Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Buku Agama-Politik


Buku-Buku M. Yudhie Haryono

—Ya Allah panjangkan umurku dalam ridhaMu—

Dulu, kupikir buat apa panjang umur? Capek dan menjadi manula sehingga merepotkan banyak orang. Ternyata setelah belajar ilmu tafsir, aku baru paham bahwa ”umur panjang” bukan jumlah umur kita di dunia. Tetapi, seberapa panjang nama kita dikenang (kebajikannya) setelah meninggal dunia. Pantesan, nama-nama nabi dan pahlawan masih kita sebut walau mereka sudah tiada. Mereka seakan-akan masih hidup dan bermain bersama kita. Setelah memahami tafsir hermeneutika tersebut, aku mulai mengumpulkan ”syarat-syarat dan prosedur” agar namaku panjang, amalku banyak dan warisanku cukup. Kutulislah buku, kubangun lembaga dan kukader pemikir-pemikir muda yang punya idealisme tentang Indonesia.

Ketika ditanya wartawan, “apa modal menulis?” Modalku adalah waktu, begitu jawaban diplomasiku. Jawaban ini mungkin susah dimengerti. Tetapi, bagi yang paham kegiatanku maka ia pasti sadar bahwa aku memang orang yang “kelebihan waktu” alias pengangguran. Karena itu riset dan membaca pustaka kemudian dianggap sebagai hobi yang menyenangkan. Syukurnya beberapa buku berhasil kuedit, kutulis sendiri, kutulis bersama-sama dan dipublikasikan. Yang masih kuingat dari puluhan buku editan itu adalah:

surat-surat sufi

Surat-surat Sang Sufi [Hikmah, Bandung, 2000]. Buku ini berisi nasehat-nasehat para sufi pada pembaca tentang hidup, agama, cinta dan kekuasaan. Buku setebal 200 halaman ini dicetak poket dan isinya sangat renyah. Menceritakan sebagian kegiatan para sufi dan pandangan-pandangan mereka terhadap berbagai hal di dunia. Buku-buku sufi kebetulan punya pasar yang cukup banyak di negara kita. Masyarakat kita lebih suka buku sederhana daripada buku-buku berat. Buku agama yang digandrungi juga buku yang ringan dan “keseharian.” Ironi memang, tapi apa mau dikata. Masyarakat kita memang sakit, begitu juga elitnye. Karena itu mereka suka yang instan daripada yang mendalam dan subtansial.

gagasan islam liberal

Gagasan-gagasan Islam Liberal di Dunia [Paramadina, Jakarta, 2000]. Isi buku ini adalah ide-ide liberalisme Islam dari berbagai sudut pandang tokoh-tokoh dunia Islam. Lebih tepat sebagai buku bunga rampai dari sekumpulan pemikir dan pelaku Islam yang peduli akan masa depan umat di zaman global. Buku ini laris karena meneguhkan kekuasaan diskursus Islam Neo-modernisme Nurcholish Madjid di Indonesia sehingga menjadi alternatif bacaan agama masa depan. Diskursus ini kemudian bahkan melahirkan banyak komunitas pembela maupun pencerca. Aku masih ingat, ketika menulis kolom dengan judul Islam Liberal di Majalah GAMMA, aku dicerca karena dituduh membawa kemurtadan di kalangan ummat tapi juga disanjung sebagai Nurcholis Muda yang brilian karena kemampuannya merumuskan Islam yang lebih progresif di masa depan. Jika kuingat saat-saat itu, air mataku selalu menetes. “Cak Nur, adakah yang salah dari umatmu?” Selebihnya, madzab Islam Liberal pada akhirnya berkembang pesat dan seksi di seantero negeri. Buku dan artikel yang membahasnya berlimpah. Aku juga kena getahnya, laris ceramah gratis ke kampus-kampus di seluruh kampung dan kota. Bahkan pernah, sehari aku ceramah di lima tempat dengan tema yang sama. Lelah, tetapi agak menyenangkan. Senang tapi sia-sia.

peringatan-bagi-penguasa

Nasihat Pada Para Penguasa [Hikmah, Bandung, 2001]. Buku setebal 150 halaman ini berisi kumpulan nasehat Alghazali untuk para penguasa. Ditulis dan ditujukan sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan khalifah dan beberapa penguasa saat itu dalam menjawab berbagai persoalan kenegaraan dan kerakyatan. Pendekatannya adalah per kasus. Karena sifatnya yang kontektual maka buku ini mudah sekali dipahami dan dicerna isinya. Buku ini juga menyajikan fakta-fakta yang ada, serta disajikan dengan sumber rujukannya dalam kitab suci dan sunnah plus penuh humor, seperti ciri utama jawaban sufi pada soal-soal dunia, agama dan keseharian. Sebuah buku yang menjadi penyejuk bagi penguasa lurus, dan menjadi sebuah tamparan bagi penguasa busuk.

essential-sufism

Essential Sufism [Mizan, Bandung, 2001]. Buku ini berisi aspek-aspek subtansial dari ajaran sufi. Sejarah dan para penggeraknya juga ditulis sebagai latar dari beberapa pelaku sufi. Sebagai buku yang mencoba menjelaskan sufi dan manifestasinya di dunia, buku ini berhasil memotret tokoh, pemikiran, jaringan dan ajaran-ajaran sufi yang sudah terkenal. Bagi para pencinta sufi, buku ini berhasil mempermudah “pengetahuan peta” sufisme di dunia dan bagaimana cara mempraktekannya di zaman modern. Menjadi sufi, kata buku ini tak harus selalu meninggalkan dunia dan melupakan problem-problem kemanusiaan.

agama ramah

Agama Ramah Lingkungan [Paramadina, Jakarta, 2001]. Buku ini merupakan gubahan dari disertasi yang ditulis oleh Mujiono Abdillah dalam studi Islam di UIN Ciputat. Dalam tesisnya, Mujiono berpendapat bahwa ada yang kurang dalam kajian dan dakwah Islam selama ini yaitu kering dari kajian lingkungan. Isu-isu lingkungan kerap tidak disebut oleh para dai dan ahli Islam. Sebaliknya, Mujiono bahkan berani menuduh bahwa kerusakan lingkungan selama ini lebih dikarenakan oleh konstribusi agama Ibrahiman yang terlalu teocentris [Tuhan sebagai pusat segalanya]. Karena itu, ia menyarankan perlunya reorientasi kajian Islam yang ramah lingkungan agar bencana alam tak datang dan berulang. Baginya, kajian Islam harus mulai menempatkan manusia, alam dan Tuhan dalam hubungan yang saling menguntungkan.

nalar-alquran

Nalar Alquran [Intimedia, Bekasi, 2002]. Buku ini merupakan aksi intelektualku dalam merumuskan langkah-langkah akademis untuk membaca kitab suci dengan lebih baru. Isinya tentang gagasan-gagasan subtansi dalam Alquran. Sebagai perhatian dan keprihatinan atas langkanya kajian baru dalam bidang tafsir, buku ini hendak meretas “jalan baru tafsir di Indonesia.” Buku inilah awal mula aku menemukan teori psiko-hermeneutik dalam studi-studi Alquran. Sebuah pisau analisa yang menyertakan kajian psikologi dalam pembacaan-pembacaan teks. Nantinya, aku sampai pada kesimpulan bahwa kitab suci Alquran perlu diedit ulang demi efesiensi bacaan dan kemudahan penalaran. Argumen-argumennya aku kemukakan nanti pada buku Alquran Kritis yang terbit tahun berikutnya. Pada kedua buku inilah jejak-jejak awal pikiran akademis tentang tafsir kitab suci kutegaskan. Maklum, aku pada awalnya adalah pengamat Alquran yang sangat menikmati kajian-kajian semiotika dan teks.

alquran kritis

Alquran Kritis [Nalar, Bekasi, 2003]. Buku ini melanjutkan temuan awal tentang perlunya pengkajian subtansi Alquran dengan cara dan metoda yang baru. Karena itu, buku ini menjadi acuan ajar yang relatif komprehensif tentang perkembangan kajian tafsir di Indonesia. Buku ini sempat memancing kontroversi karena usulan-usulannya yang sangat liberal dan progresif: Edit Ulang Alquran; Penciptaan Alquran Baru; Alquran Sebagai Bahasa Politik dan Kesementaraan Alquran. Tema-tema tersebut dikemas dengan bahasa yang menarik dan menggugah, yang pada akhirnya memancing minat pembaca untuk melakukan kajian lebih mendalam tentang Alquran.

alquran

Alquran: Buku Yang Mencerahkan dan Menyesatkan [Nalar, Bekasi, 2005]. Buku ini merupakan kumpulan artikel yang sangat liberal dalam pembacaan dan pembelajaran kitab suci dari beberapa pemikir Islam dunia. Buku ini sangat mengedepankan nalar dan situasi sosial-politik di sekelilingnya dalam memahami Alquran. Hipotesa ini berasal dari anggapan bahwa tanpa itu Alquran dapat menjadi buku yang menyesatkan atau mencerahkan. Mereka yang tercerahkan adalah yang mampu memahami pesan-pesan besar dan mengaplikasikannya dalam hubungan antar agama. Hidupnya tunduk pada pesan ayat yang benar. Mereka yang tersesatkan adalah yang mengambil ayat-ayat tertentu demi tujuan dan kepentingan dirinya. Hidupnya menundukkan ayat-ayat yang menguntungkan dirinya. Pada akhirnya kalau kita tidak cermat dan hati-hati memahaminya, kita akan terjebak menjadi atheis ataupun fundamentalis.

wahyu di langit

Wahyu di Langit, Wahyu di Bumi [Paramadina, Jakarta, 2003]. Buku ini sesungguhnya hasil kolaborasi diriku dengan Komaruddin Hidayat. Buku ini kusiapkan dengan cara wawancara di tiap pagi menjelang Komaruddin Hidayat berangkat ke kantor. Lewat diskusi yang mendalam, buku ini kuedit dan kemudian dibaca oleh banyak orang. Resensinya yang kuingat ada di 6 koran nasional dan 2 majalah nasional. Isinya tentang manifestasi dari pesan-pesan kitab suci dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kitab suci mempengaruhi tingkah laku orang dan bagaimana sikap-sikap orang pada kitab suci, coba dianalisa dalam buku ini. Dari proyek buku ini kedekatanku dengan Komaruddin Hidayat terjadi. Aku jadi murid yang lugu, Komaruddin Hidayat menjadi guru yang bijak.

Nyanyian sufi

Nyanyian Sufi [Serambi, Jakarta, 2003]. Buku ini adalah kumpulan syair-syair para sufi yang sangat terkenal di dunia Muslim. Kita tahu, salah satu tradisi Muslim adalah menyanyikan lafal-lafal jalalah sebelum melaksanakan salat lima waktu maupun sebelum upacara-upaca keagamaan. Menyanyi dalam kegiatan umum memang belum menjadi tradisi dalam keluarga Muslim, tetapi menyanyi dalam lafal Arab dan nyanyian yang berisi pujian pada Tuhan dan Nabi telah dianjurkan dan ditradisikan sejak lama dalam masyarakat kita. Buku ini berhasil mengkompilasi beberapa lagu dan doa andalan para sahabat Nabi dan pelaku sufi sejak zaman sahabat sampai hari ini.

politik-air

Politik Air [Walhi, Jakarta, 2004]. Ini adalah buku yang mengisahkan perjuangan kawan-kawan Walhi dalam menyelamatkan lingkungan, terutama air. Berisi kisah pertarungan kawan-kawan pecinta lingkungan dengan MNC [perusahaan trans-nasional] yang sedang mengegolkan UU Air agar diprifatisasi. Isu ini memang sensitif karena akan memusnahkan hak rakyat atas air mereka. Air yang asalnya milik tiap manusia menjadi milik perusahaan tertentu sehingga mudah dimonopoli. Dan, inilah yang sedang dihadapi rakyat Indonesia. Air (kemasan) menjadi komoditi yang sangat mahal, semahal bensin dan minyak tanah.

***
Di samping mengedit buku, aku juga menuliskan pikiran-pikiran dan riset serius secara berkala sebagai manifestasi rasa intelektual yang ada. Walaupun tidak terlalu optimis terhadap manfaat menulis buku [di masa depan] tetapi tetap saja buku-bukuku mengalir deras ke pasar. Beberapa buku yang kutulis dan masih kuingat adalah:

otak-intelektual

Otak Intelektual Muslim [CDIS-Press, Semarang, 1995]. Buku ini merupakan hasil riset tokoh secara geneologis-psikososial yang kuhadirkan tiap minggu di kelompok studi CDIS. Jadi sebelum dijilid, riset ini didiskusikan dulu hingga kami menganggapnya layak dipasarkan. Tentu saja, buku ini merupakan episode intelektual awal di masa-masa kuliah yang berisi “gagasan dan pikiran” orang-orang yang berpengaruh dalam dunia akademik di mana kami belajar. Berisi kumpulan sketsa 15 pemikir dunia Islam, buku ini adalah pintu memahami kajian agama, negara dan pendidikan dari berbagai sudut dan dimensi. Hampir seluruhnya merupakan bahan kuliah yang kusampaikan di depan kawan-kawan kelompok studi. Metoda yang digunakan adalah studi literatur dan pustaka terhadap pikiran dan ide-ide tokoh yang dikaji. Buku setebal 100 halaman ini kemudian menjadi buku wajib baca bagi kader CDIS, tempat kami melakukan aktifitas intelektual dan pembrontakan pada rezim Suharto saat itu.

insan-kamil

Insan Kamil [KalamNusantara, Jakarta, 1996]. Buku merupakan hasil risetku tentang konsep manusia dalam Islam. Karena itu, isinya adalah mengupas bagaimana caranya menjadi manusia yang sempurna dan membahas metoda Islam dalam memanusiakan manusia. Dilengkapi dengan tumpukan ayat dan hadis, buku ini sangat tekstual karena basisnya sangat jelas: Alquran dan hadis. Buku kedua yang kutulis ini merupakan hasil renungan atas bacaan-bacaan di pesantren tentang manusia ideal. Buku ini sangat sederhana tetapi sangat kaya bibliografi kuno. Dulunya aku mau membandingkan manusia ideal versi Islam dan Barat, tapi tidak kesampaian karena kecapekan dan kemiskinan.

etos kerja

Etos Kerja Dalam Alquran [Progres, Yogyakarta, 1997]. Buku ketiga yang kutulis ini merupakan versi lengkap skripsiku waktu sarjana. Aku menulis tentang Nurcholish Madjid dan pandangannya tentang etos kerja. Karena waktu ujian mendapat nilai 100/A maka dengan senang hati diterbitkan oleh penerbit di Yogyakarta. Hipotesanya waktu itu adalah, kaum muslim terbelakang karena etos kerjanya lemah. Dan, kelemahan itu dikarenakan “kesalahan membaca” sumber-sumbernya. Lumayan laris bukunya walau ketika kubaca ulang sekarang jadi malu karena kurang banyak analisa dan bibliografinya. Nanti jika ada waktu, aku akan menuliskan ulang buku ini agar menjadi buku rujukan tentang “desain etos kerja dalam membangun bangsa.”

Demistifikasi Alquran

Demistifikasi Alquran [Reportoar, Salatiga, 1999]. Buku ini merupakan pertanggungjawaban dan pendalaman atas tesisku di buku Etos Kerja Dalam Alquran. Proses mistifikasi dalam kitab suci adalah penyakit bawaan kaum muslim ketika membaca Alquran. Karena itu, demistifikasi adalah usaha merasionalisasi cara baca secara lebih progres. Langkah pertama dalam merasionalisasi Alquran adalah percaya bahwa Alquran adalah kitab politik. Yang kedua adalah Alquran bersifat keduniawian dan profan. Yang ketiga adalah meletakkan Alquran sebagai “salah satu saja” sumber kehidupan.

membuka-langit

Membuka Langit [Intimedia, Bekasi, 2002]. Buku ini paling ringan di mataku. Berisi kumpulan doa-doa yang sangat masyhur di kalangan ummat. Ditulis dan dicetak poket untuk memenuhi permintaan pasar. Kebetulan ibuku adalah dai yang sangat aktif di kampung. Jamaahnya banyak dan sering meminta doa padaku jika kebetulan aku kebagian yang ceramah. Dengan alasan itulah buku ini kutuliskan buat umat agar mereka mudah mengakses doa-doa mustajabah. Akhirnya, aku pilihkan doa-doa mustajabah yang dikenal dalam tradisi Islam agar mereka bisa membaca dan menghapalnya sendiri. Sejak buku ini dibaca umat di kampung, gelarku bertambah menjadi kyai muda. Buku ini menegaskan diriku sebagai bagian integral dari dunia santri yang peduli dengan intelektualitas.

bahasa-politik-alquran

Bahasa Politik Alquran [GugusPress, Bekasi, 2002]. Merupakan pembukuan dari tesis yang kutulis guna mendapatkan gelar master. Tetapi, dengan buku ini, sesungguhnya aku sudah merasa mulai menjadi ilmuwan yang punya ciri khas. Ilmu itu adalah bahasa politik yang nanti kukembangkan sampai mendapat dan menemukan ilmu psiko-hermeneutik. Dari buku inilah tonggak ilmuku ditancapkan dengan serius. Berisi hipotesa bahwa kitab suci Alquran adalah produk manusia yang bersifat ilahiah, dijilid sebagai produk pasca nabi yang dipakai oleh penguasa sebagai basis dukungan kekuasaannya. Tentu buku ini menyulut kontrofersi yang panjang, tetapi aku bisa melewatinya dengan tenang.

Post Islam

Islam Liberal [GugusPress, Bekasi, 2002]. Merupakan hasil riset tentang perkembangan sosial Islam. Berusaha meruntuhkan tesis trikotomi Geerts, buku ini kemudian kugunakan secara lebih luas dalam kajian-kajian lanjutan di kampus-kampus. Isi utamanya berusaha menghadirkan ayat-ayat yang bergerak untuk kita teliti, ikuti, dialogkan, bahkan caci bersama. Buku ini juga merupakan kajian kritis terhadap buku Islam Liberal yang sedang hangat dibicarakan oleh beberapa akademisi. Hipotesanya adalah, harus ada Islam Baru yang lebih menghargai lokalitas jika umat mau ikut meraskan dan melahap modernitas.

Haji Mistik

Haji Mistik [Intimedia, Bekasi, 2002]. Buku ini merupakan refleksi kritis terhadap pelaksanaan haji yang sedang terjadi, baik dari teks maupun konteks. Haji, adalah peristiwa dunia Islam yang unik dan dahsyat. Diikuti oleh banyak sekali manusia, haji menjadi upacara kolosal yang sering disalahartikan oleh banyak orang, termasuk oleh umat Islam sendiri. Banyak umat Islam yang menjadikan haji sebagai ”pencuci dosa” yang fun. Mereka bertamasya sambil merasa mendapat ampunan Tuhan. Para koruptor, pendosa dan penjahat banyak yang menjadikan tanah Makkah sebagai pelarian ketika mereka bermasalah di asal negaranya. Di samping mencari gelar hajji/hajjah, mereka kemudian mengkomoditaskan hajinya sebagai jalan mendapatkan kepentingan-kepentingan pribadinya. Haji mengalami sakralisasi dan mistifikasi yang luar biasa sampai mempu membuat seseorang merasa sudah mendapat ampunan Tuhan. Kita, umat Islam banyak yang lupa bahwa aspek terbesar hajji adalah bisnis dan perjalanan spiritual. Bisnis Nabi Muhammad dalam rangka membuat devisa besar demi negaranya saat itu sampai hari ini.

demi islam demi indonesia

Demi Islam Demi Indonesia [Nalar, Jakarta, 2003]. Buku ini merupakan nadzarku tentang saling terkaitnya ummat dan Indonesia. Hipotesanya jelas: memajukan Indonesia harus mulai dengan memajukan Islam. Karena itu, buku ini menelusuri sejarah umat Islam Indonesia, peninggalan, pikiran dan tingkah laku mereka. Bagaimana mereka mengidentifikasi dan meletakkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Keterkaitan Islam dan Ummat memang merupakan kajian yang seksi. Buku ini menjelaskan bahwa, pada awalnya, firman Tuhan diajarkan dan disebarkan kepada manusia lewat [fungsi-tugas] nabi dan rasul. Selanjutnya, firman Tuhan terus diajarkan lewat tradisi masyarakat dan institusi sosialnya sehingga lahirlah ketuhanan-keagamaan masyarakat. Rasa ketuhanan-keagamaan itu sendiri berkembang melalui tiga fase. Pertama, fase dongeng [monolog]. Pada fase ini, Tuhan hadir tak lebih berupa kabar lisan dari orang tua atau nenek moyang. Tuhan adalah warisan vertikal yang kehadirannya dihadirkan-disampaikan secara lisan melalui cerita-dongeng-mitos kepada kita dan dalam bentuk permisalan-permisalan. Pada masa anak-anak, Tuhan dihadirkan secara take for granted sehingga tidak ada dialog, usulan maupun kritik; Tuhan ada, titik. Kedua, fase realistik [dialog]. Pada fase ini Tuhan sudah dapat dipahami lewat dialog-dialog cerdas karena banyaknya sumber pengetahuan untuk mengetahui diriNya. Tuhan bisa diketahui lewat banyak cara dan banyak pintu; nalar, akal, rasa, cita karsa bahkan berita. Tuhan menjadi “sebuah informasi” dan harta waris yang vertikal sekaligus horisontal sifatnya [dari mana-mana]. Ketiga, fase individualistik [renungan diri]. Pada fase ini Tuhan hadir dan dihadirkan secara private oleh individu ketika individu tersebut mencoba memilih dan menggambarkan Tuhan sesuai degan hasrat dan nalarnya. Karena itulah tulis Karen Armstrong [2003:13], pada fase ini jika gagasan tentang Tuhan tidak memiliki keluwesan yang individual, niscaya Dia tidak akan mampu bertahan untuk menjadi gagasan besar umat manusia dan dirinya. Karena itu, setiap generasi harus menciptakan citra Tuhan yang sesuai dengan nalarnya, sesuai dengan zamannya.

melawan-dengan-teks

Melawan Dengan Teks [Resist, Yogyakarta, 2005]. Buku ini ditulis atas proyek riset terhadap hadirnya fundamentalisme sebagai bagian dari anak kandung globalisasi. Karena itu, buku ini membahas secara geneologis radikalisme, fundamentalisme dan terorisme sebagai bahasa politik Amerika ketika menipologikan gerakan Islam melawan globalisasi dan neoliberalisme. Hipotesanya, tak ada radikalisasi agama tanpa teks yang simplistis. Radikalisasi agama selalu lebih langgeng dari gerakan radikal atas basis apapun: suku dan ras. Itulah mengapa, gerakan revolusioner sering mengalami kegagalan jika tidak menjadikan agama sebagai basis perlawanannya. Hipotesaku jelas bahwa sesungguhnya, sejak lahir semua agama membawa pesan yang mirip secara seimbang; ketuhanan [tauhid], kemanusiaan dan lingkungan. Sayangnya, dimensi ketuhanan seringkali menjadi dimensi yang paling besar. Padahal jika mengacu pada ayat-ayat Alquran, dimensi kemanusiaan dan lingkungan jauh lebih banyak jumlahnya. Sebab, 2/3 ayat Alquran berisi dimensi kemanusiaan dan lingkungan. Sebagai bukti, mari kita lihat pendapat Alquran tentang orang yang mendustakan agama. Pada surat Alma’un/107: 1-7 mereka yang disebut pendusta agama bukanlah yang mengingkari Tuhan semata melainkan orang yang; 1)Menghardik anak yatim, 2)Tidak memberi makan orang miskin, 3)Bersikap sombong, 4)Tidak mau berzakat. Tentu saja kajian dan sikap tauhid itu penting. Tetapi tauhid yang hanya menghasilkan kesalihan ritual [vertikal] tanpa kesalehan sosial [horisontal] hanya akan membuat agama cacat secara konsepsi. Dan, jika ini dibiarkan, kita akan mendapatkan “prestasi buruk dalam beragama” yang berdampak pada prestasi buruk dalam berbangsa dan bernegara. Hari ini kita sedang menyaksikan prestasi-prestasi buruk dalam keagamaan, kenegaraan dan kebangsaan yang menghasilkan tujuh dosa sosial-politik: 1)agama tanpa subtansi [iklan], 2)kekayaan tanpa kerja keras [korupsi], 3)perdagangan tanpa moralitas [kolusi], 4)kekuasaan tanpa nurani [nepotisme], 5)pendidikan tanpa karakter [instan], 6)tekhnologi tanpa humanitas [dehumanisasi], 7)peribadatan tanpa pengorbanan [ritual]. Hari ini, situasi demikianlah yang sedang terjadi.

manuver-politik-ulama

Manuver Politik Ulama [Jalasutra, Bandung, 2006]. Buku ini kutulis bersama Komaruddin Hidayat sebagai sketsa ulama dalam politik dan pemilu 2004. Karenanya, buku ini memotret sekaligus menggambarkan posisi ulama dalam percaturan politik 2004 yang berakhir tragis: kalah mengenaskan. Sebenarnya, buku ini hendak memberikan peringatan pada ulama tentang jebakan-jebakan politik yang terkadang tak mudah disadarinya. Tetapi, jangkauan buku memang tak panjang. Nilai jualnya juga tak banyak, sehingga ia hanya dibaca oleh sedikit orang. Maka, ketika kekalahan menjelang, politik Islam tak kunjung belajar. Saatnya kita kaum beragama bergerak lebih cepat bukan sekedar menjalankan ritual, bukan sekedar jadi pengikut nabi tetapi merealitaskan pesan dasarnya di lapangan. Mari jadi penerjemah “iman” dan pelaksana “agama subtansi.” Sebab, Indonesia lebih membutuhkan perealisasian subtansi iman dari sekedar iklanisasi agama.

memaafkan-islam

Memaafkan Islam [KalamNusantara, Jakarta, 2005]. Buku ini merupakan kelanjutan buku Manuver Politik Ulama. Kutulis sebagai eksplorasiku terhadap kekalahan-kekalahan politik Islam di panggung kekuasaan Indonesia. Dimulai dengan pertanyaan Islam dan Indonesia macam apakah yang ada dalam imaji kaum muda? Tentu saja, Islam dan Indonesia adalah dua subyek yang berbeda walau bertaut satu sama lainnya. keduanya adalah warisan dan “pilihan” dari sekian warisan dan pilihan yang hadir dalam mengejawantah di kehidupan kita. Dengan pisau analisa psiko-hermeneutik dan aktif-historis [sejarah aktif], buku ini akan memaparkan sekaligus mendeskonstruksi secara berurut tema-tema agama dan kebenaran, Islam dan globalisasi, rekonstruksi fundamentalisme, dekonstruksi politik Islam dan liberalisme versus literalisme. Lima tema yang kutulis dengan berurut agar memudahkan pembacaan dan analisa. Karenanya, buku ini direkomendasikan untuk semua kalangan. Dalam buku ini ditulis bahwa subtansi agama sesungguhnya adalah bertuhan. Selainnya hanya “pinggiran.” Tuhan yang bagaimana? Penulis menafsirkannya dengan Tuhan yang adil dan menyejahterakan. Adil agar kita tetap sadar ada “Tuhan” atau kekuatan maha dahsyat di luar kita. Sejahtera agar kita tetap sadar ada “Manusia” atau saudara kita yang nasibnya beragam; miskin, budak dan kalah. Kepada yang miskin, budak dan kalah itulah kita bersama menyelesaikan kekurangsempurnaan hidup dengan keadilan agar lahir sorga sesungguhnya di dunia.

terorisme

Terorisme di Tengah Arus Globalisasi [Spektrum, Jakarta, 2005]. Aku menjadi kontributor utama dalam buku ini. Buku ini merupakan kumpulan tulisan para pemikir muda tentang ”bagaimana peran negara mengatasi terorisme yang mulai menggejala.” Sebuah buku yang berangkat dari pertanyaan: Siapa yang harus bertanggungjawab bila kemiskinan, pengangguran, kekerasan, KKN dan terorisme terus saja menjadi realitas di antara kita? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Tetapi jika dilakukan dengan pendekatan sosiologi politik dalam kerangka hipotesa agensi [pelaku], kita akan menemukan beberapa jawaban yang beragam. Salah satunya dari pakar politik struktural. Jika pertanyaan itu diajukan ke pakar politik struktural seperti Thomas Hobbes [1588-1679] pastilah jawabannnya adalah negara kuat [strong state]. Menurutnya, kehadiran negara tak pelak wajib karena dua hal. Pertama, menata masyarakat berdasarkan prinsip normatif seperti agama dan moralitas tidak mungkin. Thomas Hobbes berpendapat bahwa prinsip-prinsip itu hanyalah kedok-kedok emosi dan nafsu-nafsu hewani yang paling rendah. Kedua, masyarakat bisa mewujudkan perdamaian apabila mampu mengenyahkan nafsu-nafsu yang rendah. Dus, damai bisa diciptakan bila manusia terbebas dari hawa nafsunya. Dan, damai adalah nafsu yang terkendali. Sayangnya, negara kita lemah dan kalah. Teror berulang dan menciderai rasa keadilan dan kemanusiaan.

melampaui-islam

Melampaui Islam [KalamNusantara, Jakarta, 2006]. Adalah sisi pendalaman dari buku sebelumnya yaitu Memaafkan Islam. Isinya merupakan ajakan kita untuk memandang secara kritis untuk tidak menjadi terlalu tunduk pada agama dan negara dengan membabi buta. Kita harus berani melampaui keduanya demi peradaban yang lebih manusiawi. Kita harus berani mengatakan dan bersikap kritis pada keduanya demi kemanusiaan yang tak kunjung membaik. Terlebih, agama dengan berbagai pendekatannya memiliki banyak dimensi. Ada yang terlihat, ada yang tersembunyi. Ada yang simbolik ada yang subtansial. Tetapi harus diakui, agama [Islam] pada akhirnya memang banyak usul dan mengatur. “Usul” tentang model masyarakat [ukhuwah basyariah], sikap masyarakat [tangawun], model individu [insan kamil], sikap individu [qanaah] dan lainnya. “Mengatur” bisa dipahami dengan bagaimana Alquran sebagai kitab rujukannya berisi “perintah dan larangan.” Misalnya, perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat. Tetapi, di luar itu semua, kita harus menyadari bahwa agama adalah rekayasa manusia yang disambungkan ke Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Agama tidak jatuh dari langit atau awan. Manusia membuatnya sebagai catatan sejarah dari hiruk-pikuk zaman agar dapat dijadikan kaca benggala, cermin dan sumber diri. Karena itu kehadirannya selalu membawa klaim kebenaran yang pada akhirnya menghadirkan penerjemah, editorial, dan revisi [tafsir menafsir] yang tak terhitung. Kita dan sejarah agama tidak pernah punya versi yang pasti dari dirinya sendiri karena ia memang dituliskan oleh pengikutnya ataupun peneliti yang tertarik dengan dirinya. Karena itu—secara psikologis—dalam hati orang beragama akan hadir banyak klaim kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat. Pertama, setiap agama mengaku bertuhan dan berasal dariNya. Kedua, mempunyai rasul dan kitab suci. Dalam Islam ditandai dengan persaksian bahwa Allah adalah tuhannya dan Muhammad adalah nabinya. Kemudian dirukunkan menjadi rukun Islam yang berjumlah lima; syahadat, salat, zakat, puasa, haji dan rukun iman yang berjumlah enam; iman pada Allah, Malaikat, Nabi, Alquran, Kiamat, Qada/Takdir. Ketiga, menjadi umat pilihan Tuhan. Keempat, jaya di dunia, selamat di akhirat. Semua klaim kebenaran ini akan menggiring penganut agama kepada peta-teritorial “siapa yang selamat [dalam jalan yang diridaiNya] dan siapa yang tidak selamat [dalam jalan yang dimurkaiNya] menurut agamanya [QS. al-Fatihah/1:7].”

gerakan-aktifis-muda

Gerakan Aktifis Muda [KalamNusantara, Jakarta, 2007]. Pada akhir 2008 aku mulai merambah tulisan dengan tema ekonomi-politik. Dasar-dasar ilmu politik sudah aku dapatkan ketika sekolah sarjana dan pasca sarjana. Lalu tema ekonomi aku dapat lewat serangkaian kursus dan teks reading di beberapa LSM dan kampus-kampus di dalam maupun di luar negeri. Diawali dengan kolom-kolom di Koran Kontan dan Bisnis Indonesia, pikiran-pikiranku tentang eko-politik tersemai dengan luas. Yaitu sebuah buku yang merupakan kritik terhadap sejarah politik negeri ini di mana kaum muda adalah jalan keluarnya. Buku yang mengajak rakyat Indonesia menerapkan hidup 3M: merdeka, mandiri dan modern. Sebuah buku yang bukan saja mengajak kita semua, terutama reformis sejati untuk bersatu, tetapi juga membaca dan mencari solusi agar masa depan reformasi tidak mati muda. Dan, agar pesan perubahan tidak dimanfaatkan oleh para ekonom-politisi busuk serta tidak mengulang perubahan-perubahan dan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh para pendahulu. Buku yang hanya merekomendasikan revolusi sebagai cara memerdekakan rakyat dari kolonial lokal.

membunuh-lapindo

Membunuh Sumur Lapindo [GMLL, 2008]. Buku yang mengungkap tragedi Lapindo sebagai kesalahan manusia yang dapat dikategorikan pelanggaran HAM berat. Sebab, tragedi Sumur Lapindo, menurut beberapa ahli, merupakan ulah kesengajaan manusia demi keinginannya menguasai SDA di Sidoarjo Jatim. Buku ini sempat ramai dibicarakan orang karena mengevaluasi kekuasaan firaun SBY dan para mentrinya dalam mengelola negara dan SDA. Ditulis oleh sejumlah ahli geologi dan perminyakan, buku ini menjadi bunga rampai yang sangat solid kevalidan dan argumen-argumen yang diajukan. Dalam buku ini, aku hanya menjadi kontributor utama yang menulis dari sudut pandang ilmu politik dan kebijakan pemerintah.

lapindo

Lapindo Hancurkan Martabat Bangsa [KalamNusantara&GMLL, 2009]. Aku menjadi kontributor utama dalam buku ini. Karena itu, bentuk buku ini merupakan bunga rampai kelanjutan buku Membunuh Sumur Lapindo. Buku ini merupakan hasil riset dari pakar lokal dan dunia tentang tragedi Lapindo. Isinya hanya menegaskan kembali bahwa tragedi Lapindo bukan karena alam raya, tetapi merupakan buah tangan dari keteledoran dan kesengajaan pemiliknya [Bakrie] dalam mengelola sumber-sumber minyak di Jawa Timur.

merebut-mimpi-bangsa1

Merebut Mimpi Bangsa [KalamNusantara, Jakarta, 2008]. Buku yang diluncurkan oleh Menkes Siti Fadilah [2004-2009] saat aku ulang tahun sehingga merasa lumayan senang. Buku pertama yang kutulis selepas dari kajian Islam ternyata mendapat sambutan hangat. Dengan buku ini, aku keliling Indonesia untuk yang kesekian kali. Padahal, buku ini hanya rangkuman dari riset kami yang serius di Republik Yang Menunggu. Jadi, buku aslinya nanti kurasa akan lebih dahsyat dan menjadi buku induk bagi kajian eko-politik Indonesia di masa depan. Buku ini juga menjelaskan secara lebih detil gagasan dan road map ekonomi kaum muda yang berisi: ekonomi pemerataan yang mengharuskan gerakan untuk 1)nasionalisasi asset strategis sebagai basis kemerdekaan, 2)SDA untuk rakyat sebagai basis kemandirian bangsa, dan 3)proteksi produksi dalam negeri sebagai basis negara modern, serta 4)hapus hutang lama dan tolak hutang baru sebagai landasan hidup berbangsa di ranah global. Tetapi, semua harus dilakukan oleh anak-anak muda yang crank dan mencintai ketaklaziman: intelekual, spiritual dan kaum miskin.

republik-yang-menunggu

Republik Yang Menunggu [KalamNusantara, Jakarta 2009]. Adalah buku yang sangat serius menulis kritik luas pada pemerintahan SBY-JK. Buku ini meriset tentang praktek ekonomi Pancasila dan ekonomi liberal yang bertempur di Indonesia. Karena itu, buku ini merekomendasikan eko-politik Pancasila sebagai “solusi” konstitusional atas kemacetan dan kecemasan banyak orang atas berjalannya eko-politik kita yang makin liberal. Ekonomi yang bertentangan dengan harkat martabat rakyat kita. Sebuah buku yang berisi analisis serius dan mendalam serta cerminan kegelisahan penulis yang mendambakan berlakunya sistem eko-politik Indonesia yang berpihak pada rakyat, yang pada akhirnya akan tercapai keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita tahu, dalam sejarah kehadirannya, negara kita memang seperti mahluk bernyawa sejuta. Ia mati dan hidup kembali berulangkali dalam bentuk serupa tapi tak sama. Ia dirindukan sekaligus dicaci. Ia dicintai sekaligus dibenci. Karena itu sejatinya, sejarah rakyat bernegara adalah sejarah tentang perjalanan konstruksi ideologis yang enigmatis dan genap; antara yang empiris dan yang imajinatif. Konstruksi empiris dapat berupa perjuangan kemerdekaan, kesejahteraan dan keadilan. Dalam Declaration of Independence USA [1776], disebut menjadi life, liberty and the pursuit of happiness. Karena itu, sejarah perjuangan kemerdekaan selalu merupakan hal-hal empirik berkenaan dengan kebutuhan riil rakyat.

psiko-hermeneutik

Psiko-Hermeneutik Kitab Suci [KalamNusantara, Jakarta, 2009]. Puncak intelektual Islamku mungkin ada pada buku yang kutulis bersama istri tercinta ini. Buku ini merupakan riset mutakhir tentang situasi Islam dalam arena global yang makin “kalah” dan menerima nasib. Buku ini dulu kuangankan akan menjadi induk bagi kajian psiko-hermeneutik yang memang belum jadi fokus kajian utama di kampus-kampus. Aku sempat bermimpi, buku ini akan menjadi buku wajib bagi para pengkaji teks agama dan menjadi referensi utama para pengkaji kitab suci agama-agama di dunia. Sampai saat ini mimpiku belum pupus. Apalagi beberapa skripsi dan tesis dari beberapa mahasiswa sudah menulis pikiran-pikiranku. Nantilah jika kampus Nusantara sudah berdiri, ilmu ini akan kami jadikan mata kuliah tersendiri. Episode intelektual Islam yang kualami jelas karena pengaruh Nurcholish. Sampai titik ini, aku berhipotesa bahwa: untuk merubah bangsa Indonesia menjadi lebih baik adalah dengan merubah umat Islam. Sebab, umat Islam terbesar jumlahnya. Jadi, kalau yang besar dapat dicerahkan maka diharapkan republik ini segera berubah menjadi lebih baik. Tetapi makin lama, tema itu menjemukan dan tak terbukti di lapangan. Aku ingat ketika triple A berkuasa: Amin Rais ketua MPR, Abdurrahman Wahid jadi Presiden dan Akbar Tanjung jadi ketua DPR ternyata umat Islam tak juga membaik nasibnya, apalagi Indonesia. Panjang lebar kutulis di koran-koran dan kubuat riset yang dibukukan dalam buku Manuver Politik Ulama menjadi jelas bahwa pendekatan ilmu dan nasib Islam bukan solusi. Terlebih partai-partai berasas Islam sesungguhnya bukan partai alternatif. Mereka hanya mabuk kekuasaan dan kepuasan pribadi. Tak lebih dari “penjahat” berbaju agama.

crankC

rank: 13 Kisah Pahlawan Di Atas Bendera Revolusi [KalamNusantara, Jakarta, 2009]. Merupakan buku bunga rampai yang ditulis oleh semua peneliti di Nusantara Centre. Buku yang menghadirkan banyak pembelajaran karena merupakan riset geneologis terhadap 13 Pahlawan Nasional yang tidak banyak dikenal publik. Mereka adalah: Mansoer Fakih kita akan belajar menjadi crank karena pilihannya sebagai intelektual organik. Dari Dipa Nusantara Aidit, kita akan belajar membentuk politik ideologis, sesuatu yang hilang dari partai-partai kita di masa reformasi. Dari Ahmad Wahib, kita akan belajar beragama dengan lebih plural dan banyak bertanya bukan banyak berkelahi. Dari Pramoedya Ananta Toer, kita akan belajar menggambar republik secara lebih detail agar anak cucu kelak tak bingung memilih: mana yang harus diteladani. Dari Ali Sadikin, kita akan belajar ketegasan memimpin dan cinta pada program panjang, sesuatu yang absen dari pemimpin-pemimpin kita yang terpilih dengan demokrasi liberal. Dari Romo Mangunwijaya, kita belajar kesederhanaan dan kemanusiaan yang akhir-akhir ini mulai hilang karena berganti wajah dengan teror dan intimidasi plus tipu muslihat yang dahsyatnya luar biasa. Dari Wiji Thukul, kita belajar etos kerja yang tak habis dan cita-cita ”perlawanan” agar hidup tak berkalang tanah. Dari Hariman Siregar, kita akan belajar perimbangan kekuasaan dan semangat kritis yang terus menerus: bahwa konsensus politik tidak harus selalu dari dalam parlemen. Dari Wardah Hafidz, kita akan belajar kesetaraan gender dan kerja yang tak dibatasi oleh sekat-sekat primordialisme serta pemihakan pada mereka yang terpinggirkan oleh pembangunan. Dari Soe Hok Gie, kita akan belajar untuk berkata ”tidak” pada penguasa zalim dan pongah. Dari Kahar Muzakkar, kita belajar loyalitas dan ide federalisme atau otonomi daerah sebagai solusi luasnya teritori negeri ini. Dari Cut Nyak Dhien, kita akan belajar kesetaraan yang harus selalu diperjuangkan. Setara adalah kata kunci sebagai pengantin adil. Kesetaraan dan keadilan adalah ”visi” kemanusiaan yang sering hilang di rimba republik sehingga menjadi keharusan kita menjunjungnya sebagai norma bersama. Sedang dari Tan Malaka, kita akan belajar konsistensi dan strategi perjuangan yang panjang. Cita-citanya begitu mulia dan dengan segenap hati diperjuangkan dengan darah dan air mata. Waktunya dihabiskan buat menulis dan menggalang massa, pikirannya digerakkan untuk menggambar Indonesia. Saat ditulis, sebelas tokoh kita sudah tiada, dua lainnya [Hariman Siregar dan Wardah Hafidz] masih terbuka bertemu dengan rakyat Indonesia. Sebelas tokoh sudah memberi teladan dan warisan yang dapat menjadi amalnya di alam sana. Yang dua masih tetap berjuang menemukan ”negerinya” agar lebih sejahtera. Selebihnya, akan banyak inspirasi dari mereka buat kita. Singkatnya, inilah buku yang dimaksudkan sebagai cara berkisah tetang orang-orang yang memilih melawan pada kolonialisme lokal agar medeka. Buku yang mengisahkan bahwa kemerdekaan memang harus ditebus dengan darah dan penjara. Kisah yang segera kami sebarkan agar virus-virus kejuangan zaman mengizinkan kita merdeka. Sebab, kini kami makin yakin, saatnya mengangkat senjata. Melawan dan menundukkan kolonialisme lokal yang jauh lebih jahat pada anak negeri. Saatnya berontak merebut kuasa demi keadilan, kesejahteraan dan kemartabatan. Wahai rakyat yang pingin merdeka, mari angkat senjata. Senjata apa saja: pacul, parang, pena, dengkul, doa ataupun air mata untuk melawan para penjajah. Jangan takut dipenjara, sebab Indonesia selama masih dipimpin “penjajah lokal” adalah juga penjara besar yang tak lebih baik dari penjara kecil. Bersama kami, mari melawan dan tundukkan mereka yang menipu kalian. Kepada mereka dan para pembaca, buku ini diperuntukkan. Kepada generasi muda yang mau menjadi ”penyelamat bangsa,” buku ini wajib dibaca dan dipraktekkan misinya.

ekopol-pancasila

Ekonomi-Politik Pancasila: Jejak Perlawanan Ekonom-Politik Konstitusi Melawan Neoliberal [KalamNusantara, Jakarta, 2009]. Aku menjadi kontributor utama dalam buku ini. Buku yang menulis bahwa munculnya wacana ekonomi kerakyatan, ekonomi konstitusi ataupun ekonomi Pancasila pada Pemilu 2009 merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Salah satu yang melatarbelakanginya adalah situasi krisis ekonomi yang sedang kita hadapi saat ini. Di mana penerapan agenda-agenda ekonomi kapitalisme neoliberal dianggap sebagai penyebab terjadinya krisis ekonomi yang sangat dalam di berbagai negara termasuk Indonesia. Di saat bersamaan, opini dunia sedang mengarah pada upaya koreksi terhadap tatanan ekonomi-politik dunia yang didominasi oleh kekuatan pasar. Kekuatan yang sangat tidak adil dan melahirkan ketimpangan. Sebagai sebuah gagasan, ekonomi kerakyatan identik dengan keberpihakan terhadap rakyat kecil, walau sepenuhnya tidak menjelaskan pengertian yang sesungguhnya. Secara historis, gagasan ekonomi kerakyatan pada mulanya dibangun dari kesadaran untuk memperbaiki kondisi ekonomi rakyat yang terkucilkan di bawah kolonialisme. Perjuangan untuk memperbaiki kondisi ekonomi rakyat harus terus dilanjutkan dengan mengubah struktur ekonomi Indonesia dari sebuah perekonomian yang berwatak kolonial menjadi sebuah perekonomian berwatak nasional.

buku-pemikir-agama

Agama Adalah Penyakit: 19 Geneologi Pikiran Para Pencinta Tuhan Penjaga Agama [KalamNusantara, Jakarta, 2009]. Buku ini kutulis berdua dengan kolegaku, Prastiyo. Berisi tentang studi geneologi pemikir-pemikir kajian Islam dunia. Tulisan dimulai dengan menggali kembali gagasan-gagasan Nurcolish Madjid sebagai peletak dasar Neo-Modernisme Islam di Indonesia. Lalu dikuti dengan tilikan terhadap tesis Karen Armstrong tentang fundamentalisme agama. Berikutnya tokoh Albert Hourani yang menjadi sejarawan ensiklopedis agama-agama Ibrahimian. Dilengkapi oleh riset Philip K. Hitti yang menggambar sejarah Bangsa Arab dengan sangat monumental. Kemudian kita akan berselancar melihat madzab Wilfred Cantwell Smith dalam kajian sosiologi agama yang dilanjutkan dengan pikiran-pikiran Kuntowijoya yang melahirkan sosial profetik serta Edward W. Said tentang gagasan-gagasan semiotik dan orientalisme. Agar tak kering, buku ini juga akan mengungkap gagasan-gagasan Fritjchof Schoun, sang nabi penemu filsafar perennial yang dijuluki one level under all prophetic. Dalam barisan ilmuwan ini dilengkapi pikiran dan karya-karya dari Fritjof Capra, Huston Smith, Mircea Eliade, Rudolf Otto. Juga ada riset terhadap novel-novel spiritualis Paulo Coelho yang melahirkan “madzab pauloisme.” Berikutnya pikiran dan karya Gilles Kepel yang menembus barat dan timur. Lalu, tokoh kontroversial Bernard Lewis yang sangat “nyinyir” pada Islam juga akan diungkap. Dalam kajian hermeneutik, riset ini akan mencoba menelusuri pikiran Maxime Rodinson dan Montgomery W. Watt serta Fazlur Rahman yang sangat dahsyat. Terakhir juga dibahas karya-karya psikologi agama William James. Seorang tokoh yang menjadi salah satu rujukan utama psikologi agama karena kemampuannya meriset “kehidupan eksperimen agamawan-agamawan” yang sangat simpatik. Singkatnya, buku ini adalah cara kami dalam mencintai dan merayakan keberagamaan yang pluralis tanpa batas, tanpa saling curiga dan menyalahkan. Sambil berTuhan [beragama], mari membuka diri dengan banyak gagasan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: