Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Todung Sutan Gunung Mulia


Permulaan abad ke-20 merupakan awal abad yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Sebab, pada abad inilah tersemai bibit-bibit kesadaran kolektif untuk membebaskan bangsa dari kolonialisme. Abad ini juga merupakan awal munculnya banyak pemikir, pembaharu dan tokoh revolusi Indonesia. Mereka muncul di tengah kebutuhan dan keterdesakan zaman. Banyak pembaharu tersebut yang berasal dari berbagai macam latar belakang pendidikan dan kesukuan. Selain itu, banyak pula bermunculan organisasi-organisasi massa yang terbentuk untuk mewadahi proses kebangkitan para pembaharu tersebut. Dari sinilah kemudian muncul berbagai macam tokoh yang pada masa selanjutnya membawa pengaruh yang luar biasa bagi kebangkitan Indonesia.

Di antara para tokoh-tokoh tersebut adalah Prof. Dr. Todung Gelar Sutan Gunung Mulia Harahap. Ia akrab disapa dengan sebutan Mulia. Ia dilahirkan di sebuah kota kecil, di Padang Sidempuan, Sumatera Utara pada 21 Januari 1896. Mulia adalah keturunan bangsawan Batak yang beragama Kristen. Apabila dirunut dari silsilah keturunan, Mulia masih punya darah saudara dengan Amir Syarifuddin Harahap, yang kelak menjadi Perdana Menteri Indonesia (3 Juli 1947-29 Januari 1948). Amir sendiri merupakan keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas, yakni Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949). Pada tahun 1926, Mulia dan Amir sama-sama belajar di Universitas Leiden, Belanda.

Sebagaimana kita pahami, masa-masa kecil, remaja, dewasa dan hingga usia muda, Mulia hidup di dalam nuansa penjajahan Belanda. Terutama mulai periode 1830 sampai 1900, Belanda telah benar-benar menguasai seluruh daerah jajahannya. Tidak hanya meliputi Jawa saja, tetapi juga di Sumatera, tempat di mana Mulia lahir dan dibesarkan. Di Padang Sidempuan, saat itu kolonial Belanda menerapkan adu domba sebagai jurus politik untuk memecah belah dan membuat stratifikasi masyarakat menurut agama.
Mulia kecil, yang nota bene berasal dari keluarga Kristen, hidup di antara tantangan tersebut. Ia hidup dalam komunitas Kristen yang mengakar kuat. Masyarakat pada umumnya juga dikekang pelbagai peraturan kolonial Belanda yang begitu membelenggu. Sementara di sisi lain, keluarga Mulia mempunyai kerabat keturunan marga Harahap, yang nota bene banyak menganut agama Islam. Sebagai contoh, Amir Syarifuddin Harahap, adalah keponakannya. Amir berlatar belakang keluarga Muslim. Karena kebijakan kolonial Belanda yang mengekang itu, hubungan Mulia dan keluarga Amir sempat tersendat.

Namun, Mulia tetaplah seorang anak yang ingin berkembang sesuai nalurinya. Ia bergaul dengan teman sebaya sebagaimana anak-anak pada umumnya. Tapi, karena bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School), ia banyak bercengkerama dengan sinyo-noni Belanda. Selain mempelajari mata pengetahuan umum, lingkungan tempat di mana Mulia tumbuh dan bersekolah telah mendorongnya untuk mempelajari agama di Gereja dengan lebih tekun. Selain itu, didukung pula oleh didikan Ayah dan Ibunya yang memang terkenal sebagai orang yang disiplin beragama. Di sekolahnya, Mulia tergolong anak yang pandai, terutama dalam berbahasa Belanda.

Pendidikan dan Aktifitas

Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan di Tanah Air, Mulia kemudian hijrah ke Belanda. Kemahiran Mulia dalam berbahasa Belanda menjadi bekal penting untuk masuk ke Universitas Leiden, Belanda. Di Universitas ini, Mulia mengambil jurusan hukum. Entah apa pertimbangannya mengambil jurusan ini. Padahal, sewaktu remaja ia berkeinginan menjadi guru. Di Belanda, ia banyak bertemu aktifis-aktifis Kristen. Dari pergulatan pemikiran di kampus serta pergaulannya dengan teman-temannya itu, Mulia mulai menemukan jati dirinya. Baik itu berupa jati diri pribadi, maupun jati diri kebangsaannya.

Waktu terus berlalu, Mulia terus bergulat dengan kesibukannya sebagai mahasiswa. Selain itu, ia juga bergelut dengan dunia aktifis gereja. Sebab, selain menghabiskan waktunya di kampus, ia juga kerap melakukan pertemuan-pertemuan dengan para aktifis Kristen di Belanda. Berkat pergumulannya tersebut, Gerry van Klinden menyebutnya sebagai orang yang progresif. Dengan satir pula, Van Klinden menulis bahwa Mulia dapat bersekolah di Belanda berkat dukungan para “misionaris” Kristen. Salah seorang sahabat dan “gurunya” adalah Hendrik Kraemer. Ia adalah seorang misiolog, teolog awam, dan tokoh ekumenis Hervormd, Belanda. Di Universtitas Leiden, Mulia dan Hendrik banyak berdiskusi tentang masa depan gerakan Kristen. Pada tahun 1930an, Hendrik dan Mulia bersama-sama terlibat dalam perjuangan mendirikan gereja-gereja Kristen di pelbagai daerah di Nusantara.

Setelah menyelesaikan studi hukumnya di Universitas Leiden, tahun 1919 Mulia kembali ke kampung halamannya. Ia kemudian menjadi guru. Setahun kemudian, Mulia diangkat menjadi kepala sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Selain sebagai pendidik, Mulia juga mulai membangun jaringan dengan para aktifis gereja di wilayah Sumatera. Berkat pengalaman yang ia timba dari Belanda dan dukungan jaringan yang meluas, secara perlahan, orang menaruh simpati akan kecerdasan dan keuletannya dalam memperjuangkan dunia pendidikan. Ia pun kemudian ditokohkan.

Pada periode 1920an ini, Mulia sudah terlibat dalam pergerakan nasional. Ia menjadi aktifis Jong Sumatranen Bond (JSB). JSB pada mulanya didirikan pada 9 Desember 1917 dengan tujuan untuk mempersatukan apa yang disebut Nasion Sumatera. Organisasi ini awalnya didominasi oleh kaum Muslim yang berasal dari Minangkabau. Mohammad Jamin, Mohammad Hatta, Tengku Mansoer adalah tokoh-tokoh utama JSB. Dalam perkembangannya, JSB kemudian menjadi organisasi yang semakin membesar, meliputi seluruh wilayah Sumatera. Mendengar ada sebuah organisasi pribumi, Mulia beserta rekan-rekannya dari Batak kemudian bergabung. Ia bersama Sanusi Pane dan Amir Syarifuddin, keponakannya itu, mulai terjun menjadi aktifis JSB.

Namun, perkembangan JSB pada kurun waktu 1922-1925 mengalami kemunduran yang cukup berarti. Hanya segelintir tokoh yang masih aktif di JSB, misalnya Bahder Djohan, yang berkeinginan menghidupkan kembali roh dan jasad JSB (Van Miert: 2003). Di sisi lain, terjadi ketidakpuasan yang meluas, khususnya di kalangan suku Batak. Dimotori oleh Sanusi Pane, kalangan Batak kemudian merintis organisasi Jong Batak. Dalam hal ini, Mulia kemudian bergabung dengan Jong Batak dan pada tahun 1922 ia mewakili suku Batak menjadi anggota Volksraad. Mulia menjadi anggota Volksraad dalam masa sidang 1922-1927 dan 1935-1942. Selain menjadi anggota Volksraad, Mulia tetap aktif di CSP. Tahun itu pula, ia menerbitkan sebuah majalah mingguan, Zaman Baroe (New Era). Sebuah media untuk menampung gagasan dan pemikiran kalangan Kristen pada saat itu.

Pengalaman masa-masa perjuangan kemerdekaan menjadi narasi penting dalam kehidupan Todung Sutan Gunung Mulia. Ia terlibat aktif dalam sejumlah organisasi politik dan pendidikan, serta menjadi anggota Volksraad. Dalam rentang waktu yang panjang menuju kemerdekaan itu, Mulia juga dikenal sebagai aktifis gereja. Puncaknya, pada tahun 1928 Mulia pernah mengikuti Konperensi Pengkabaran Injil Sedunia di Jerusalem. Di Konperensi itu, ia bertemu dengan Hendrik Kraemer, yang merupakan sahabat dan “gurunya” ketika belajar di Universitas Leiden.

Usai mengikuti Konperensi itu, banyak ide dan gagasan yang berkecamuk di hati dan kepala Mulia. Dapat ditebak, ia mempunyai keinginan untuk memperluas jaringan pendidikan (Kristen), memperbanyak dan menerjemahkan Alkitab, serta mendirikan organisasi politik (resmi) untuk menampung suara kaum Kristen. Keinginannya tersebut tercapai satu tahun kemudian, yakni dengan mendirikan partai politik Kristen (1929). Nama partai tersebut adalah CEP (Christelijk Etische Partij) yang merupakan partai politik Kristen pertama di Indonesia. CEP kemudian diganti menjadi CSP (Christelijk Staatkundige Partij). Pandangan politik CEP saat itu adalah mendukung gagasan perwalian, yakni bahwa hubungan kolonial adalah kehendak Tuhan dalam sejarah yang memberi kewajiban kepada Negeri Belanda untuk membimbing rakyat pribumi menuju kemandirian tanah jajahan yang tetap terikat dengan Negeri Belanda.
Jalan politik pro-kolonial itu tidak memuaskan kalangan progresif Kristen Indonesia, termasuk Mulia, karena mereka mendukung perjuangan kemerdekaan. Karena itu, kalangan “Kristen pribumi” dalam CSP memisahkan diri. Sumbangan positif partai Kristen yang didominasi orang Belanda ini adalah sekadar tempat latihan berpolitik, sebagaimana juga Volksraad bagi banyak politisi Indonesia dari golongan co-operatie (yang bekerjasama dengan pemerintah kolonial dalam memperjuangkan masa depan Indonesia).
Selain mendirikan partai politik, Mulia dan Kraemer bersama-sama menerjemahkan Alkitab dan menyebarluaskannya ke wilayah-wilayah di Hindia, misalnya di Bali, Nusa Tenggara dan Jawa Timur.

Pada rentang waktu berikutnya, pada Oktober 1932, pemuda Kristen Batak mengadakan konfrensi yang bertempat di Padalarang. Konfrensi ini menghasilkan wadah bagi pemuda-pemuda Batak yang dinamakan NKB (Naposobulung Kristen Batak). Tujuan NKB itu sendiri adalah untuk menuntun para pemuda Kristen Batak dalam kehidupan Kristiani. Mulia mempunyai peran penting dalam perjalanan NKB, hingga terbentuknya jemaat HKBP Bandung. Tentang aktifitasnya itu, Gerry van Klinken (2003: 238) menyebut Mulia sebagai salah satu pemimpin muda baru yang independen. Mulia menjadi bagian dari dunia pergerakan kebangsaan seiring dengan pertumbuhan organisasi-organisasi politik di Hindia. Dan, melalui hal ini, misi politik yang dilakukan Mulia secara umum telah diakui dan diterima. Maka, tak disangsikan lagi, Mulia telah menjadi tokoh nasional, yang kiprahnya mulai diperhitungkan.

Aktifitas Mulia di dunia pendidikan dan politik terus berlanjut hingga terbitnya fajar kemerdekaan. Ketika Indonesia memulai babak baru kehidupan berbangsa dan bernegara, Mulia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga memainkan peran penting pada masa awal kemerdekaan.

Menjadi Menteri

Keterlibatan Mulia dalam dunia politik terus berlanjut. Pada 18 November 1945, Mulia dan rekan-rekannya mendirikan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Sejarah pendirian Parkindo sendiri berawal dari serentetan pertemuan yang diadakan oleh para tokoh Kristen (Protestan dan Katolik) di Jakarta untuk menggumuli pembentukan sebuah partai bagi seluruh umat Kristen Indonesia. Tanggal 9 November 1945 bertempat di gedung Gereja Pasundan, Jl.Kramat Raya No.45, para tokoh Protestan dan Katolik kembali mengadakan pertemuan. Dari pihak Protestan hadir: Domine (Ds) Probowinoto, DR. Mr. Sutan Gunung Mulia, Ir. Fredrick Laoh, DR. Ir. W.Z. Johanes, J.K. Panggabean, Soedarsono, Maryoto dan Martinus Abednego. Dari pihak Katolik hadir Soeradi dan Hadi. Pertemuan dipimpin oleh Ds. Probowinoto. Ketika peserta pertemuan sepakat membentuk sebuah Partai Kristen, utusan Katolik mengundurkan diri dengan alasan akan membicarakannya dahulu dengan Pimpinan Gereja Katolik.

Akhirnya pertemuan malam itu sepakat membentuk sebuah partai untuk umat Kristen Protestan dengan nama Partai Kristen Nasional. Nama itu diusulkan oleh Sutan Gunung Mulia. Peserta pertemuan secara aklamasi memilih DR. Ir. W.Z. Johanes sebagai Ketua dan Maryoto sebagai Sekretaris. Tanggal 10 November 1945, para tokoh Kristen Protestan itu mendeklarasikan berdirinya Partai Kristen Nasional (Parkindo).

Empat hari setelah pendirian Parkindo, tepatnya 14 November 1945, Mulia ditunjuk oleh Presiden Sukarno menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Ki Hajar Dewantara. Mulai saat itulah, Mulia bergelut membangun dunia pendidikan kita yang kacau balau sejak pemerintahan Hindia Belanda hingga Jepang.

Sejak menjajah Indonesia, kebijakan pendidikan Jepang, sesuai dengan Osamu Sirei No. 1 dan Maklumat-maklumat tentang sistem persekolahan, penyelenggaraan pendidikan ditujukan untuk menghilangkan pengaruh Belanda dan menanamkan indoktrinasi Niponisasi, memperkuat kepentingan perang Jepang, serta meluluskan tenaga kepegawaian untuk pengelolaan pemerintahan. Paradigma pendidikan tersebut tentu tidak jauh berbeda dengan paradigma pendidikan pemerintahan Hindia Belanda. Sejak Politik Etis Belanda diterapkan tahun 1901, memang Belanda memberi ruang yang cukup lebar bagi perluasan kesempatan pendidikan. Namun, lagi-lagi, hal tersebut ditujukan untuk mencetak tenaga pemerintahan (amtenar) untuk kepentingan pihak penjajah.

Berdasarkan pada pengalaman-pengalaman itu dan didukung oleh rasa kebangsaan yang menguat, tentu saja periode revolusi Indonesia juga dimanfaatkan untuk merevolusi paradigma pendidikan. Yakni dari paradigma “bangsa lain” menjadi paradigma kebangsaan Indonesia. Akan tetapi, mewujudkan hal ini tentu saja memerlukan waktu yang tidak sedikit. Sebab, di sisi lain saat itu juga disibukkan dengan penataan infrastruktur pendidikan serta memperluas akses pendidikan untuk semua kalangan masyarakat.

Ketika Mulia menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia melakukan pelbagai hal antara lain: pertama, meneruskan kebijakan menteri sebelumnya yakni mengubah kurikulum pendidikan yang berwawasan kebangsaan. Kedua, memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan, antara lain membangun kembali sekolah dan menambah jumlah tenaga pengajar. Ketiga, memperluas lembaga-lembaga pendidikan, yakni tidak hanya terfokus pada lembaga pendidikan umum, tetapi juga pendidikan yang berlatar belakang agama. Misalnya, pendidikan Kristen, NU (pesantren), dan Muhammadiyah. Keempat, point ketiga tersebut kemudian direvisi seiring dengan Penetapan Pemerintah 1945 No. 3/S.D yang ditandatangani Menteri Sekretaris Negara A.G. Pringgodigdo, yang menyatakan bahwa Urusan Agama, yang bagian dari Departemen Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan, masuk Departemen Dalam Negeri.

Mulia menjabat sebagai menteri cukup singkat, yakni dari 14 November 1945 sampai 2 Oktober 1946. Rentang waktu satu tahun, tentu saja merupakan waktu yang singkat untuk menerjemahkan pemikiran dan gagasan Mulia ke dalam kebijakan-kebijakan pendidikan sesuai dengan pengalaman dan harapan masyarakat banyak. Namun, patut dicatat sejak menjabat menjadi menteri, Mulia memiliki akses yang cukup luas untuk menghidupkan pendidikan-pendidikan, terutama yang berorientasi dan berlatar belakang agama (Kristen). Pengalaman akan hal tersebut tentu sangat menguntungkannya. Sebab, di kemudian hari setelah purna jabatan, Mulia dan rekan-rekannya dalam komunitas Kristen mulai membangun jaringan pendidikan Kristen yang diakui sangat kuat dan berkualitas hingga saat ini.

Berkarir dalam Pendidikan

Mulia memang seorang aktifis pendidikan. Kendati sudah purna jabatan menjadi Menteri Pendidikan, ia tetap fokus bekerja untuk membangun dunia pendidikan kita. Berturut-turut, karir kependidikan Mulia dapat diikuti sebagai berikut. Pada tahun 1951, Mulia menjadi Guru Besar Universitas Darurat Indonesia dan Universitas Indonesia. Kemudian pada tahun 1950, ia menjadi pendiri dan ketua pertama Dewan Gereja-Gereja Indonesia (1950-1960). Pada tahun itu pula, Mulia bersama Mr. Yap Thiam Hien, Benjamin Thomas Philip Sigar, mendirikan sebuah universitas, yang dikenal sebagai Universitas Kristen Indonesia.
Selanjutnya, pada tahun 1955, Mulia terpilih menjadi Pemimpin Redaksi Ensiklopedia Indonesia bersama Profesor K.A.H. Hidding. Ensiklopedia tiga volume ini diterbitkan W. Van Hoeve Bandung pada 1955. Inilah ensiklopedia pertama yang menggunakan bahasa Indonesia. Ensiklopedia ini muncul di tengah hiruk-pikuknya pemilihan umum 1955. Dalam pendahuluannya, Mulia menekankan pentingnya pengetahuan bagi bangsa yang baru lahir. Saat itu Indonesia baru sepuluh tahun menyatakan kemerdekaannya. “… tak disangkal lagi, bahwa kini sangat dibutuhkan suatu ensiklopedia jang semata-mata ditudjukan kepada kepentingan Indonesia….”

Mulia menyusun ensiklopedia ini dengan menggunakan ejaan Suwandi, yang berlaku mulai 1947. Adapun untuk istilah, ia berpedoman pada Komisi Istilah. Dia juga menelusuri istilah dari majalah Medan Bahasa, Bahasa dan Budaja, Kamus Umum, Pembina Bahasa Indonesia, hingga Kitab Logat Melajoe. Dalam kata pengantarnya, Mulia menyebut telah mengundang sejumlah ahli dari berbagai disiplin ilmu, meski tidak disebutkan satu per satu. Hanya tema mengenai agama Islam yang tegas disebut berada di bawah pengawasan Mohammad Natsir.

Pada 20 Oktober 1966, Vrije Universiteit di Amsterdam menganugerahi Doktor Honoris Causa dalam ilmu theologia. Pada 11 November tahun yang sama, ia wafat di kota tersebut. Jenazah diterbangkan ke Tanah Air dan dikebumikan di Jakarta. Sampai akhir hayatnya, Mulia adalah ketua Badan Pengurus Sekolah Tinggi Theologi di Jakarta. Buku karangannya yang berjudul India, memuat sejarah politik dan pergerakan kebangsaan India (Balai Pustaka, 1959).

Sepak terjang Mulia semasa hidup akan dikenang oleh sejarah. Ia adalah seorang aktifis yang gigih, agamawan, dan pecinta masa depan. Toko Buku Gunung Mulia, Universitas Kristen Indonesia (UKI), Sekolah Tinggi Theologi Jakarta, serta sejumlah lembaga keagamaan (Kristen) adalah warisan berharga yang ditinggalkannya. Dalam memoarnya, Alfred Simanjuntak, pencipta lagu Bangun Pemudi Pemuda menyatakan kekagumannya pada Mulia. Rasa hormat Alfred terhadap Mulia bukan semata melihat keturunan dan aktivitas politiknya. “Perhatiannya terhadap pendidikan dan agama sungguh luar biasa,” ujarnya. “Dialah orang Batak yang paling terhormat.”

Sayangnya, generasi sekarang kurang begitu mengenal nama Mulia. Bahkan, di kalangan internalnya sendiri (Kristen) namanya tak setenar YB. Mangun Wijaya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: