Adie Prasetyo

Because History Must be Written

Wiranto Arismunandar


Wiranto Arismunandar berasal dari keluarga yang ”sadar pendidikan.” Orang tuanya memperhatikan betul pendidikan anak-anaknya. Mulai dari memilih sekolah yang tepat bagi buah hatinya, sampai pada jurusan apa yang harus diambil demi masa depan anak-anaknya. Pada saatnya nanti, apa yang dilakukan orang tua Wiranto tersebut memang terbukti berhasil.

Itulah secercah kesan bila membaca sejarah keluarga Wiranto. Dilahirkan di Semarang pada 19 November 1933, Wiranto mempunyai lima suadara. Ayahnya bernama R. Arismunandar, dan ibunya Sri Wurjan. Sejak kecil, semua anak-anaknya memang dididik keras dan disiplin, terutama oleh sang Ayah. Kakaknya bernama Artono Arismunandar, seorang teknisi elektro lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia pernah menjabat sebagai Irjen Listri dan Energi Baru, Departemen Pertambangan dan Energi, serta penah mengajar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI). Sedangkan kedua adik laki-lakinya bernama Budiono Arismunandar dan Wismoyo Arismunandar. Budiono, yang pernah bercita-cita menjadi penerbang dianjurkan oleh Ayahnya untuk belajar di akademi perkebunan. Garis hidupnya memang bagus, Budiono pernah menjabat sebagai Komisaris PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Jawa Timur, PTPN Jawa Tengah dan PTPN I Langsa, Aceh.

Berbeda dengan saudara-saudara Wiranto yang lain, Wismoyo diperbolehkan oleh Ayahnya untuk masuk ke Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang. Puncak karir Wismoyo adalah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) di zaman Orde Baru. Sedangkan dua adik perempuannya, yakni Titi Rarasati dan Retnowati diminta belajar di Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM) dan kemudian menjadi guru SMU Negeri untuk mata pelajaran fisika dan matematika. Dari pengakuan Wiranto, pilihan-pilihan pendidikan yang ditetapkan oleh Ayahnya tersebut, dikarenakan sang Ayah merasa sangat mengetahui apa yang terbaik bagi masa depan putra-putrinya.

Karir dan Pendidikan
Wiranto memulai pendidikannya dengan bersekolah di Sekolah Rendah di Jawa Timur. Sekolah menengah pertama dan menengah atasnya juga diselesaikan di Jawa Timur. Prestasi pendidikannya sangat membanggakan. Oleh sebab itu, Ayahnya meminta Wiranto untuk melanjutkan ke Universitas Indonesia. Ketika itu, ITB masih merupakan bagian dari Universitas Indonesia. Oleh Ayahnya, Wiranto diminta mengambil jurusan teknik mesin.

Ketika menjadi mahasiswa ITB, selama satu semester Wiranto tinggal di Jl. Pajajaran No. 6A, yakni rumah ibu dari Prof. Anton Mulyono. Setelah itu, ia kemudian tinggal di Asrama Mahasiswa jalan Ganesa 15B. Di asrama, ia tinggal serumah dengan A. Sadali (almarhum), Mathias Aroef, Samaun Samadikun, A. Nu’man, Suwarso, Sunardi (almarhum), Tjokorda Raka, Tungi Ariwibowo (almarhum), J.C. Kana, Mulhim, Fauzi S, Rochadji Gapar, Jasjfi, Soebhakto, Geert Pandegirot (almarhum), dan teman-teman lainnya. Wiranto merasakan kehidupan di asrama mengasyikkan. Ia merasa beruntung dapat berkenalan dan menjalin pertemanan dengan orang yang berasal dari berbagai penjuru Tanah Air, berbagai ragam budaya, dan kehidupan bertoleransi. Ia mengaku senang mempunyai banyak teman. Sebab, pertemanan merupakan bekal paling utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Persoalan karir, ia tidak pernah berpikir untuk menjadi dosen. Ia percaya Tuhan memberikan yang terbaik bagi masa depannya. Karena prestasinya, Wiranto lulus ujian sarjana teknik mesin pada 10 Februari 1959. Nah, beberapa hari setelah ia lulus, Prof. Dr. Ing. K.W. Vohdin, yang saat itu menjadi Ketua Bagian Mesin mengajaknya untuk berdiskusi. Di akhir pembicaraan, Profesor itu menawarkan beasiswa belajar ke luar negeri untuk Wiranto. Sebuah tawaran yang tak pernah ia duga, tetapi seketika itu Wiranto menyatakan kesediaannya, dengan syarat sepulang dari luar negeri harus menjadi dosen. Wiranto, yang baru sekitar dua bulan menikah dengan Sekarningrum Wirakusumah, berangkat ke Amerika Serikat pada bulan Agustus 1959 untuk belajar di Purdue University.

Sepulang dari Amerika, Wiranto menepati janjinya untuk menjadi dosen di almamaternya. Tak lama berselang, ia berniat melanjutkan studi pasca sarjananya. Keinginan tersebut terwujud pada tahun 1961 untuk belajar di Universitas Stanford, Amerika Serikat, di bidang Penelitian Fakultas Teknik Mesin. Dua tahun menyelesaikan studinya tersebut, Wiranto kembali ke Tanah Air untuk kembali mengabdikan ilmunya di almamaternya, ITB. Karir pendidikannya berlanjut dengan mengikuti pelatihan Tenaga Pendorong Pesawat Roket di Jepang pada tahun 1965. Karena prestasi dan latar belakang pengalaman pendidikannya, tahun 1973 ia ditetapkan sebagai Guru Besar Termodinamika di ITB. Kemudian, secara berturut-turut, tahun 1978-1989 Wiranto menjadi Wakil Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), tahun 1988-1997 menjadi Rektor di ITB, sejak 1989 menjadi ilmuan senior Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan sejak 1989 menjadi penasihat ahli PT. Dirgantara Indonesia.

Ilmuan dan Kebijakannya
Melengkapi penelusuran tentang Wiranto Arismunandar, ada baiknya kita buka lembar-lembar catatan hidup ketika ia menjabat sebagai Rektor ITB (1988-1997). Penelusuran ini berguna untuk mengetahui apa kontribusi Wiranto bagi dunia pendidikan, khususnya di ITB, serta bagaimana tindak tanduk kebijakannya.

Melihat latar belakang Wiranto sebagai seorang ilmuan teknik (teknisi) kita dapat menebak bahwa konsentrasi ilmu yang dipelajari dan diterapkan adalah bidang teknik dan teknologi. Ia tidak hanya menerapkan ilmu yang sudah dipelajari, tetapi juga melakukan pengembangan-pengembangan teknologi sebagaimana tertulis dalam buku-bukunya. Buku Pengantar Turbin Gas dan Motor Propulsi, yang diterbitkan oleh ITB (2002) ditulis sebagai panduan bagaimana merawat turbin gas, baik untuk keperluan industri maupun sebagai penggerak kendaraan darat, kapal dan pesawat terbang. Ia juga menulis tentang Penggerak Mula Motor Bakar Torak (Penerbit ITB, 2002). Buku ini memuat pengetahuan tentang motor bakar torak yang sampai kini masih menempati posisi paling efisien dibandingkan jenis motor bakar lain. Memang, dalam perkembangnnya, motor bakar torak dipacu dan teruji oleh tantangan kemajuan teknologi dan tuntutan masyarakat yang semakin maju. Dalam buku ini Wiranto menggarisbawahi: ”Setelah dihadapkan pada masalah bahan bakar minyak, berbagai usaha ditempuh untuk menjadikannya tidak peka terhadap jenis dan kualitas bahan bakar. Maka, faktor pemacu utama di balik perkembangan berikutnya adalah ekologi bukan ekonomi.” Buku ini berguna sebagai pemandu penggunaan supercarjer, sistem penyemprotan bahan bakar pada motor Otto, dan lain-lain yang cukup memberikan gambaran tentang usaha meningkatkan prestasi dan mengurangi emisi gas buang.

Sedangkan buku-buku yang lain seperti Termodinamika Teknik; Beberapa Soal dan Penyelesaiannya (1989), Penggerak Mula Turbin (2002), dan Termodinamika Teknik: Tabel dan Grafik (2002) yang diterbitkan oleh ITB, menjadi diktat resmi dan panduan bagaimana merawat dan mengembangkan mesin. Umumnya, buku-buku ini ditulis berdasarkan pengalaman Wiranto ketika ia mengajar di Departemen Teknik ITB serta renungannya terhadap masa depan teknologi Indonesia.

Lalu, bagaimana kita membaca kebijakan Wiranto ketika menjadi Rektor ITB? Sebagai gambaran, kita dapat membuka mailling list ITB dengan alamat ITB@itb.ac.id yang, dalam dugaan penulis, disebarluaskan oleh para mahasiswa ITB. Tertanggal 6 April 1998 pukul 11.56.07, milist ITB dikejutkan berita dengan judul Kebijakan Represif Rektor ITB. Catatan Harian Mendikbud: Prof. Ir. Wiranto Arismunandar. Berikut cuplikan berita tersebut.

Kebijakan yang dilakukan medio 1989. Pertama, peristiwa 5 Agustus 1989 tentang aksi penolakan kehadiran Mendagri, Rudini di ITB, rektorat menindak 41 (empat puluh satu) mahasiswa: 9 (sembilan) mahasiswa kena DO, 30 (tiga puluh) mahasiswa diskorsing selama 1-4 semester, dan 4 (empat) mahasiswa mendapat peringatan keras. Kedua, peristiwa 3 November 1989 yakni demonstasi menuntut pencabutan SK DO atas peristiwa 5 Agustus. Dalam hal ini rektorat bertindak represif melakukan pemukulan terhadap mahasiswa oleh orang-orang yang tak dikenal yang dikerahkan rektorat. Ketiga, kasus pelarangan KPM yang dituduh sebagai motor aksi 5 Agustus yang berbuntut pelarangan KPM di lingkungan ITB. Keempat, terjadinya penutupan kampus selama 72 jam oleh rektorat pada bulan Desember 1989. Kelima, kasus penutupan Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OS KM) bagi mahasiswa angkatan 1988. Kegiatan ini dilarang karena ketuanya terlibat peristiwa 5 Agustus, dan rektorat tidak mengijinkan pelaksanaan OS KM. Keenam, pelarangan ITB sebagai secretariat Badan Koordinasi Mahasiswa Bandung (BKMB). Ketujuh, penyegelan sekretariat Program Pengenalan Lingkungan Kampus (PPLK). Kedelapan, pencabutan status (DO) mahasiswa Geofisika yang diduga mencatat nomor mobil tugas Bakorstanasda. Kesembilan, pelarangan penggunaan sekretariat PPLK, Grup Apresiasi Sastra (GAS) dan lapangan basket.

Kebijakan tahun 1990. Pertama, rektorat melarang memperingati peristiwa 5 Agustus 1989 dan mengancam memberlakukan sanksi bagi yang melakukannya. Kedua, penutupan sepihak OS KM 1990 bagi mahasiswa angkatan 1989. Ketiga, skorsing 2 (dua) mahasiswa karena pelaksanaan Diklatsar Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) ‘GEA’ 1990 ada salah satu peserta yang masuk ke rumah sakit. Keempat, pelarangan foto berjilbab di kartu tanda mahasiswa. Kelima, rektorat menskorsing 2 (dua) mahasiswa karena terlibat perkelahian dalam pertandingan sepak bola liga ITB. Sementara pada tahun 1991, terjadi dua kebijakan yang merugikan mahasiswa. Pertama, rektorat menskorsing 1 (satu) mahasiswa karena tidak ijin menggunakan lapangan sepak bola dan fasilitas listrik. Kedua, rektorat melarang berdirinya organisasi Unit Aktifitas Aufklaurung.

Tahun 1992 merupakan tahun di mana terjadi banyak peristiwa mengejutkan karena berbagai pergesekan fisik antarorganisasi mahasiswa. Pertama, karena perkelahian dan penghinaan terhadap Resimen Mahasiswa (MENWA) rektorat menskorsing 2 (dua) mahasiswa selama 1 (satu) semester. Kedua, rektorat menskorsing 7 (tujuh) mahasiswa karena terlibat adu fisik antara panitia dan peserta Penerimaan Anggota Himpunan Mahasiswa Planologi. Ketiga, rektorat tidak mengijinkan acara Open Haouse Unit-Unit Aktifitas Mahasiswa ITB. Keempat, rektorat tidak mengijinkan berdirinya Unit Aktifitas Bantuan Teknologi ITB. Kelima, rektorat memberikan sanksi keada 4 (empat) mahasiswa yang berteriak saat ceramah P4. Keenam, rektorat mencabut Ad/ART Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA). Ketujuh, rektorat menerbitkan buku Peraturan-Peraturan ITB dalam 3 jilid yang mengatur semua aktifitas mahasiswa. Akan diberikan sanksi bagi yang melanggar peraturan ini. Kedelapan, penggusuran dan pelarangan penggunaan fasilitas ITB untuk Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT).

Kemudian pada tahun 1993-1994, terdapat dua kebijakan yang merugikan mahasiswa, yakni dilarangnya OS KM untuk angkatan 1993 dan 1992, serta melarang Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT) untuk mengadakan Masa Pembinan Bersama HMFT. Pada tahun 1995, terjadi protes kenaikan SPP oleh mahasiswa yang berbuntut pada peringatan keras terhadap 3 (tiga) mahasiswa dan orang tuanya.
Pada tahun 1996, terjadi pula beberapa kebijakan yang cenderung represif dan merugikan para dosen dan mahasiswa. Pertama, penghentian kontrak kerja 3 (tiga) asisten dosen secara sepihak karena ketiga asisten dosen tersebut hadir dalam Penerimaan Anggota Baru Ikatan Mahasiswa Arsitektur-Gunadarma ITB. Kedua, rektorat mengeluarkan kebijakan DO terhadap 2 (dua) mahasiswa karena dipicu oleh meninggalnya seorang mahasiswa ITB yang dikaitkan dengan pelaksanaan Pembinaan Angkatan Muda Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI). Ketiga, rektorat melarang terbitnya bulletin Ganesha karena dinilai melanggar kode kehormatan dan peraturan dalam terbitannya edisi khusus April, yang menyebut kata Saudara untuk Pembantu Rektor II ITB, Dr. Ir. Indra Djatu Sidi. Keempat, rektorat memaksa kepada 22 (dua puluh dua) Himpunan Mahasiswa ITB untuk mengubah AD/ARTnya.

Karir menteri yang sesaat
Bersamaan dengan maraknya aksi unjuk rasa mahasiswa pada bulan Maret 1998, tongkat kepemimpinan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan beralih dari Wardiman Djojonegoro ke Wiranto Arismunandar. Mungkin, hanya Wiranto yang tak gembira ketika ditelepon Presiden Soeharto untuk mengabarkan pengangkatannya menjadi menteri. Pasalnya, ketika telepon berdering pada Minggu, 8 Maret 1998, hujan yang lebat membuat suara penelepon tak jelas. Oleh Wiranto, telepon tak dijawab. Baru malamnya, ketika telepon berbunyi lagi, ia tahu bahwa Presidenlah yang meneleponnya.
Spekulasi pun bermunculan. Ada yang menganggap bahwa penunjukan Wiranto tersebut merupakan strategi untuk meredam gelombang aksi mahasiswa. Sebab, dari uraian di atas nampak jelas bahwa ketika menjabat sebagai Rektor ITB, Wiranto dikenal sebagai orang yang keras, tegas, dan tak segan-segan memberikan skorsing bagi mahasiswa yang bandel.

Acara serah terima jabatan dari Wardiman ke Wiranto tersebut berlangsung pada Rabu, 18 Maret 1998. Dengan suara tegas, ia menyampaikan pidato sambutan tanpa teks. Pokok-pokok pidatonya berisi tentang beberapa hal penting. Pertama, pentingnya menyukseskan program wajib belajar sembilan tahun. Kedua, upaya memajukan dunia riset dengan pengalokasian anggaran yang wajar. Ketiga, meneruskan program menteri sebelumnya, yakni program link and match. Program ini merupakan agenda untuk mengenalkan secara lebih dalam dunia pendidikan dan dunia kerja. Dimaksudkan agar selepas menyelesaikan pendidikan, seorang mahasiswa dapat beradaptasi secara baik dengan dunia lapangan pekerjaan.

Selama kurang lebih 60 hari menjabat sebagai menteri, tentu saja program dan gagasan Wiranto kurang berjalan optimal. Hal ini dapat dimengerti, sebab medio Maret-Mei 1998 merupakan periode yang sangat krusial dalam langgam politik-ekonomi Indonesia. Di satu sisi, Indonesia sedang dihadapkan pada krisis ekonomi yang luar biasa pengaruhnya terhadap segala sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Di sisi lainnya, gelombang demonstrasi mahasiswa untuk menuntut pergantian kekuasaan semakin intens dan menemukan titik kulminasinya pada pertengahan bulan Mei. Selama kurun waktu itu pula, sebagai menteri pendidikan, Wiranto disibukkan dengan pekerjaan untuk berkomunikasi dengan jajaran rektor dan pemimpin universitas di seluruh Indonesia. Boleh jadi, hal tersebut adalah perintah Presiden Suharto dalam rangka meredam demonstrasi mahasiswa yang marak di seluruh daerah.

Alhasil, sejarah mencatat tanggal 21 Mei 1998 Presiden Suharto resmi mengundurkan diri sebagai presiden. Keadaan semakin tidak menentu. Krisis tetap berlanjut, sementara pucuk pimpinan nasional diserahkan kepada Wakil Presiden, yakni Habibie. Dengan demikian, karir, gagasan, pemikiran dan cita-cita Wiranto untuk memajukan dunia pendidikan pun ikut tenggelam bersama riuh rendah Reformasi 1998.

Buah pikiran dan gagasan
Dari pengakuan Wiranto, tak pernah terlintas dalam hidupnya untuk berkarir menjadi menteri. Sebab, selama mengabdikan diri di almamaternya (ITB), ia ingin konsentrasi di bidang riset dan teknologi. Ketika pada periode kehidupan selanjutnya diangkat menjadi rektor ITB, ia pun tetap profesional pada bidangnya, yakni pendidikan dan teknologi. Ia juga tak mengerti apa motivasi pemerintah saat itu menunjuk dirinya untuk menggantikan Wardiman Djojonegoro. Ia justru berkilah bahwa saat itu posisinya sudah berada di pinggiran, mantan rektor. Dan, selama satu tahun sebelum pengangkatannya, ia berujar selama itu telah menjadi semacam ”preman.”

Kendati belum banyak hal yang ia lakukan ketika menjadi menteri, namun kita dapat belajar banyak hal dari tokoh satu ini. Mengenai gagasan dan pemikiran Wiranto terhadap dunia pendidikan, sesungguhnya dapat kita baca dari karirnya mulai menjadi dosen hingga rektor di ITB. Beberapa benang pemikiran yang dapat kita tangkap adalah sebagai berikut.

Pertama, perihal komunikasi dalam pendidikan. Komunikasi merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Bahkan, keberhasilan seseorang sangat tergantung dari kemampuan dan keterampilannya berkomunikasi. Dalam hal ini, Wiranto mendasarkan konsep ini pada pengalaman dan persepsinya tentang komunikasi dalam pendidikan dan pengajaran, khususnya selama di ITB.

Dalam konsep komunikasinya, Wiranto mendasarkan pada tiga hal utama untuk dilakukan selama berlangsungnya proses belajar mengajar. (1) Cita-cita dan motivasi. Maksudnya, selain materi kuliah, kepada mahasiswa hendaknya juga diberikan hal yang berkaitan dengan kehidupan, misalnya tentang ilmu dan seni kehidupan. Hal ini diperlukan untuk mengingatkan kepada para mahasiswa bahwa menjadi mahasiswa bukanlah tujuan, melainkan untuk mendapat bekal ilmu dan keterampilan bagi kehidupannya di masa depan. Karena itu, perlu diberikan dorongan agar setiap mahasiswa berusaha menemukan cita-citanya. (2) Kelas yang hidup dan bermutu. Dalam hal ini, tantangan bagi dosen adalah bagaimana dapat menjelaskan materi kuliah dengan baik, memberikan yang esensial dengan cara yang menarik, percaya diri, dan membangkitkan motivasi para mahasiswa. Komunikasi dan interaksi di dalam kelas dan di luar kelas sangat menentukan efektifitas dan mutu pendidikan. Dosen yang menjelaskan, mahasiswa yang bertanya; berbicara dan mendengarkan yang terjadi silih berganti, semuanya itu merupakan bagian dari pendidikan yang penting. Dan, (3) hubungan dosen dan mahasiswa yang harmonis. Pengertian dan sikap dosen-mahasiswa yang kooperatif sangat menentukan keberhasilan pendidikan.

Kedua, pentingnya matematika dan ilmu pengetahuan dasar. Penjelasannya, matematika memerlukan kreatifitas. Sebagai gambaran, teori kreatifitas dikembangkan oleh J.H. Pincare, seorang pakar matematika Perancis abad-19. Matematika tidak gersang, melainkan sarat dengan keragaman dan variasi serta menyenangkan. Matematika adalah ilmu buatan manusia, untuk memudahkan manusia mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Orang pun harus mengerti bahwa mereka yang menguasai matematika tidak gentar menghadapi perubahan. Mereka tidak akan mengalami kesulitan dalam mempelajari hal baru. Begitupula orang-orang yang menguasai ilmu pengetahuan dasar. Di masa depan, makin banyak kasus atau fenomena baru yang belum pernah ditemui sebelumnya. Dalam menghadapi hal tersebut, dengan penguasaan matematika dan ilmu-ilmu dasar, orang dapat memahami masalahnya dengan lebih mudah dan lebih jelas.

Ketiga, hands-on experience dan pengenalan dunia kerja. Masyarakat mendambakan lulusan universitas yang pandai, berpengetahuan dan kreatif tetapi juga terampil dan tidak canggung bekerja, ramah, terpercaya dan percaya diri. Dalam hal ini, pengenalan dunia kerja merupakan kebutuhan dan diusahakan dapat diberikan pada kesempatan pertama. Maksudnya agar para mahasiswa dapat memperoleh gambaran riil serta memahami apa yang diharapkan dari seorang insinyur atau sarjana. Dengan hands-on experience di laboratorium atau pun di tempat lain dapat diperoleh pemahaman dan rasa tentang mesin, mekanisme, alat, ukuran, berat, bentuk, kekerasan, kelonggaran, toleransi, dan lain sebagainya. Di samping itu juga tentang hubungan antara teori, gambar, dan wujud bendanya; tentang pemasangan, penyetelan, operasi, dan perawatan. Intinya, hands-on experience akan membangkitkan minat dan motivasi untuk mempelajari lebih lanjut, mengembangkan, dan merancang mesin dan perlengkapannya. Dalam hal tersebut terakhir, seorang yang berpengalaman dapat membayangkan produk yang dituju sehingga memudahkan pengembangan desain. Intuisinya lebih tajam sehingga dapat memperkirakan apa yang mungkin dan apa yang meragukan. Dengan demikian, seseorang yang berpengalaman akan lebih berani mengambil keputusan.

Keempat, hubungan dengan industri, pemerintah, dan masyarakat. Keakraban hubungan dengan industri, pemerintah dan masyarakat hendaknya dilanjutkan karena makin penting dan bermanfaat. Bukan sekadar untuk memahami aspirasi dan kebutuhan yang berkembang, tetapi supaya semua potensi yang ada dapat didayagunakan dengan baik. Hal tersebut akan memberikan pengalaman dan pelajaran yang bermanfaat bagi semua khususnya untuk memajukan dan meningkatkan mutu pendidikan.

Kelima, jiwa dan semangat kebangsaan. Dalam era globalisasi yang menuntut keterbukaan, hendaknya diingat bahwa keterikutan suatu bangsa dalam globalisasi sama sekali tidak berarti adanya keharusan untuk melepaskan rasa kebangsaannya. Semua warga negara hendaknya memiliki jati diri dan tidak begitu saja menuruti kehendak bangsa lain. Jiwa dan semangat kebangsaan makin penting dan harus ditanamkan kepada setiap masyarakat Indonesia secara berkelanjutan. Kepentingan dan jati diri bangsa tetap merupakan bagian kehidupan yang harus dibela dan dipertahankan.

Keenam, pentingnya membumikan universitas. Keinginan dan cita-cita menjadi World Class University (WCU) memang sangatlah mulia. Tetapi, hendaknya tidak membuat kita risau, panik, seolah-olah itu yang paling penting dan menjadi taruhan. Kita boleh risau jika universitas-universitas ternama di Indonesia (ITB-red) dianggap tidak diperlukan, tidak bermanfaat dan tidak mengabdi pada pembangunan bangsa Indonesia. Mereka yang membuat ranking WCU pasti memiliki maksud dan rencana tertentu serta tidak terlepas dari berbagai kepentingan, dan karena itu, tidak perlu dirisaukan. Bisnis, penerimaan mahasiswa baru, politik, sosial, ekonomi, dan berbagai kepentingan lain, boleh jadi merupakan beberapa di antara banyak alasan yang melandasi pemikiran tersebut.

Maka, hendaknya isu tersebut tidak membuat bangsa Indonesia, terutama pimpinan universitas menjadi cemas dan lemah, terperangkap dan terbelenggu. Universitas hendaknya terlebih dahulu berguna dan berjasa bagi pembangunan bangsa Indonesia dan ikut serta menyelesaikan masalah bangsa. Universitas hendaknya menjadikan dirinya andalan dan kekuatan bangsa yang harus mengatasi berbagai tantangan, supaya menjadi bangsa sejahtera, terhormat dan mandiri. Itulah sebabnya kita harus lebih bersungguh-sungguh dan fokus dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita masing-masing. Dengan demikian dapat diperoleh hasil yang lebih baik serta melakukan penyempurnaan dan perbaikan secara berkelanjutan (continuous improvement). Dalam hal tersebut hendaknya melekat rasa dan semangat kebangsaan yang tinggi supaya kita makin menyadari bahwa ada misi yang diemban, yaitu membangun bangsa yang kuat dan mandiri.

Demikianlah Wiranto Arismunandar. Pemikiran dan gagasannya luas dan teruji. Dengan kemampuan, pendidikan, pengalaman, gagasan, dan pendiriannya yang kuat, ia memang merupakan figur yang tepat untuk membenahi dunia pendidikan kita. Sungguh sayang, karirnya sebagai Menteri Pendidikan hanya 60 hari. Namun demikian, seluruh upaya untuk memajukan dunia pendidikan tetap ia jalankan, terutama di lingkungan ITB. (*)

Sumber:

1. Pidato Wiranto Arismunandar pada acara “Apresiasi dan Pengabdian Guru Besar dan Dosen Senior,” Departemen Teknik Mesin, Aula Timur ITB, 27 September 2003.
2. Mailing list ITB, dengan alamat www. ITB@itb.ac.id. Diunduh pada 21 April 2010.
3. Buletin Mahasiswa Ganesha No.11/Th.VI, Februari 1994.
4. Kompas, 9 Februari 1996 dan Suara Pembaruan,12 Februari 1996.
5. Tabloid Mahasiswa ITB ‘BOULEVARD’ No.24 Tahun III, Minggu III Maret 1996.
6. Pikiran Rakyat, 24 April 1996.
7. Pikiran Rakyat 11 Desember 1996.
8. Majalah D&R, 28 Maret 1998.
9.Diskusi Akbar Mendongkrak World Rank ITB, Bandung, 10 Mei 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: