Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Wardah Hafidz Ibu Kaum Miskin


Berpenampilan sederhana, dengan rambut pendek yang dibiarkan memutih adalah salah satu ciri khas Wardah Hafidz. Perempuan yang mampu menerangi jagad Indonesia karena jejak pembelaannya terhadap kaum papa. Dalam konteks masa kini, Wardah juga merupakan icon gerakan sosial baru (new social movement) yang berbasis perlawanan terhadap kemiskinan. Darinya, banyak hal yang patut diteladani dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini. Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Untuk meneladani dan mengambil inspirasi dari Wardah, tentu kita harus mengenal dan memahami sosoknya.

Si Tomboy dari keluarga Santri
Wardah Hafidz dilahirkan pada 28 Oktober 1952 di Jombang Jawa Timur. Ia lahir dan besar di lingkungan keluarga pesantren. Kakeknya adalah seorang Kyai yang sewaktu pendudukan Jepang sudah memiliki pesantren. Ayah Wardah juga dikenal sebagai seorang ulama. Ia lulusan pesantren Tebuireng dan menjadi seorang penghulu kampung serta mengabdikan diri pada pelayanan pendidikan agama. Dalam kaitan ini, dapat dikatakan keluarga Wardah merupakan keluarga santri dan termasuk kelas ekonomi menengah.

Dari penuturan Wardah kepada penulis, dikatakan bahwa keluarga besar dari pihak bapak mempunyai hubungan keluarga dengan pesantren Tebuireng dari proses kawin mawin berbagai anggota keluarga. “Kakek Gus Dur memanggil bibi kepada nenek saya,” ungkap Wardah. Selain itu, ada berbagai perkawinan dari kedua cabang keluarga besar.[1] Meskipun berlatar keluarga santri, sejak kecil Wardah sudah menunjukkan sifat dan tindak-tanduk yang berlawanan dengan keluarga dan lingkungannya. Sebagaimana kita mahfum, setiap keluarga santri ingin anak cucunya taat agama dan meneruskan trah kesantriannya di masa depan. Oleh karena itu, pendidikan agama dengan bermacam-macam ritualnya menjadi santapan sehari-hari Wardah.

Namun, bukan Wardah jika tak memberontak. Meskipun dididik oleh lingkungan agama yang ketat, tidak menjadi alasan bagi dia untuk selalu mencari sesuatu yang baru dalam kehidupannya, yang melampaui apa yang diperoleh dari keluarga dan lingkungannya. Di keluarganya, ada peraturan tidak tertulis bagi sepuluh orang anak-anak orang-tuanya agar bersekolah di pendidikan Islam minimal hingga tamat sekolah menengah. Lelakinya di kirim ke Gontor, perempuannya ke Mualimat di Yogyakarta. Tradisi demikian berawal dari sejarah keluarga yang bersinggungan dengan kultur tradisionalis dan modernis. Pada awal tahun 1950an, ketika golongan Islam yang tadinya secara politik diwakili oleh Masyumi pecah dengan keluarnya NU, keluarga besar Wardah, khususnya dari pihak ayah, juga mengambil afiliasi yang berbeda-beda. Sebagian NU, sebagian Muhammadiyah, dan sebagian tetap Masyumi.
“Ayah dan paman saya tetap Masyumi dengan kecenderungan Muhammadiyah dan modernis. Generasi ayah saya mendapatkan pendidikan pesantren di Tebuireng, sedangkan generasi saya di sekolah modern Muhammadiyah (Muallimat untuk yang perempuan) dan pondok modern Gontor untuk yang lelaki sebagai sarana mendapatkan pendidikan formal agama,” tutur Wardah sambil mengenang masa lalu keluarganya.[2]

Peraturan pendidikan demikian dinilai Wardah membelenggu kebebasannya. Penyeragaman sekolah membuat Wardah cemas. Ia suka bilang kepada orang-tuanya bahwa dirinya memilih sekolah umum saja. Tentu saja hal demikian mengalami penolakan. Sewaktu dikirim ke Mualimat, Wardah banyak menangis tidak setuju. Orangtuanya tidak surut mengalah. Akhirnya ia menyerah. Di sekolah itu, ia merasa tidak pas dengan banyaknya aturan-aturan. Semasa sekolah, Wardah menyebut dirinya sebagai “pembuat onar.” Ia jago dalam bahasa Inggris tapi ogah-ogahan terhadap bahasa Arab. Bukan karena bahasa Arabnya pas-pasan, tapi bagian dari pembangkangan akan tradisi keluarganya. Di Mualimat, ia sekolah selama enam tahun. Lepas dari sana, ia bertekad memulai pilihannya sendiri.
Diam-diam, Wardah merencanakan pilihan bersekolah di universitas. Masuklah ia ke IKIP Malang (kini Universitas Negeri Malang) mengambil sastra Inggris. Bersekolah secara serius lalu mulai pengalaman mengajar dan menjadi instruktur bahasa di sekolah penerbangan Curug. Ia bosan menjadi guru. Bekerja menjadi instruktur bahasa inggris di Curug merupakan pengalaman asing yang baru dan lain untuknya. Sebab, di curug Wardah mengenal kehidupan yang di satu sisi menggunakan disiplin tentara yang membuat dia jengah (siswa berbaris masuk kelas, memberi hormat ala tentara, hukuman fisik, dan sejenisnya). Dan, di sisi lain kehidupan sosial yang sudah mulai meninggalkan akar tradisi, berorientasi Barat yang permisif. Kemudian, Wardah dipanggil menjadi dosen di almamaternya. Ia ragu, tapi tawaran bersekolah ke Amerika mengambil master sosiologi sulit ditolaknya.

Di negeri Paman Sam itu, Wardah kuliah di Ball State University, Muncie, Indiana, jurusan sosiologi, untuk program master. ”Saya pergi ke Amerika tidak lama setelah adik saya, Salman, ditangkap karena terlibat dalam gerakan Imron, menyerang Polsek Cicendo. Situasi politik sangat pengap dan penuh kekerasan negara kepada warganya. Di Amerika, ruang partisipasi politik yang terbuka memberi inspirasi perjuangan ke arah tersebut. Individualisme yang menjadikan relasi sosial berjarak, curiga dan kering memperkuat penghargaan saya kepada Indonesia yang lebih hangat dan ramah. Kapitalisme yang menciptakan jarak sosial ekonomi yang lebar di Amerika memberi pengalaman langsung kepada saya bagaimana menjadi orang miskin di tengah keserbatersediaan yang berlimpah.” Demikian penuturan Wardah tentang pengalamannya bersekolah di Amerika.[3]

Pada tahun 1993, Wardah mulai terlibat di aktivitas kaum miskin kota melalui penelitian kaum miskin kota di Jelambar baru di Jakarta Utara. Ekonomi Indonesia ketika itu sedang booming. Bonanza ide pembangunanisme dilakukan seraya diikuti praktik penggusuran-penggusuran. Saat itu, Wardah mulai melawan karena melihat banyak ketidakadilan dan kemelaratan yang diabaikan negara. Ia mulai sensitif dengan kompleksitas kemiskinan kota. Karena berusaha mengubah keadaan, memulihkan hak-hak kaum miskin agar lebih kritis dan mengerti haknya, ia banyak menuai permusuhan dan dianggap provokator oleh pemerintah. Dari pengalaman kerja lapangan itu, dengan menimbang pentingnya menerobos budaya bisu mayoritas rakyat, di satu sisi, dan fragmentasi horizontal yang parah, Wardah bersama kawan-kawannya kemudian mendirikan UPC (Urban Poor Consortium), dengan fokus utama menumbuhkan gerakan rakyat. ”Kami memilih kemiskinan kota sebagai fokus untuk meletakkan kemiskinan kota dalam peta politik dan kebijakan publik karena menghitung rakyat miskin kota sebagai pelaku strategis untuk perubahan,” jelas Wardah.[4]

Pergolakan pemikiran: Tentang Agama, Pembangunan dan Kemiskinan
Pembelaan terhadap kaum miskin kota (Urban poor) di Indonesia menemui klimaksnya ketika pengelola negara menerapkan pembangunan dengan aliran developmentalisme. Konsekuensi paradigma pembangunan menjadi berorientasi fisik, maka yang terjadi adalah maraknya projek-projek mercusuar hampir disetiap kota. Tak jarang atas nama pembangunan warga kota menjadi korban. Penggusuran, “penertiban” dan berbagai perlakuan represif kerap dilakukan pemerintah terhadap golongan miskin kota. Tak hanya merampas harta benda, masa depan dan tak jarang nyawa taruhannya.
Dalam konsep pemikiran Wardah, ia kerap menyatakan penolakannya terhadap istilah ”menggusur orang miskin,” ”agama di Indonesia,” dan ”pembangunan di Indonesia.” Wardah lebih sepakat dengan konsep dan gagasan ”menggusur kemiskinan,” ”agama Indonesia,” dan pembangunan Indonesia.” Dalam pemikirannya, Wardah menyatakan bahwa, ”menggusur orang miskin” dari kehidupannya, dari hak-hak dasarnya, dari kreativitas dan ingenuity-nya adalah tindakan yang selama ini berlangsung. Tindakan yang seharusnya dilakukan memang menggusur kemiskinan, yaitu memerangi kemiskinan. Alih-alih itu, yang dilakukan oleh penguasa dan mereka yang kuat adalah memerangi orang-orang miskin. Konsep, gagasan dan tindakan yang keliru tersebut telah menjadi budaya pembangunan Indonesia. Ia berlangsung turun-menurun, dan sampai saat ini orang miskin belum mendapatkan haknya sebagai penduduk/warga negara Indonesia.

Kemudian, dalam ungkapan ”agama di Indonesia,” kalimat tersebut menyiratkan pengertian agama sebagai cetak biru kehidupan yang tunggal dan harus berlaku sama di semua ruang, waktu dan konteks. Pada kenyataannya, agama adalah bagian dan produk dari budaya dan peradaban, yang karenanya, tafsir, ekspresi dan penghayatannya merupakan keyakinan otentik yang tak mungkin dilepaskan dari kesadaran budaya seseorang. Dalam hal ini, seorang perempuan, Islam, dan Jawa, pastilah berbeda dalam penghayatan dan ekspresi religiusitasnya dengan seorang perempuan, Islam, dan India atau Arab, atau Cina.

Pengertian yang sama berlaku bagi istilah ”pembangunan di Indonesia” yang mengesankan ada rancangan pembangunan yang satu dan sama untuk dilaksanakan di semua tempat di dunia. ‘Pembangunan Indonesia’ lebih menjelaskan upaya kita bersama untuk membangun Indonesia menurut rancangan khas yang didasarkan atas kenyataan Indonesia. Di balik semua itu, Wardah melihat bahwa pertarungan dan perlawanan terhadap status quo, dan upaya mengubah kemapanan tidak bisa dilakukan dan terjadi di tingkat material fisik saja. Tetapi, termasuk juga di tingkat simbol seperti bahasa dan istilah karena simbol dan bahasa mencerminkan pola pikir dan mempengaruhi tindakan.[5]
Selain bergelut langsung di lapangan, Wardah juga telah menghasilkan karya-karya tulis. Ia menerjemahkan beberapa buku seperti Tokugawa Religion dari Robert Bellah, dan City of Joy (negeri bahagia), sebuah epik tentang cinta, kepahlawan dan harapan di tengan kemiskinan karya Dominique Lapierre dengan latar kaum miskin kota Calcutta India. Dikatakannya, sebelum memfokuskan diri ke permasalahan kemiskinan perkotaan dan melakukan kegiatan lapangan langsung, Wardah aktif menulis artikel, esai, dan melakukan penelitian. Namun, sejak menjadi aktivis lapangan Wardah sangat sedikit menulis.[6]

Sebagai manusia yang masih hidup dan melakukan perjuangan, Wardah juga mempunyai mimpi-mimpi serta cita-cita. Mimpi dan cita itu melekat dalam perjuangan kesehariannya melayani dan membela ketidakadilan negara kepada rakyatnya. Dalam doa yang hening, Wardah memimpikan Indonesia yang berkeadilan sosial dengan rakyat yang berdaulat dan merayakan kebinekaan sebagai kekuatan dan kekayaan.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: