendent Unity of Religions karya Frithjof Schuon (1975), Huston Smith mengatakan bahwa, “…Bagi Frithjof Schuon, hidup ini ada tingkat-tingkatannya (the great chain of being). Hirarki eksistensi ini, mulai dari Tuhan yang menempati peringkat tertinggi, sampai manusia dan atau benda-benda mati pada peringkat terendah. Nah, dari segi metafisik, hanya pada Tuhanlah terdapat titik temu berbagai agama. Sedang di tingkat bawahnya, agama-agama itu saling berbeda. Sehubungan dengan realitas metafisik ini, dari segi epistemologis dapat pula dikatakan bahwa perbedaan antara agama yang satu dengan agama yang lain, semakin mengecil dan bersatu di tingkat tertinggi, sedangkan di tingkat bawahnya, berbagai agama itu terpecah belah.”

Penutup

Menjadi manusia berarti berhubungan dengan Tuhan. Tanpa itu, hidup terasa hampa. Demikian pesan Schuon untuk kita semua. Seperti kisah nabi-nabi dan para guru, ibadah (ritual) agama harus diterjemahkan ke dalam laku hidup keseharian. Karena pada dasarnya, setiap manusia menginginkan tiga hal, yaitu kebenaran, spiritualitas, dan moral. Kebenaran sejati, ada pada dimensi metafisik. Sedangkan dogma agama adalah simbol kebenaran metafisik atau esoterisme. Kesemuanya terkandung dalam semua agama. Praktik spiritual pada dasarnya adalah ibadah. Dalam hal ini menurut Schoun, terdapat tiga bentuk ibadah, pertama, ibadah kanonik. Adalah ibadah untuk Tuhan. Kedua, ibadah personal, di mana contoh terbaiknya adalah Psalm. Ketiga, ibadah kontemplatif hati. Ini adalah spiritual mistis, yang mensaratkan kondisi-kondisi tertentu. Schoun mencontohkan wacana Hindu tentang Japa-yoga masuk dalam kategori ini. Suatu metode ibadah kontemplatif yang meliputi pengalaman ’mistis’ dalam menemukanNya. Sedangkan, moral adalah dimensi ketiga dari kehidupan spiritual. Pada satu sisi, moral berarti sebuah tindakan yang rasional, sehat dan baik. Di sisi lain, ia bererti keindahan jiwa dan juga kehormatan intrinsik. Tanpa kualitas ini—kebenaran dan praktik-praktik spiritual—agama menjadi tak berarti.

Dus, Religia Perennis atau yang sering disamakan dengan pluralisme agama, adalah ikhtiar para arif bijaksana (filosof) dalam membagi pengalaman spiritualnya. Sikap menganggap satu agama lebih baik dan lebih benar, sesungguhnya merupakan nalar yang dangkal. Apalagi, sampai menumpahkan darah atas nama agama dan Tuhan. Sebab, pada dasarnya agama-agama adalah cara manusia mengabdi kepada sang pencipta. Semua akan bertemu pada satu titik, yaitu Tuhan itu sendiri. Banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan menuju Tuhan. Wallahu’alam. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: